Gereja Katolik Santo Paulus, Juanda

————————————————–
Arsitek utama : Ir. Benny Poerbantanoe, MSP Arsitek : A. Erwin S, ST Constructor : Prof. Ir. Benyamin Lumantarna M.Eng., Ph.D. ME : Ir. Nugroho Susilo M.Bdg.Sc.
Tulisan ini saya persembahkan sebagai dokumentasi bagi Romo Heribert Ballhorn, SVD, jemaat paroki Salib Suci dan Santo Paulus. Salam – Erwin
Sejarah & Latar belakang
Gereja Katolik Santo Paulus atau sering disebut sebagai Gereja Juanda merupakan perkembangan dari Gereja Salib Suci, Tropodo. Bermula dari Gereja Gembala Yang Baik, dimana telah menjadi “gembala” bagi anak-anaknya. Gereja Salib Suci – Tropodo, Gereja Yohannes Pemandi – Wonokromo, Gereja Sakramen Maha Kudus – Pagesangan, dan Gereja Roh Kudus – Rungkut. (Uniknya bila kita perhatikan, tradisi pemberian nama-nama gereja tersebut tidak pernah menggunakan nama santo/santa).
Gereja Salib Suci sebagai salah satu anak dari paroki Gembala Yang Baik telah demikian dikenal oleh masyarakat sekitar dan menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam kehidupan maysarakat. Didorong oleh kebutuhan akan sebuah gereja baru pada wilayah Juanda guna memaksimalkan pelayanan kepada umat, maka direncanakanlah sebuah gereja baru pada kawasan tersebut yang perkembangannya dibimbing oleh Gereja Salib Suci.
Pekerjaan Persiapan
Panitia
Sebagai langkah awal, dibentuklah panitia pembangunan Gereja Juanda yang dipimpin oleh Romo Heri sendiri. Tugas panitia ini adalah sebagai pendamping – advisor romo dalam hal teknis maupun non-teknis yang kurang dipahami oleh masyarakat awam. Panitia terdiri dari tenaga ahli baik dalam bidang arsitektur, struktur, mekanikal yang telah mempunyai pengalaman cukup sehingga dapat memberikan saran dan masukkan kepada romo.
Lahan – Site
Pada awalnya lahan akan menggunakan lahan TNL – AL yang berlokasi tidak jauh dari pertigaan Jl. Juanda – Ahmad Yani. Tepatnya di samping masjid TNI – AL. Namun kemudian lokasi dipindah lebih ke timur tepatnya di sisi Utara kompleks PURA JALA SIDDI AMERTHA (Masih tanah TNI – AL). Sebuah lokasi yang unik dimana terdapat dua agama pada kavling yang bersebelahan (Katolik dan Hindu).

Tim Desain Arsitek, Struktur, ME
Sebagai arsitek, ditunjuklah pemenang sayembara desain gereja Salib Suci terdahulu, Ir. Benny Poerbantanoe, MSP untuk membantu dalam proses desain dan perencanaan. Saya sendiri (A.Erwin S, ST.) terlibat sebagai tenaga arsitek kedua. Desain struktur dipercayakan kepada Bapak Prof. Ir. Benyamin Lumantarna M.Eng., Ph.D. Sedangkan desain mekanikal dibantu oleh Ir. Nugroho Susilo M.Bdg.Sc. yang memang ahli dalam bidangnya.
Proses Desain Arsitektural
Didorong oleh keunikan lokasi kavling yang bersebelahan dengan Pura, juga keinginan untuk menjalin hubungan antar agama, Ir. Benny Poerbantanoe, MSP selaku arsitek utama mengadopsi bentukan pura – candi bentar sebagai facade gereja. Secara sederhana, yang ingin disampaikan melalui desain tersebut adalah : “Adanya keinginan Gereja untuk membaur dengan sekitarnya, ‘bersalaman’ dengan Pura dalam satu kesatuan yang tidak terpisahkan tanpa mengabaikan unsur-unsur utama gereja “



Desain Tahap 2

Desain Tahap 3

Proses desain gereja merupakan sebuah rangkaian dari kegiatan asistensi marathon yang memang harus dilakukan. Secara prinsip, desain gereja ini sebenarnya merupakan desain kolektif pragmatis yang disesuaikan secara langsung oleh arsiteknya. Dikatakan demikian, karena cukup banyak masukkan-masukkan dari berbagai pihak yang masuk demi terciptanya sebuah gereja yang baik. Syukur kepada Tuhan, bahwa kian hari, desain tersebut semakin mengerucut, pikiran dan pendapat yang berbeda-beda semakin sinkron. Sehingga akhirnya didapatkan sebuah desain yang boleh dikatakan sebagai desain final.
Denah Gereja Santo Paulus sangat unik, karena mempunyai berbentuk setengah lingkaran dengan altar sebagai pusatnya. (Pada umumnya gereja katolik mengadopsi bentukan salib sebagai dasar denah). Pada awal mula desain, gereja ini di desain untuk menampung 500 umat. Namun pada akhirnya dikembangkan sehingga dapat menampung sekitar 800 umat.

Photo Session

Jalan Raya Juanda yang menikung, membuat kesan gereja berada tepat pada tengah-tengah jalan.

Tampak Bangunan Gereja Dari Luar Persil. Posisi bangunan secara keseluruhan dimiringkan 45° untuk memaksimalkan view dan lahan

Entrance Gereja – Candi Bentar

Menara Lonceng Gereja, Salib terbuat dari kayu ulin, lonceng dibunyikan dengan sistem katrol.

Atap tegola pada bagian sirip melengkung kiri dan kanan bangunan

Jalan utama menuju altar – terlihat bangku gereja yang terbuat dari kayu dengan rangka pipa gas finish cat hitam.

Altar Suci, Meja altar tersusun dari 12 batu (melambangkan 12 rasul atau 12 suku Israel)

Tabernakel dengan Lampu Tuhan yang berisi minyak (bukan tenaga listrik)

Deretan tiang dengan finishing batu koral guna kesan alami. Berfungsi juga sebagai tempat menggantungkan gambar-gambar prosesi Jalan Salib.
Gereja ini bediri di atas lahan seluas 4000m2, mulai dibangun pada 27 April 2003. Misa perdana untuk gereja ini dilakukan secara istimewa karena dipimpin langsung oleh Duta Besar Vatikan untuk Indonesia MGR MALCOM A RANJITH.
Dihadiri sekitar 1000 umat, duta besar asal Srilangka ini didampingi Romo JULIUS HARYANTO CM (Administrator Keuskupan Surabaya), Romo COSMAS BENEDIKTUS SENTI FERNANDEZ Pr (Sidoarjo), Romo HERIBERT BALLHORN SVD (Juanda, Salib Suci, Sidoarjo), dan Romo AGUS SUDARYANTO CM (Surabaya). Sekitar 20 pastor dari berbagai kota di Jawa Timur ikut hadir. Turut hadir Panglima Armatim (Y. Didik Heru) dalam upacara pemberkatan dan misa perdana tersebut.
Selama hampir 30 menit, Dubes Vatikan memberkati beberapa elemen penting gereja seperti tempat baptis, altar, mimbar, tabernakel, ruang sakramen tobat, salib besar, patung Bunda Maria. Di akhir misa konselebrasi dilakukan penandatanganan prasasti.

Prasasti Pemberkatan Gereja Santo Paulus










Salam sejahtera dalam kasih Kristus,
Pertama kami ingin mengucapkan selamat kepada umat Paroki Gembala Yang Baik karena telah berhasil membangun rumah Tuhan dengan begitu megah. Semoga ini menjadi sarana menguatkan dan saling meneguhkan iman kepercayaan kepada Tuhan Yesus Kristus sehingga pada akhirnya dapat melakukan perintah-Nya yaitu berbuat KASIH dengan lebih baik.
Kedua kami ingin mengucapkan selama kepada tim perencana, khususnya kepada prof Benjamin yang saya kenal, yang berhasil mengamalkan ilmunya dengan baik bagi kemuliaan-Nya.
Ketiga juga mengucapkan terima kasih kepada saudara A. Erwin S, ST. yang juga berkenan untuk berbagi informasi dengan menuliskannya di blog sehingga dapat diketahui oleh rekan-rekan seiman yang lain. Informasi ini menunjukkan bahwa “ada pertumbuhan”, dan tentunya ini dapat menjadi inspirasi atau bahkan menjadi acuan yang lain yang ingin mengikutinya.Minimal menjadi tempat bertanya, bagaimana untuk dapat menirunya.
Semoga Tuhan memberkati anda.
Wiryanto Dewobroto
Umat Paroki Santo Bartolomeus, Bekasi
Hai Pak Wir,
Thanks ya sudah mampir…
Jadi senang nih dikunjungi sama idola (di dunia maya)…
Hehehe..
Salam juga untuk anda sekeluarga.
God Bless You.
sori, hanya komentar saja. itu gerbang candi bentarnya kok dipaksain. nggak sinkron dengan langgam yang lain. jawa timur boleh saja. tapi bahasa bentuknya yo nggak ngoko gitu lah. mestinya perlu bahasa kromo inggil. idiom gitu lho.
Bapak/Ibu dengan code name omah kampong..
Mungkin ada sedikit salah persepsi terhadap yang saya coba sampaikan.
Sekedar mencoba untuk meluruskan saja. Bahwa konsepsi perencanaan sebagaimana yang telah disampaikan pada awal topik perencanaan adalah :
Adanya keinginan untuk membina hubungan baik dengan pura. Gereja yang bersalaman dengan pura. Agama katolik yang tenggang rasa terhadap agama hindu. (begitu pula sebaliknya, timbal balik).
Dalam kata lain, pada desain ini gereja mencoba untuk menjadi gerbang bagi Pura (karena posisinya di tepi jalan besar) untuk menunjukkan kepada mereka yang melewati jalan raya tersebut bahwa : Ini lho, ada Pura di sisi dalam.
Sehingga Pura tersebut muncul bukan karena pemikiran “jawa timur”, melainkan lebih ke arah nuansa keakraban beragama di tanah air.
Mengenai “asal tempel”. Bentuk Pura, merupakan suatu bentukan yang monumental.
Di dalam bukunya Yoshinobu Ashihara mengutarakan bahwa sesuatu yang monumental jangan disandingkan dengan sesuatu yang mempunyai nilai yang sama, secara berdekatan.
Sebagai gambaran, bayangkan bila disamping tugu monas – jakarta, berjarak 10m lalu ada tugu lagi. Orang menjadi tidak lagi fokus. Keanggunan – kesan monumental dari tugu monas tersebut akan sirna.
Sehubungan dengan pemikiran di atas, maka dinding yang menjadi latar belakang dari candi bentar tersebut tidak diarahkan untuk “ramai”. Dengan demikian kompleksitas candi dapat terimbangi dengan keteduhan dari dinding latar belakang sehingga menciptakan sebuah komposisi yang harmonis.
Matur nuwun sudah mampir. Nggih…
mas, kalo saya mau konsultasi mengenai bentuk
plafon dan altar gereja saya bisa gak?
saya tinggal di mataram NTB, tp saya asli Ngawi lho…
kalo bisa nanti sampeyan tak kirimi gambarnya
dalam CAD…
Pak greg.hery, tidak masalah kok.
Selama bisa saya bantu, maka akan saya bantu.
Bisa emailkan saja langsung ke aloy.zeus@gmail.com.
Thx.
Mas Arsitek,
Saya udah pernah ke gereja ini, kalo ga salah saat itu misa perdana gereja ini sekalian peringatan beberapa tahun meninggalnya eyang kakung saya. Desain interiornya bagus hanya saja salib yg ada dibelakang altar terlalu modern, kurang mewakili “Salib Kristus” yang biasanya ada di gereja2 lama. Desain exterior saya kurang perhatikan, karena diluar puanaass luar biasa, jadi males liat sekeliling gereja.
Tapi ini cuma pendapat saya aja loh… no offense yah…=)
Salam Pak Sonny,
Terima kasih sudah mampir nih..
Pada desain awal untuk Salib Kristus, kami merencanakan bentuknya agak besar, dan menempel pada dinding belakang. Dalam benak kami salib tersebut akan berbentuk sedikit unik (bernuansa daerah) karena menyesuaikan dengan bentukan gereja yang “membumi”.
Seiring dengan perjalanan waktu, koordinasi dalam rapat rutin, masukkan dari umat, dari berbagai pihak dikombinasi dengan pemikiran dari Romo Heribert Ballhorn, maka terciptalah salib yang anda lihat.
Dapat dikatakan arsitek yang sebenarnya dalam perencanaan gereja adalah kita semua sebagai umat. Sehingga “rasa memiliki” dan “semangat kebersamaan” dapat tetap terjaga dan terbina.
Saya masih ingat perkataan dari Romo :
“Percuma gereja bagus-bagus, bila umatnya berkelahi satu dengan lainnya. Apalagi gara-gara berkelahi dikarenakan proses pembangunan gereja itu sendiri.”
Memang kesulitannya berujung pada kami sebagai tim desain. Keinginan pribadi satu dengan lainnya tidaklah sama.
Setiap orang memiliki selera dan taste tersendiri. Tugas kami adalah menyeleksi dan menggabungkan masukkan dan ide yang ada sehingga dapat tercipta sebuah bangunan yang selaras dan harmonis.
Tentang area luar yang panas, saya juga merasakan hal yang sama. Semoga di waktu mendatang pohon pada bagian luar dapat lebih dirimbunkan lagi. Sehingga gereja dapat terasa lebih sejuk.
Salam, Mas Sonny.
saya sangat tertarik dengan semua desainnya, tidak ada tanggapan yg mengkritik semua desainnya.karena saya percaya dengan iman katolik bahwa, Tuhan berkarya melalui tangan sang arsitek untuk menciptakan kerajaan Allah melalui bangunan-bangunan gereja.saya seorang arsitek religius katolik yang masih sangat muda dan sekarang sedang melestarikan arsitektur gereja di tanah papua dan menjaga nilai seni dan lambang-lang gereja katolik melalui gereja katolik terutama melalui bangunan. profisiat untuk para panitia dan perancang, semoga kalian mendapat berkat yang melimpah karena sudah bersedia menjadi tim sukses kerajaan Allah.Amin.
Florry,
kritik adalah bagian dari Dunia Desain.
Especially Desain Arsitektur. Jadi tidaklah masalah apabila ada.
Desain arsitek lebih merupakan solusi komprehensif untuk menjawab seluruh kompleksitas masalah yang ada. Dengan demikian tetap ada celah yang tidak bisa maksimal.
Umur muda tetapi semangat anda tinggi, saya salut atas hal tersebut.
Jalan anda masih panjang. Saya menantikan anda bila ke Surabaya. Setidaknya bisa ngobrol2 lebih lanjut tentang dunia kita ini.
Akhir kata, terima kasih atas ucapan selamatnya, semoga anda berhasil di tanah papua dan terus berkarya.
Salam. Erwin
Ysh. Pak Erwin,
Salah satu komponen yang diperlukan dari kondisi fisik di dalam gereja adalah Kondisi Akustik yang tepat dan baik untuk suara dalam bentuk pembicaraan/speech dan juga musik/koor.
Mohon diinfokan ke saya (silahkan via japri juga boleh) tentang bagaimana rancangan, proses instalasi dan juga evaluasi kondisi akustik di dalam gereja ini..? Sejauh mana 4 parameter akustik utama [lihat definisi & penjelasannya di blog saya] diperhatikan dan diperhitungkan di dalam proses perancangan akustiknya? Apakah objektif perancangan akustiknya dapat tercapai, dan bagaimana response audience?
Demikian beberapa pertanyaan saya, atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.
GBU,
salam,
Komang
Halo Pak Komang, senang bisa bertemu.
Secara konseptual, gereja ini memang mempunyai konsepsi perencanaan akustik untuk pencegahan gaung, gema dan distorsi suara. Mengapa diperlukan ? Karena bentukan denah gereja yang tidak baik bila dipandang dari kacamata akustik.
Bila Pak Komang perhatikan denah dari gereja ini, terdapat bentukan melengkung pada sisi kiri dan kanan gereja. Secara alami, suara akan menjadi terfokus kembali ke depan altar dan menciptakan resonansi serta gaung yang mengganggu.
Faktor kedua adalah dinding belakang altar yang sangat besar merupakan sebuah ‘genderang’ pemantul suara yang cukup signifikan.
Desain akustik gereja ini sebenarnya sudah pernah dibuat dan diajukan oleh Ir. Pak Nugroho Susilo M. Bdg.Sc ketika proses perencanaan. Diantaranya meliputi pembiasan suara dengan pemberian tekukan-tekukan pada dinding depan gereja serta pelapisan material peredam pada titik-titik tertentu.
Sayang, keterbatasan budget serta faktor kesepakatan bersama waktu itu membuat elemen akustik yang dikategorikan sebagai ‘tambahan’ di dalam bangunan tidak ikut dibuat ketika proses pembangunan.
Terlepas dari cerita di atas,
Faktor akustik di dalam bangunan memang unik dan menarik. Sayangnya masih banyak yang kurang menyadari pentingnya hal tersebut. Pemikiran bahwa akustik merupakan elemen ‘tambahan’ dan bukan sebagai salah satu yang utama agaknya melekat di masyarakat.
Seringkali ahli akustik justru dipanggil ketika kondisi bangunan telah terbangun, ditempati dan digunakan. Pada saat tersebut mereka baru menyadari pentingnya elemen akustik dalam bangunan.
Terima kasih sudah mampir Pak Komang. Senang bisa bertemu. Salam. Erwin
Saya berbahagia dan sukacita atas dibangunnya rumah Allah gereja St.Paulus Juanda bagi umat Tuhan namun janganlah lupa umat awan yang tersingkir miskin dan tidak berdaya jadikan mereka bagian dari gereja, demikian kami juga sedang membangun gereja St.Petrus Krisologos di Stasi Bukit Semarang Baru Paroki St.Theresia Bongsari Keuskupan Agung Semarang. Mohon dukungannya dan ilmu pengetahuan serta pengalamannya bagaimana mencari dana dan sebagainya, Gereja kami baru tahap pondasi masih butuh pemikiran, pendanaan yang panjang, kami berharap bisa mendapatkan file-file foto dan lainya untuk bahan reverensi kami kedepan, saya sungguh salut dan selamat bahwa gereja dikerjakan dengan profisionalisme yang tinggi, semoga Tuhan Jesus memberkati. Kujungi http://www.petruskrisologos.blogspot.com
Kak, bisa minta gambar desain & arsitektur gereja ini dalam bentuk high resolution nya?
Saya ada tugas dari sekolah, disuruh buat rumah ibadah. Kelompok aku kebagian disuruh membuat Gereja Katolik. Dan disuruh yang memang ada. Jadi kayak maket nya gitu. Kalau boleh, tolong kirim gambar tersebut ke emailku. Di ZIP juga gpp.
