Pensil Butut VS CADD

2008 Februari 22
by erwin4rch

Judul di atas memang sengaja saya buat sedikit “nakal”. Pemakaian komputer khususnya dalam bidang arsitektur demikian pesatnya. Rasanya baru saja kemarin saya masih memakai rapido dan pensil.

Dengan segudang software komputer yang ada sekarang ini, saya masih cenderung melakukan desain dengan pensil butut saya. Yup! Dengan manual tenaga “rawon”. Entah apakah hal ini terjadi pada arsitek yang lain Anehnya, apabila saya berusaha untuk melakukan desain langsung di atas komputer, hasil yang saya dapat umumnya tidak optimal dan masih banyak kekurangannya. (Ataukah saya yang super bloon saya juga tidak tahu). Pada intinya, saya tidak maksimal desain bangunan dengan menggunakan komputer langsung.

Awal Mula CAD

Saya coba kembali kepada sejarah CAD dalam dunia teknik. CAD pertama kali diciptakan sebagai sebuah alat bantu dalam penggambaran di dunia teknik (benar-benar drafting alias menggambar). Elemen-elemen penggambarnya mirip dengan yang kita lakukan ketika menggunakan kalkir dan rapido. (garis – line, kotak – rectangle, arsir – hatch, tulisan – text, ukuran – dimension, dsb). Hal seperti ini berjalan cukup lama dan terasa cukup membantu dalam dunia teknik bangunan. (Setidaknya tidak ada lagi kertas kalkir yang ngluntung kena keringat, rapido , kalkir bolong kena penghapus). Nilai plus lainnya adalah, revisi bisa dilakukan seketika. Bila menggunakan kalkir, maka kita harus menggambar ulang kembali dari awal. Namun dengan komputer, kita cukup membetulkan bagian yang salah lalu…. print ulang! (betapa menyenangkannya…).

Dunia desain arsitektur berbeda dengan dunia drafting (menggambar). Dunia desain arsitektur berbicara dengan bahasa desain. Bahasa terapan yang menjadi ciri khas dari arsitektur. Kebutuhan akan hal tersebut pada akhirnya melahirkan perkembangan software baru yang lebih user friendly kepada arsitektur. Dipelopori oleh ArchiCAD dan Autodesk Architectural Desktop 1.0, lahirlah software yang “mengerti” arsitektur. Kedua software tersebut merupakan embrio dari software-software generasi baru sekarang ini. (Revit®, AutoCAD Architecture®, Sketch-Up dsb)

Software tersebut memandu pengguna untuk menggambar dengan menggunakan elemen bangunan. Apakah itu dinding, jendela, pintu, atap yang disajikan secara interaktif dan real time. Pengertian CAD juga bertransformasi menjadi CADD (Computer Aided Design dan Drafting). Dengan demikian, program CAD sudah tidak melulu drafting tetapi juga mengakomodir design.

Pensil butut vs CADD

Software CADD telah dikembangkan untuk mendukung desain. Namun kenapa saya masih melakukan desain dengan pensil butut saya?

Ada beberapa faktor yang menurut saya dominan.

Pertama, dunia desain arsitektur adalah dunia ruang tiga dimensi, di mana si arsitek sebagai pelaku berkomunikasi dengan gambar. Komunikasi yang terjalin gambar – arsitek harus mampu terjalin secara langsung dan tepat. Ketika arsitek berpikir harus ada lisplank di sini, ia langsung menggoreskan pensilnya (sret!). Wah, jendelanya saya buat dua saja, kiri dan kanan (sret -sret!). Atapnya kurang besar deh .. (hapus sedikit + coret2 menimpa garis lama…). Jendelanya model jepang saja biar antik (sret!). Waduh, pintunya kebesaran nih, segini saja (sret!sret!) lalu saya beri atap pergola kayu deh biar manis (sret!).

Jadilah sebuah sketsa konsepsi dasar yang murni mewakili pemikiran arsitek dalam waktu singkat.

Bagaimana bila menggunakan komputer ?

Ok, saya butuh lisplank di sini. (Saya pindah UCSnya dulu, lalu buat pathnya, extrude lalu mana ya pathnya tadi?…. oh ini.. ok jadi). Jendelanya dua saja, kiri dan kanan. (ok, pindah view top. klik add window, pilih model jepang. ok lah, yang ini. Lalu muncul : Insert height? width? Sill Height? waduh pasnya berapa ya? Segini saja dulu.) Atapnya kurang besar deh .. (saya pindah view top. geser-geser baseline atap, pilih atap, edit, masukkan sudut kemiringan. Ok.) Waduh pintunya kebesaran nih. (klik pintu, edit. masukkan height… masukkan width… Ok). Trus pergola kayu… hmm, kalau saya beri atap pergola kayu susah buatnya di komputer, ya sudah, buat atap dak saja… (??)

