Architecture Career from a Scratch..
Melihat judul di atas, tentunya mungkin sebagian dari anda akan heran. Mengapa saya membahas topik ini?
Saya memutuskan untuk memulai menulis seputar topik ini sejak saya merasakan sendiri dalam dunia kerja. Mengapa? Banyak dari kita yang bingung, arsitek sebagai sebuah jasa konsultasi, dengan background estetika serta sedikit teknis (saya mengatakan sedikit, padahal tidak juga..) mengalami kesulitan dalam eksistensi diri.
Berbeda dengan sebuah produk barang, dimana kemasannya bisa dipermanis, promosi dilakukan dengan gencar, iklan di mana-mana. Begitu sederhana.. it’s so simple.. (ini dari kacamata arsitek lho..)
Arsitek sebagai sebuah jasa yang tidak terlihat bentuknya cenderung di-salahpersepsikan oleh pengguna jasa sebagai : tukang gambar! Hal ini terlihat dari komentar dan pendapat mereka mengenai kita :
Lha, kalau cuma gambar begitu saja kan semua orang bisa ?
Cuma gambar beberapa lembar kok minta semahal itu ya? Mendingan saya langsung pakai kontraktor saja lebih irit.
Ini cuma gudang kok, ruangan kosong untuk supermarket. Kan gambarnya gampang? kok jadi mahal ya?
Selain hal-hal di atas, sering juga para arsitek diminta desain secara “gratis”:
Coba kamu desain dulu, bila cocok yah kita nego lah..
Lho kamu belum desain kok sudah mengajukan harga? Coba dulu lah ..
Hal-hal seperti di atas seringkali dialami oleh arsitek baik mereka yang baru lulus hingga pada arsitek profesional. Kira-kira apa yang menyebabkan hal-hal seperti itu terjadi ? Apabila bila saya coba kelompokkan faktor – faktor yang berpengaruh, dapat dijabarkan sebagai berikut :
- Nama terkenal (semakin terkenal brand namanya, nilai bargaining semakin kuat)
- Faktor EQ (Emotional Quotent). Arsitek yang mempunyai skill bagus dalam menjalin hubungan dengan calon klien cenderung lebih berhasil.
- Faktor masyarakat yang kurang ter-edukasi dengan baik
- Faktor bahwa jasa arsitek berupa ide, dan bukanlah berupa sebuah produk barang yang dapat dipegang. (Bayangkan anda keluar uang banyak, hanya untuk beberapa lembar kertas!) Hal ini menyebabkan nilai dari “ide” seolah-olah menguap dan tidak ada harganya.
- Arsitek lebih banyak pada market public building. Kompleksitas bangunan umum menyebabkan timbulnya kebutuhan akan arsitek. Sedangkan pada rumah tinggal terutama kelas menengah kebawah hampir tidak ada marketnya.
- Adanya kecenderungan pihak arsitek untuk menahan idenya (karena itu yang dijual), karena masih dalam tahap konsepsi dan belum deal. Hal ini menyebabkan output yang keluar tidak maksimal.
- Faktor relasi. Adanya hubungan dengan relasi tertentu dapat membantu perkembangan karir. Contoh : Seorang anak yang melanjutkan usaha ayahnya sebagai arsitek, seorang arsitek yang mempunyai teman di sebuah PT besar dsb.










SETUJU SEMUA!!!!
tapi ada additional information…
Setelah semua ‘persyaratan’ faktor2 & skill kita penuhi, hanya ada satu langkah yang tersisa…
yaitu…
Semuanya harus …
diDOAkan, before & after the negotioation.
Kalo perlu nyepi & puasa …
Apalagi kalau Kliennya & alamatnya ada embel-embelnya ‘indah, permai, asri, bukit, dll.’ biar nanti nilai kontrak yang tercantum juga se-’indah’ alamatnya..hehehe…
Sekian sambung rasanya…
Mungkin kita harus ngadakan doa akbar bagi profesi desainer di Indonesia,
khusunya surabaya kali…
Kasi dah…
Haha…
Memang saya ada yang terlupa. Thanks sudah diingatkan.
Selain hal-hal di atas, tentunya jangan lupa berdoa kepada Tuhan. Karena apapun yang terjadi adalah kehendak Dia, dan untuk kebaikan kita.
Thanks Lisa.
Hallo lagi Pak Erwin!
Yang anda ceritakan adalah tipikal pengalaman para arsitek.
Pengetahuan akan struktur, ME, utilitas memang sangat dibutuhkan untuk meyakinkan klien, tapi menurut saya skill presentasi gambar seperti yang anda miliki adalah power untuk bargaining dengan klien. Kita bisa membuat klien tertarik menggunakan jasa kita karena “di-iming-imingi” gambar-gambar rendering yang bagus atau program-program komputer yang canggih. Satu lagi yang tak kalah penting adalah service yang baik. Sukses Pak Erwin. Tuhan memberkati.