Jadi, mohon bantuannya. Kalau ada saran, kira-kira bahan apa aja yang dibutuhkan ya?
Thanks before.
(Kalau bisa balas ke emailku sekalian gbr desainnya)
Untuk Jovian,
Terima kasih telah mampir ke situs ini.
Terima kasih juga telah tertarik untuk mencoba membuat maket / miniatur dari bangunan ini.
Saya sebagai seorang arsitek juga terbiasa dalam membuat miniatur bangunan. Sebagai saran, apabila bangunan yang anda buat skalanya tidak terlalu besar maka
Bahan-bahan karton warna-warni dapat anda gunakan sebagai bahan dinding. (Bukan karton manila, tapi karton sejenis Concorde).
Untuk atap, bisa mengunakan karton bekas kardus (diambil bagian dalamnya yang bergelombang) lalu dispray dengan warna.
Material kaca bisa digantikan dengan mika.
Demikian, semoga dapat membantu. Salam
Mas Erwin,
salam kenal, sebelumnya saya mau meperkenalkan diri terlebih dulu, saya Hananto Adi Nugroho saat ini saya bekerja di PT Freeport Indonesia sebagai civil/structural Engineer di departemen Engineering.
saat ini saya tinggal di Kuala Kencana Timika, didalam wilayah kontrak karya PT Freeport Indonesia. Ada 1 bangunan gereja disini yang kami gunakan secara bergantian dari Katholik, Advent, GKI dan GPDI.
saya ketemu blog ini, barusan saya gogling dengan keyword “lonceng gereja” yah..ternyata mengantar saya ke blog ini, memang Tuhan Maha Tahu…
begini mas, saya kebetulan diminta oleh BAMAG (badan musyawarah antar agama-agama) di PTFI untuk membantu membuatkan konsep dan estimasi pembangunan AULA dan menara lonceng di sekitar gereja, menara lonceng ini adalah ide dari umat katholik.
Di dalam BAMAG sendiri tidak ada yang memiliki kompetensi seorang architecture. karena itu saya dan 1 orang mechanical engineerlah yang diminta untuk membantu.
bolehkah saya dibantu untuk design menara loncengnya mas?
saya mau kirim foto gereja disini, kalau bisa saya kirim ke alamat mana mas?
oya…kapan2 kita cerita/sharing kegiatan gereja ya mas? saya kebetulan ketua KKMK disini.
salam
Hananto
Pak Hananto dari PTFI, sebelumnya saya mengucapkan terima kasih telah mampir ke gubuk maya saya.
Pada prinsipnya, terlepas dari agama saya pribadi (katolik), saya siap untuk membantu agama apapun dalam pengembangannya. “Urusan Langit” memang sesuatu yang tidak dapat kita abaikan.
Saya sudah mengirimkan e-mail secara pribadi kepada bapak sebagai tindak lanjut.
Semoga kerukunan umat beragama di tempat anda dapat terus terjaga.
Damai selalu.
Salam kenal Pak Erwin, saya lulusan arsitektur Petra angkatan 2002. Saat ini saya sedang studi S2 di Bandung dan sedang menyusun tesis mengenai gereja St. Paulus ini. Saya ingin minta bantuan dari Bapak untuk mendapatkan gambar denah, potongan, dan tampak bangunan ini. Saat ini saya masih belum bisa ke Surabaya untuk mendapatkan data-data tersebut, karena itu saya minta bantuan bapak. Apakah data-data tersebut bisa dikirim ke email saya? Sekian dulu info dari saya dan Terima kasih atas perhatiannya.
Salam
Pak Rio, salam kenal.
Saya tidak keberatan untuk membagi data-data tersebut.
Tapi sehubungan pemilik bangunan tersebut bukanlah saya.. mungkin lebih baik jika anda kulonuwun dahulu ke pemiliknya.
Langsung saja ke gereja yang bersangkutan. Nanti untuk data-data lengkap akan saya bantu.
Semoga anda dapat memahami keterbatasan saya.
Salam.