Paham maksud saya?

Menggunakan komputer, kita dipaksa untuk berpikir 2 kali. Pertama berpikir desain, lalu bagaimana cara menerapkan desain tersebut dalam komputer. Hal tersebut membutuhkan skill dan waktu. Pikiran terbias dan tidak fokus. Kecederungan yang terjadi akhirnya si arsitek lebih fokus ke : bagaimana membuat di komputer ketimbang berpikir : bagaimana desain yang bagus. Kecenderungan lainnya lagi adalah adanya keengganan si arsitek untuk melakukan desain yang pembuatannya di komputer susah. (Lihat contoh di atas mengenai pergola kayu).

Secara singkat, spontanitas desain dari otak ke tangan, hilang dengan penggunaan komputer. (Menguap di tengah2 kemelut shortcut dan perintah-perintah CAD).

Kedua, dunia imajinasi arsitek pada umumnya adalah dunia tidak berukuran. Dalam proses desain awal, pada umumnya arsitek lebih membayangkan proporsi bangunan daripada ukuran dari sebuah bangunan.

Bagaimana bagusnya ya, panjangnya segini saja.. terus lebarnya sekian. Jendelanya berjajar 4 buah simetris begini rasanya bagus.. Lisplanknya jangan tinggi-tinggi deh, sekian saja. (Insting dan feeling sedang berjalan….)

Dalam tahap imajinasi, bila arsitek “ditembak” : segini berapa? 1 meter? 50 meter? Jendela 4 buah itu masing-masing tinggi berapa? lebar berapa? jarak dari lantai berapa? Lisplanknya jangan tinggi-tinggi tapi berapa meter dari tanah? Angka, angka dan angka….

Kacau jadinya.. ! angan-angan indah tergantikan menjadi suatu pemikiran sistimatis berurutan yang sangat teknis dan terperinci sekali.. Ciri khas dari CAD adalah selalu menanyakan angka. Apapun yang kita buat. Saya yakin diantara para arsitek pengguna CADD ketika melakukan desain dengan komputer sering terkendala dengan pertanyaan dari komputer : Berapa? Height? Width?

Paparan di atas menyampaikan beberapa faktor yang menurut saya menyebabkan tidak optimalnya melakukan desain langsung di komputer.

Lalu…….?

Perkembangan Software

Munculnya software sejenis Sketch-Up sempat mengguncang dunia arsitektur (Petra terutama). Menariknya software ini meskipun menggunakan elemen gambar (garis, kotak, lingkaran) tetapi mengakomodir pola pikir arsitek dalam melakukan desain awal. Meskipun Sketch-Up mempunyai dimensi ukuran, tetapi kita dibolehkan untuk melakukan desain semau kita tanpa mempedulikan ukuran! alias “desain seenaknya”.

Tingginya sekian saja, Eit, massa bangunan yang ini terlalu besar, segini saja. tanpa pusing ditanya tinggi, lebar dan sebagainya. Hal yang saya utarakan hanyalah contoh kecil bahwa dunia architecture software selalu berkembang guna memenuhi “hasrat” arsitek dalam melakukan desain. Bahwa program yang ada akan berkembang terus hingga makin menyamai “spontanitas desain dengan tangan”.

Saya cukup positif akan perkembangan software CAD. Entah apakah di masa depan kita cukup duduk membayangkan, dan komputernya bisa nggambar sendiri?

Hehehe.. Kalau bisa tentunya profesi arsitek tidak laku… hics….

Salam.

Erwin

2 Tanggapan leave one →
  1. 2008 Maret 21

    betul bos…komputer mah cuma alat bantu… mo pake pensil kek, pake kompi kek… sama aja… namanya arsitek/designer yang paling penting pola pikirnya…

  2. 2008 Maret 23
    Aloysius Erwin permalink

    Kata orang :
    Pedang yang tajam pun masih kalah dengan sebuah pikiran yang tajam.
    Mungkin itu menggambarkan yang anda maksud yah..

Tinggalkan Balasan

Note: Anda dapat menggunakan XHTML dasar di komentar Anda. Alamat surel Anda tidak akan pernah dipublikasikan.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS