Architecture Career from a Scratch..

2008 Februari 17
by erwin4rch

Melihat judul di atas, tentunya mungkin sebagian dari anda akan heran. Mengapa saya membahas topik ini?

Saya memutuskan untuk memulai menulis seputar topik ini sejak saya merasakan sendiri dalam dunia kerja. Mengapa? Banyak dari kita yang bingung, arsitek sebagai sebuah jasa konsultasi, dengan background estetika serta sedikit teknis (saya mengatakan sedikit, padahal tidak juga..) mengalami kesulitan dalam eksistensi diri.

Berbeda dengan sebuah produk barang, dimana kemasannya bisa dipermanis, promosi dilakukan dengan gencar, iklan di mana-mana. Begitu sederhana.. it’s so simple.. (ini dari kacamata arsitek lho..)

Arsitek sebagai sebuah jasa yang tidak terlihat bentuknya cenderung di-salahpersepsikan oleh pengguna jasa sebagai : tukang gambar! Hal ini terlihat dari komentar dan pendapat mereka mengenai kita :

Lha, kalau cuma gambar begitu saja kan semua orang bisa ?

Cuma gambar beberapa lembar kok minta semahal itu ya? Mendingan saya langsung pakai kontraktor saja lebih irit.

Ini cuma gudang kok, ruangan kosong untuk supermarket. Kan gambarnya gampang? kok jadi mahal ya?

Selain hal-hal di atas, sering juga para arsitek diminta desain secara “gratis”:

Coba kamu desain dulu, bila cocok yah kita nego lah..

Lho kamu belum desain kok sudah mengajukan harga? Coba dulu lah ..

Hal-hal seperti di atas seringkali dialami oleh arsitek baik mereka yang baru lulus hingga pada arsitek profesional. Kira-kira apa yang menyebabkan hal-hal seperti itu terjadi ? Apabila bila saya coba kelompokkan faktor – faktor yang berpengaruh, dapat dijabarkan sebagai berikut :

  1. Nama terkenal (semakin terkenal brand namanya, nilai bargaining semakin kuat)
  2. Faktor EQ (Emotional Quotent). Arsitek yang mempunyai skill bagus dalam menjalin hubungan dengan calon klien cenderung lebih berhasil.
  3. Faktor masyarakat yang kurang ter-edukasi dengan baik
  4. Faktor bahwa jasa arsitek berupa ide, dan bukanlah berupa sebuah produk barang yang dapat dipegang. (Bayangkan anda keluar uang banyak, hanya untuk beberapa lembar kertas!) Hal ini menyebabkan nilai dari “ide” seolah-olah menguap dan tidak ada harganya.
  5. Arsitek lebih banyak pada market public building. Kompleksitas bangunan umum menyebabkan timbulnya kebutuhan akan arsitek. Sedangkan pada rumah tinggal terutama kelas menengah kebawah hampir tidak ada marketnya.
  6. Adanya kecenderungan pihak arsitek untuk menahan idenya (karena itu yang dijual), karena masih dalam tahap konsepsi dan belum deal. Hal ini menyebabkan output yang keluar tidak maksimal.
  7. Faktor relasi. Adanya hubungan dengan relasi tertentu dapat membantu perkembangan karir. Contoh : Seorang anak yang melanjutkan usaha ayahnya sebagai arsitek, seorang arsitek yang mempunyai teman di sebuah PT besar dsb.
Secara prinsip faktor-faktor di atas begitu dominan dalam dunia kerja saat ini, terutama di Kota Surabaya. Hal ini menyebabkan mereka yang baru merintis karier dari bawah (orang jawa bilang : mbabat alas…) cenderung kesulitan dalam beradaptasi. Tuntutan keadaan membuat mereka cenderung untuk membuang idealisme mereka demi sebuah desain. Desain kotak-kotak saja, gampang, dapat bayaran, sedikit tidak apa-apa, lalu secepatnya mencari lagi. Yang mencengangkan, hal ini ternyata juga dilakukan oleh mereka yang mempunyai dana lebih besar! Seperti layaknya pabrik, mereka melakukan mass-production. beberapa buah desain yang lumayan bagus akan dipakai berulangkali dengan beberapa penyetelan dan penyesuaian praktis sesuai dengan site/lokasi yang mereka terima. Habis desain, terima bayaran, lalu cari lagi proyek desain dengan skala besar, diulangi kembali proses tersebut. Persis seperti pabrik.
Secara waktu arah perkembangan arsitektur di Indonesia menunjukkan perkembangan yang bagus. Namun yang terpenting, setidaknya arsitek-arsitek muda harus bisa membaca fenomena yang terjadi di masyarakat tersebut. Eksistensi diri harus terus diperkuat mulai dari diri sendiri. Pengembangan diri mulai dari hal teknis hingga hal-hal non teknis sangat perlu.
Faktor teknis adalah skill. Seperti layaknya pelukis, seorang arsitek harus mempunyai style tersendiri. Bagi arsitek ini adalah keharusan. Tiap arsitek adalah unik. Kita dipakai karena keunikan kita. Skill juga mencakup pemahaman akan teknis struktur, ME. Bagaimana sambungan plat bondek dengan balok baja? Bagaimana sambungan kuda-kuda baja ringan dengan ring balk? Bagimana talang air hujan dalam sebuah atap ?Itu hanyalah sekelumit tentang hal-hal teknis yang harus kita pelajari, kita kembangkan.
Faktor non teknis adalah skill negosiasi – marketing. Seorang arsitek adalah negosiator ulung, public speaker dan yang terpenting, seorang arsitek harus dapat menjual idenya! Bayangkan bila anda mengajukan ide, lalu si pemilik bangunan tidak mau karena beliau mempunyai ide tersendiri (yang kebetulan dari sudut pandang arsitektur adalah tidak tepat). Proses bargaining ini terkadang berjalan seperti tawar-menawar barang di pasar. Sangat alot dan tidak to the point. Kekurangan skill pada negosiasi – marketing akan berdampak fatal dalam perkembangan kita.
Hal-hal yang saya bahas di atas hanyalah kulit luar dari permasalahan. Namun semuanya tetap kembali pada diri kita masing-masing.
Apakah kita mau maju?
Salam.
Erwin
3 Tanggapan leave one →
  1. 2008 Maret 28
    Lisa Honger permalink

    SETUJU SEMUA!!!!
    tapi ada additional information…
    Setelah semua ‘persyaratan’ faktor2 & skill kita penuhi, hanya ada satu langkah yang tersisa…
    yaitu…
    Semuanya harus …
    diDOAkan, before & after the negotioation.
    Kalo perlu nyepi & puasa …
    Apalagi kalau Kliennya & alamatnya ada embel-embelnya ‘indah, permai, asri, bukit, dll.’ biar nanti nilai kontrak yang tercantum juga se-’indah’ alamatnya..hehehe…
    Sekian sambung rasanya…
    Mungkin kita harus ngadakan doa akbar bagi profesi desainer di Indonesia,
    khusunya surabaya kali…
    Kasi dah…

  2. 2008 Maret 30
    Aloysius Erwin permalink

    Haha…
    Memang saya ada yang terlupa. Thanks sudah diingatkan.
    Selain hal-hal di atas, tentunya jangan lupa berdoa kepada Tuhan. Karena apapun yang terjadi adalah kehendak Dia, dan untuk kebaikan kita.
    Thanks Lisa.

  3. 2008 Juni 19
    Eko Budiono permalink

    Hallo lagi Pak Erwin!
    Yang anda ceritakan adalah tipikal pengalaman para arsitek.
    Pengetahuan akan struktur, ME, utilitas memang sangat dibutuhkan untuk meyakinkan klien, tapi menurut saya skill presentasi gambar seperti yang anda miliki adalah power untuk bargaining dengan klien. Kita bisa membuat klien tertarik menggunakan jasa kita karena “di-iming-imingi” gambar-gambar rendering yang bagus atau program-program komputer yang canggih. Satu lagi yang tak kalah penting adalah service yang baik. Sukses Pak Erwin. Tuhan memberkati.

Tinggalkan Balasan

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS