Transportasi Publik di Kota Surabaya

Wow! Melihat gambar di atas betul-betul heboh! Gambar di atas adalah gambar yang diambil oleh Koran Jawa Pos edisi 19 Februari 2007. Dengan tambahan teks : “angkot saling sundul”. Apakah ini gambaran transportasi publik di Surabaya? Apakah tidak dapat dirubah ?
Beberapa waktu yang lalu, seorang teman saya yang menimba ilmu di negeri kangguru baru saja kembali. Dia menelepon saya untuk mengantarnya keliling Surabaya. Saya cukup heran karena dia mempunyai mobil di rumahnya. Kenapa tidak digunakan? Setelah saya telusuri ternyata alasannya cukup aneh bin lucu. Dia tidak berani menyetir! Lalu lintas di Surabaya sangat parah katanya. Angkutan umumnya juga kacau. Kepala terasa berputar menghadapi banyaknya sepeda motor. Apalagi ada beberapa yang menyetir ala Valentino Rossi (pembalap motor 500cc yang terkenal) membuat ciut nyali pemakai jalan raya.
Cerita lain, teman saya yang ini baru pulang dari negeri singa (Singapura). Puas menimba ilmu di negeri seberang tentunya ingin kembali dan bertemu dengan orang tua. Namun ketika di Surabaya, dia sudah tidak sabar ingin kembali lagi ke Singapura! Terlihat sekali tidak betah-nya. Teman saya ini tidak dapat menyetir mobil dari dulu. Waktu bertemu dengan saya dia bercerita, bahwa di Singapura, meskipun dia tidak dapat menyetir mobil, tapi dia bisa berpergian hingga ke tempat-tempat yang jauh. Banyak fasilitas umum yang betul-betul NYAMAN dan AMAN untuk digunakan. Mulai dari Subway Train, hingga kepada fasilitas tenaga “rawon” yaitu berjalan kaki. Meskipun berjalan kaki menurut dia cukup nyaman dan tidak panas seperti di Surabaya. Trotoarnya besar-besar dan banyak fasilitas umum pendukung.
Setelah mendengar “dongeng” di atas mari kita kembali ke Surabaya. Kota Pahlawan kita ini sudah ada sejak jaman Belanda dan terus mengalami perkembangan hingga sekarang. Kini, mobil serta sepeda motor semakin mudah untuk didapatkan. Bayangkan dengan fasilitas kredit, dan uang muka 300ribu anda sudah dapat membawa pulang sepeda motor baru! Gress! Hal ini memacu pertumbuhan pemilikan kendaraan yang semakin pesat (sepeda motor khususnya).
Pertumbuhan jumlah kendaraan pribadi semakin meningkat setiap tahun, sedangkan kapasitas jalan yang tersedia tetap. Dalam istilah “kerennya” rasio Volume berbanding dengan Capacity (V/C) sudah tidak memadai.
Dalam dunia transportasi, sebuah badan jalan mempunyai koefisien yang didapatkan dari perbandingan Volume dan Capacity (V/C). nilai V/C berkisar dari 0 sampai 1. Nilai 1 adalah macet, seluruh badan jalan terisi penuh dengan kendaraan. Sesak. Penelitian terakhir yang dilakukan di seputar jalan Ahmad Yani Surabaya, mengeluarkan 1,2! Lho, jika nilai 1 adalah macet, seperti apakah nilai 1,2? Ternyata masyarakat kita juga “kreatif” menyiasati keterbatasan kapasitas badan jalan. Melaju di jalan aspal tidak bisa, cari alternatif. Trotoar dan bahu jalan mereka gunakan! (khususnya sepeda motor). Hal ini berpengaruh dalam perhitungan V/C. Saya kira sudah menjadi rahasia umum. Bahkan polisi pun kesulitan dalam menghadapi ribuan massa sepeda motor yang mengalir mencari jalan tembus.
Saya sering membayangkan sebuah jalan adalah seperti sebuah talang air besar. Mobilnya sebagai bongkahan es batu, sedangkan sepeda motor sebagai airnya. Es batu dan air tersebut bergerak mengalir bersama di dalam sebuah selang besar dengan arah yang sama. Bedanya, bila terjadi perhentian, es batu tersebut akan berhenti. Tidak dapat menyalip satu dengan lainnya. (Orang jawa mengatakan : mandheg njegreg…) Sedangkan air akan terus mengalir mencari jalan keluar diatara sela-sela es batu, meskipun kadang-kadang agak susah untuk melaju tapi masih dapat bergerak sedikit-sedikit. Bila sedikit saja ada “talang yang bocor” maka air akan langsung menyembur keluar. Persis seperti tingkah laku pengendara sepeda motor. Begitu ada sela sedikit, langsung potong dan tancap gas. Begitu bertemu jalan pintas langsung potong masuk.
Lucunya, Sepeda motor juga mewakili salah satu sifat air, yaitu bentuknya sesuai dengan wadahnya. Tengok saja pada perempatan traffic light. Bila lampu sedang menyala merah, mobil-mobil (alias es batu) akan berjajar rapi. Tetapi, sepeda motor akan mengisi penuh seluruh jalur hingga tidak ada sela tersisa. (bentuknya sesuai wadahnya)Tidak jarang jalur untuk “belok kiri langsung” juga turut diisi sehingga penuh tanpa ampun. Tidak cukup? Maju lagi sampai batas zebra cross. Masih aman kok. Begitu pemikiran mereka.
Fenomena ini sampai kapan kita biarkan? Salah satu indikasi negara maju, adalah ditandai dengan fasilitas transportasi publiknya. Ok, kita mempunyai fasilitas transportasi publik. Tetapi apakah sudah memadai?
Pentahapan transformasi moda pribadi menjadi moda angkutan umum adalah mutlak. Kereta api komuter Sidoarjo – Surabaya merupakan suatu langkah awal yang baik. Pemikiran BRT (Bus Rapid Transit) adalah sebuah gagasan yang baik, (hanya sayang agak terganjal faktor lebar jalan Surabaya yang sempit dan tanggung). Ide monorail juga merupakan salah satu solusi. (mengingatkan tempo dulu ketika masih ada trem di jalan Tunjungan). Lalu entah apakah Subway train bisa diterapkan? Mengingat muka air tanah Surabaya yang tinggi. Moga-moga para pakar geodesi dan teknik sipil mempunyai pemecahannya. Pada intinya, tujuan utama adalah terciptanya fleksibilitas dalam mobilitas masyarakat dengan aman dan nyaman.
Secara realita, tentunya transformasi tidak dapat dilakukan secara sekejap. Tetapi jika kita tetap pesimistis, kapankah jadinya?
Salam,
Erwin










win..g isa cuma liat d/ sisi transpor tok
zonning yg nentukan..n zonning surabaya sudah acakadut..diobrak-abri dw…
penataan kota, incl trnspor iu hrs holistik..
percuma ditata klo zonningnya mawut
coba liak david gosling n barry maitland, sudah ?
mustine, klo u studi urban y sudah lo..krn ada di perpus…
Setahu saya pak…
Selama saya mengerjakan RDTRK, RTRK, RTBL serta Zoning Regulation dari tahun 2003, perencanaan yang terdapat di dalamnya adalah baik serta teratur, dan dibuat oleh konsultan yang berkompeten di dalam bidangnya.
Khusus untuk artikel ini saya ingin fokuskan kepada topik transportasi agar lebih mendalam gitu….
Salam.