Proses Pembangunan Gereja Santo Paulus, Juanda – Part 1

2008 Maret 9

Artikel ini memuat mengenai proses pembangunan Gereja Katolik Santo Paulus, Juanda. Mengetahui sebuah proses pembangunan merupakan salah satu upaya efektif pembelajaran dan peningkatan pengetahuan. Di sisi lain, bagi umat paroki setempat dapat lebih dekat secara emosional dengan gereja paroki mereka.

Penjelasan akan dipaparkan secara singkat, to the point, memuat lebih banyak bahasa gambar daripada bahasa tulisan, serta disampaikan secara bertahap sesuai dengan urutan pembangunan di lapangan.

TAHAP I – Pondasi dan Sloof – Sub Structure

Pondasi Gereja menggunakan pondasi tiang pancang dengan bentukan penampang kotak, berdimensi 20×20cm. Pada bagian tertentu dimana mesin tiang pancang kesulitan melakukan manuver, dilakukan bor pile.

Pecahan Kepala Tiang Pancang

Kondisi tanah, dengan pecahan kepala tiang pancang.

pengerjaan bor pile

Pengerjaan Bor Pile Pada Bagian Menara Lonceng

Tiang pancang sesudah ditanam, sisa tiang pancang yang masih mencuat ke atas (kepala tiang pancang) umumnya dikepras, disisakan tulangannya saja guna dikaitkan dengan rangkaian tulangan lain. Sesudah itu, besi balok sloof dan poer mulai dirangkai serta diletakkan pada posisi masing-masing. Poer digabungkan dengan sisa besi yang mencuat dari tiang pancang guna kesatuan struktur.

Rangkaian Besi poer dan Sloof

Rangkaian besi sloof dan poer. Tampak sedikit pada area tengah poer, sisa kepala dari tiang pancang mencuat. Untuk rangkaian sloof, pada bagian persimpangan, besi-besi langsung diteruskan (tidak berhenti di persimpangan) agar tidak menambah pekerjaan pemotongan besi.

Proses pengecoran dilakukan setelah bekisting dibuat. Bekisting untuk sloof terbuat dari material triplek dengan kayu sebagai penguat. Proses pengecoran untuk area luas dan besar umumnya menggunakan beton siap pakai (ReadyMix, AdhiMix dsb) guna kemudahan proses di lapangan. Satu unit mobil Mixer memuat sekitar kurang lebih 6m3 beton siap pakai.

Proses pengecoran sloof

Proses pengecoran sloof, beton cair dari Mixer dialirkan menuju bekisting sloof dan poer yang telah disiapkan.

Vibrator

Beton cair yang dituangkan ke bekisting harus di-vibrator agar campurannya merata dan homogen sehingga tidak terjadi karang beton. (vibrator : sejenis alat penggetar berbentuk selang dengan tenaga diesel bertujuan untuk “mengaduk” campuran beton agar merata dan tidak mengumpul)

Bentukan Sloof dan Poer yang telah jadi, tampak beberapa bekisting triplek masih menempel di sloof.

TAHAP II – Mid Structure

Tahapan mid-structure memuat mengenai proses pembuatan dinding, pembuatan kolom, plat lantai, serta balok. Pemaparan tahapan ini akan disampaikan secara kronologis.

Bentukan kolom gereja yang bundar, menyebabkan pemakaian bekisting standart dengan triplek tidak dapat dilakukan. Bekisting untuk bagian kolom bundar menggunakan plat seng yang dirangkai dengan bantuan balok-balok kayu.

bekisting kolom bundar

Bekisting seng untuk kolom bundar

Setelah kolom-kolom tersebut selesai, arah pengerjaan adalah pembuatan balok beton. Pembuatan balok beton memerlukan penyangga guna menempatkan bekisting balok tersebut. Penyangga balok menggunakan kayu usuk yang diletakan dengan jarak sekitar 40-50cm.

Perancah balok

Deretan kayu penyangga, bentukan seperti rel “kereta api” pada bagian atas dipersiapkan untuk menahan bekisting balok.

Balok dan perancah

Bekisting balok telah disiapkan di atas perancah.

Untuk pekerjaan lantai beton, persiapan perancah yang dibutuhkan lebih banyak lagi. Plat lantai beton memiliki berat tersendiri sehingga membutuhkan perancah yang kokoh namun murah. Pada pekerjaan ini, digunakan kayu gelam sebagai sarana pendukung bekisting plat beton.

Kayu Gelam

Bekisting balok lengkung pada bagian belakang gereja, berdiri di atas deretan perancah kayu gelam. Kayu gelam diset dengan jarak sekitar 40-50 cm antar satu dengan lainnya.

View sementara

View gereja dari depan, pada tahap ini pengerjaan difokuskan pada bagian belakang gereja. Tampak pada area belakang, perancah beserta bekisting yang sedang disetel.

—>>  ke Part II

5 Tanggapan leave one →
  1. 2008 Mei 4

    menarik n penuh makna,maksih kang telah memberikan yang terbaik pada Gereja St. Paulus Juanda.

  2. 2008 Mei 4
    Aloysius Erwin permalink

    Thx juga, maaf masih belum sempat menyelesaikan artikelnya. (rencananya bakal sampai Part IV) saking banyaknya foto yang aku punya.
    Yah, dicicil satu persatu dah..
    Sukses selalu mudika St. Paulus Juanda.

  3. 2009 Januari 24

    wah, bagus bener…………….. tp q ada tugas dari skulq tuk mencari gambar bekisting beserta bag” nya. tapi kok yang muncul malah bahasanya belanda???

    mas bisa bantu ga???

  4. 2009 Januari 24
    erwin4rch permalink

    Mas Dirham, salam kenal..
    Yang dimaksud beserta bag” nya itu apa ya?
    Mungkin bisa dijelaskan?
    Mks.

Lacak Balik & Ping Balik

  1. Gereja Katolik Santo Paulus, Juanda « Erwin’s Journal

Tinggalkan Balasan

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS