Desain Rumah Tinggal, Eastwood – Citraland
Kategori : Rumah Tinggal
Lokasi : Eastwood – Citraland, Surabaya
Luas tanah : 240 m2
Architect : Aloysius Erwin S, ST, IAI
Co Drafter : Yulia R, ST, Dian N, ST
Constructor : Samudaya, ST
Rumah tinggal merupakan salah satu dari kebutuhan dasar manusia. Dalam perkembangan waktu, rumah tinggal tidak hanya sebuah shelter atau naungan saja. Rumah tinggal juga merupakan pribadi, karakter dan jiwa dari pemiliknya.
Apapun hasil desain dari seorang arsitek, apabila tidak sesuai dengan penghuninya maka desain tersebut tidaklah maksimal.
Sesuai dengan permintaan pemilik akan sebuah desain minimalis, maka desain awal diarahkan kepada topik tersebut.

Kondisi lahan eksisting
Satu hal yang ingin saya garis bawahi di sini. Tidak setiap pemilik (owner) mengerti benar mengenai konsep minimalis. Ini yang saya alami dan cukup membuat pusing kepala.
Pertama-tama mereka akan datang kepada kita setuju kepada konsep minimalis. Akan tetapi, kategori ” bagus – nice” mereka untuk sebuah minimalis ternyata hampir bertolak belakang dengan pandangan kita sebagai arsitek.
Yang saya baca adalah kategori “bagus – nice” pemilik masih cenderung mengacu kepada desain pada dekade 1980an-2000an. (hampir ke arah art-deco & mediteran classic serta etnic style). Mulai dari warna, ornamen hiasan, lampu gantung hingga kepada keramik lantai. Namun dia ingin bangunannya minimalis!


Desain awal dan pre-final (Tampak depan)
Coba perhatikan tampak depan untuk desain di atas, tentunya ada sedikit “mix and match”. Mixed style yang muncul sebagai upaya sinkronisasi dari konsep minimalis dengan “bagus – nice” menurut owner.
Memang tidak maksimal menurut saya. Namun bagi saya yang menarik, justru adalah proses negosiasi dengan pemilik rumah tersebut!
Selera “bagus – nice” adalah subyektif. Setelah desain awal (minimalis) diajukan, Pemilik mempunyai keinginan untuk melakukan penyesuaian, antara lain :
memasukkan roster keramik (dengan style lekuk-lekuknya),
ornamen batu paras lengkap dengan sulur gelungnya,
lampu gantung klasik, atap polycarbonat berbentuk lengkung pada teras belakang ( kontras dengan desain minimalis rumah tersebut yang dominan garis lurus.)
Taman style bali pada bagian belakang,
pemakaian warna-warna primer (seperti pada facade mall).
tipe lampu etnic pada bagian belakang.
Sebuah tantangan bagi arsitek….
Sebagai seorang arsitek saya mempunyai prinsip, bahwa si pemilik merupakan arsitek yang paling baik dan paling andal dalam melakukan desain. Si Pemilik dengan segala selera dan keinginannya berusaha menggunakan kita sebagai “bala bantuan” untuk mencapai hal tersebut. Pada akhirnya, pemilik itu sendiri yang akan menempati rumah tersebut… Bukan kita..
Dari sudut pandang lain, kita sebagai seorang designer, arsitek yang telah cukup lama “dicekoki” mengenai estetika, tentunya mempunyai sudut pandang tersendiri dalam mengolah sebuah rumah tinggal yang nyaman dan bagus.
Apabila dua sudut pandang di atas kita pertemukan, maka seringkali tidak bertemu / tidak sejalan. (Memang untuk mencapai sebuah desain final dua buah sudut pandang harus bisa melebur menjadi satu.)
Terkadang saya berpikir.. Apakah kita yang harus terus menerus menekankan “kriteria bagus” yang benar kepada owner? (Dikarenakan pengetahuan kita yang lebih luas akan estetika)
Ataukah……
Si pemilik ini yang kurang mempunyai taste estetika dan tugas kita untuk mengarahkannya?
Lha jika pemiliknya keras kepala? Kita bicara seperti apapun, dia mati-matian akan kembali kepada keinginannya.
Menurut saya, kondisi seperti di atas mengarahkan arsitek mau tidak mau, harus mempunyai kemampuan persuasif. Sehingga praktisi arsitek tidak hanya mempunyai ide saja. Mereka harus mampu “menjual” ide mereka. Mereka harus mampu melakukan “marketing” bagi desain mereka.
Memang saya sendiri tidak 100% puas dengan apa yang saya hasilkan.
Lho? Kok begitu?
Karena tidak memenuhi kriteria apa yang saya sebut “bagus” menurut saya. (Mungkin bila arsitek profesional melihat mereka juga berkata : Lho, kok begini..? Lho kok begitu..? Kami ini gimana sih? Ownernya tidak kamu arahkan..? Arah desain kamu kemana sih? atau : Gila! Seluruh style di dunia kamu masukkan disini…!).
Namun lucunya………, bagi si owner, nilai desain kita adalah 100!
Benar 100% dan tidak ada yang salah!

Progress Photo – hampir selesai namun belum di cat semua.

Tampak depan FINAL

Ornamen Batu Paras dalam façade minimalis

Lampu gantung klasik, lis gypsum klasik (banyak tekukan) dalam sebuah rumah minimalis.

Façade minimalis dalam warna – warna menyala

Taman Bali beserta air mancurnya

Pintu belakang beserta lampu 2 buah etnik-nya.

Roster Keramik vs Façade minimalis ?
Epilogue,
konsepsi win-win solution saya coba kemukakan di sini hanyalah sebuah wacana kecil yang tidak berarti. Saya berusaha memahami makna desain dari sudut pandang berbeda yang sebelumnya mungkin kurang tersentuh.
Tentunya dalam dunia desain yang tidak berujung, masih banyak hal-hal lain yang perlu kita pelajari bersama..
Salam.
Erwin
NOTE : Untuk Foto yang lebih banyak dapat dilihat pada link berikut ini : PHOTO SESSION










hebat pak, excellent, tapi ada ngga desain bagus untuk satu lantai
Halo Pak Bagus..
Maaf saya agar terlambat membalas…
lagi ke luar kota.. hehe..
Desain satu lantai memang agak berbeda dengan desain dua lantai. Apalagi menyangkut dengan tampak depan rumah.
Hal tersebut disebabkan oleh karena rumah dua lantai, lebih memiliki bidang untuk diolah (di desain).
rumah satu lantai memiliki relatif sedikit bidang untuk didesain.
Tetapi bukan berarti rumah satu lantai pasti jelek. Maksud saya bahwa rumah satu lantai memiliki “nilai bagus” tersendiri..
Nanti bila sempat saya postingkan lagi rumah satu lantai…
Salam
Salam kenal pak.
Saya tertarik dg desain rmh di citraland ini. Kebetulan saya ada rencana utk membangun rmh. Dimana saya bisa menghubungi bpk? Via email ato telp…karena posisi saya jarang di Surabaya. O iya, saya domisili di Sby. Tks.
Hallo Pak Erwin,
Ukuran bagus atau tidaknya suatu karya arsitektur itu kan tergantung siapa yang melihat dan yang berkepentingan. Contoh; anda tidak begitu sreg dengan desain anda, tapi… ada Pak Bagus dan Pak Adi yang justru senang dengan desain anda.
Jadi menurut saya, justru menghadapi klien yang memiliki 1001 macam keinginanlah yang menuntut arsitek “kreatif” dalam membaca, menterjemahkan dan selanjutnya memenuhi keinginan para klien kita. Tantangannya kan disitu Pak Erwin. Kalau kita mendesain sesuai dengan keinginan sendiri, semua orang juga bisa…
Setuju 100% dengan yang Pak Eko sampaikan. Saya menulis topik ini juga karena ingin menyampaikan pengalaman kepada rekan-rekan yang lain dalam menghadapi klien. Dimana dibutuhkan kepekaan dalam membaca keinginan klien dan kreatifitas untuk menggabungkannya.
Dengan demikian kawan-kawan yang lain tidak melakukan ‘re-inventing the wheel’, atau ‘mbabat alas’ seperti yang saya lakukan. Cukup saya saja yang ‘keblowok’/tersandung.
Mungkin begitu Pak Eko. Terima kasih sudah mampir.
salam archi!!!
SAYA liat ide kreatif bapak pada halaman depan. good luck
Selamat siang Pak Erwin,
Saya sedang merenovasi rumah tinggal saya dari satu lantai menjadi dua lantai. masalahnya saya agak sulit menentukan bentuk atau tampilan rumah bagian depan untuk lantai dua.
mohon bantuannya.
Terima kasih.
Salam hormat,
egi
Nice Website pak Erwin… Salam kenal…
Salam!
Bagus banget rumahnya…..
aku pingin bikin rumah kayak gitu…….
tapi, q gak jago itung-itungan.,……..