Ok pak, nanti saya kabari lagi kalau sudah ada perkembangan selanjutnya. Terima Kasih banyak pak…
Pak Erwin maaf saya lama baru bisa contact bapak lagi. Saya telah mendatangi gereja St. Paulus ini dan meminta ijin dari romo yang bersangkutan. apakah data berupa gambar-gambar gereja ini bisa saya dapatkan dari bapak? Kalau bisa bagaimana caranya? Terima Kasih pak atas bantuannya.
Syaloom……….
saya k0k gemetran yah liat gereja yang terasa sakral…..!!!!
Pak Erwin saya juga sementara dalam proses Desain gereja kami di Manado….. Tolong dong di bantu hal2 yang perlu diperhatikan dalam desain sebuah gereja… bagaimana mencoba mengkomunikasikan antara objek dengan jemaat???? dan bgm menangani keinginan jemaat yang begitu banyak????PUsiIIIng…..
TOLONG YAH…. GOD BLESS
Coba saya buatkan tulisan seputar ini.. tunggu 1 hari yah..
Pak Erwin maaf saya lama baru bisa contact bapak lagi. Mungkin bapak lupa dengan saya, saya Rio mahasiswa S2 yang sedang menyusun tesis mengenai gereja ini, dan berniat melakukan survei serta mendapatkan gambar-gambar kerja dari gereja ini. sebelumnya saya telah mendatangi gereja St. Paulus ini dan meminta ijin dari romo kepala paroki gereja yang bersangkutan Romo Sonny Keraf, SVD untuk mengambil beberapa dokumentasi dari gereja ini. Beliau juga mengatakan kalau ingin jelas lebih baik menghubungi bapak saja. Apakah data berupa gambar-gambar gereja ini bisa saya dapatkan dari bapak? Kalau bisa bagaimana caranya? Mungkin kita juga bisa sedikit berdiskusi tentang gereja ini. Terima Kasih pak atas bantuannya.
Pak Itoph, coba mampir ke halaman ini.
Sudah saya tuliskan uneg-uneg saya..
http://erwin4rch.wordpress.com/2009/03/03/desain-sebuah-gereja-dalam-komunitas-umat/
Semoga dapat memberikan angin segar..
Salam.
Mas Arsitek, saya dari SMP sudah ber nazar untuk bangun gedung greja di kampung halaman. kalauboleh aku minta tolong ada tidak sedikit inspirasi buat aku.
Terima kasih, Tuhan Memberkati
shalom..
maaf mengganggu pak…
Gereja kami adalah gereja kecil yang terletak di pinggiran daerah tangerang. Bangunan gereja sendiri sudah berdiri kurang lebih 23 tahun. Saatini kami memiliki rencana untuk melakukan pengembangan gereja, hanya saja umat kami tidak ada yang memiliki basic architecture…
Ketika saya browsing untuk mencoba mencari contoh maket gereja, sya menemukan web ini.
Langkah2 apa yang harus kami buat dalam pembangunan Gereja pak…?? (untuk ijin kami sudah memiliki)..
Lalu…apakah Bapak memiliki contoh design gereja yang lain? kami berencana membuat maket gereja…apakah kiranya bapak dapat membantu kami?…terimakasih atas perhatiannya pak..
Mas Erwin, saya senang membaca paparan2 tentang dunia arsitektur, khususnya tentang Gereja. Mohon pendapatnya tentang unek2 ini, atas RENCANA PEROMBAKAN TOTAL (20 des 2009) Kompleks Gereja St. Arnoldus Bekasi yang menurut saya, PROSES DISAINnya tidak baik & sangat tertutup. Saya pernah minta secara resmi kepada panitia pembangunan; Agar MAKET RENCANA PEROMBAKAN TOTAL KOMPLEKS GEREJA dan Gambar SITE PLAN dibuat lebih dulu dan ditempel di depan Gereja. Namun hal ini tidak ditanggapi. Menurut saya, adalah suatu kebenaran bahwa maket harus dibuat lebih dulu dengan LENGKAP (seluruh bangunan di tunjukan, arah utara selatan, tulisan dll) & ditunjukan kepada umat, sebelum membangun. Karena MAKET ADALAH MEDIA KOMUNIKASI ARSITEKTURAL, sehingga maket harus dibuat sejelas-jelasnya. Mohon saran dari Mas Erwin. Bila kita satu pandangan tentang “maket yg LENGKAP harus dibuat lebih dulu sebelum membangun”, maka saya mohon dukungan agar bisa menghadap ke Panitia Pembangunan kembali. Terimakasih Yosep.
Salam Pak Yoseph.. Mohon maaf atas keterlambatan posting ini..
Saya coba mengulasnya dengan sudut pandang saya pak.
Menurut saya, gereja pada hakikatnya bukanlah milik satu atau dua orang saja. Gereja adalah milik umat, milik bersama. Dari sudut pandang ini, umat harus dilibatkan untuk turut mengetahui dan mengikuti perkembangan desain gereja mereka. Maket yang bapak utarakan merupakan salah satu sarana untuk menyampaikan hal tersebut kepada orang banyak. Maket merupakan alat komunikasi yang paling ideal untuk orang awam.
Nah, lalu ada sudut pandang kedua. Bila semua orang turut terjun di dalam suatu desain.. Maka bukan kesatuan yg didapatkan, tetapi kekacauan. Hal ini disebabkan karena semakin banyak orang yang ikut, kemauannya juga semakin banyak. Apalagi bila yang ikut rapat adalah mereka yang tidak mengerti teknis desain. Biasanya akan tambah kacau.
Sebagai win win solution, biasanya akan dipilih semacam wakil2 umat. Wakil2 yang dipilih ini biasanya dicarikan yang mengerti teknis.
Demikian pak kiranya.. Semoga dapat membantu.
Terimakasih Pak Erwin. Saya sangat setuju dengan Bapak. Di dalam Panitia Pembangunan memang ada wakil2 umat, yaitu masing2 wilayah mengirim ketua wilayah (awam tentang arsitektur), dan disetiap rapat pleno juga hadir Romo Paroki (Roma Amselmus. SVD), juga hadir seorang arsitek selaku panitia. Memang tidak mungkin kita menampung begitu banyak keinginan umat dalam rangka Merombak Total Kompleks Gereja. (Yang ingin saya garis bawahi disini adalah; ‘MAKET ADALAH MEDIA KOMUNIKASI ARSITEKTURAL’ maka maket harus dibuat SEJELAS-JELASnya. Karena ini ADALAH KOMPLEKS GEREJA maka MAKET HARUS MENG-INFORMASIKAN DENGAN JELAS dimana letak: GEREJA, RUANG SAKRISTI, PASTORAN, AULA, KLINIK, DLL, Maket harus SKALATIS, maket harus ada ARAH UTARA-SELATAN, maket HARUS ADA KETERANGAN TERTULIS, & MAKET HARUS ADA JUDUL. (hal inilah Pak Erwin yang mengganggu pikiran saya. Saya Alumni 2002 arsitektur UKI cawang, mengambil skripsi dengan judul ‘Seminari menengah Stella Maris Bogor’). Saya ingin mewartakan tentang ‘KEBENARAN SEBUAH MAKET’ (Tidak boleh maket dibuat TIDAK LENGKAP selebihnya BIARLAH UMAT YG BERASUMSI, toh anggaran ada). Hal inilah yang terjadi di Gereja St. Arnoldus Bekasi, MAKET KOMPLEKS GEREJA YG TIDAK LENGKAP, HANYA BANGUNAN GEREJA YG DIBUAT selebihnya TANAH KOSONG dan BIARLAH UMAT YG MENGIRA-NGIRA. (Ketua Panitia berkata,” Maket dibuat cukup seperti ini, KITA ANGGAP umat sudah mengerti’.). Saya menjawab,”Saya seorang arsitek, atas nama Tuhan Yesus, saya tidak mengerti maket apa ini?”. Demikianlah Pak Erwin apa yang sedang saya alami. (Pak Erwin saya juga kirim Opini tentang hal ini ke Email Pak Erwin. Terimakasih, Tuhan Memberkati..
makasih banyak mas Erwin sudah mau berbagi…
saya banyak belajar dari tulisan mas…
saya masih mahasiswa kok..tepatnya mahasiswa Arsitektur 08 d salah perguruan tinggi d jogja..
Maju Terus Arsitektur Indonesia…
@Once : Makasih juga Mas.. semoga pengetahuan saya yang sedikit ini dapat membantu anda.. salam..