Advanced Computer Rendering Dalam Dunia Arsitektur (Vray, Final Render, Mental Ray)


Teknologi komputer dalam visualisasi arsitektur berkembang cukup pesat dewasa ini. Penggunaan teknologi rekayasa komputer menghasilkan output yang bagus dan hampir menyerupai gambar/foto asli. Jauh berbeda dengan jaman dahulu ketika para arsitek-arsitek “purba” masih menggunakan pensil, rapido, kuas dsb. Perkembangan ke arah komputerisasi cukup diminati oleh para arsitek-arsitek sekarang. Bahkan tidak jarang mereka lebih fokus pada spesialisasi Computer Rendering atau sering juga disebut para “Visualization Masters“.
Para seniman render aka. Visualization Masters, menggunakan banyak jenis software dalam penggunaannya. Tentunya untuk menghasilkan sebuah output yang baik, dukungan “senjata” juga harus komplit dan mendukung.
Mengapa kiprah komputer rendering pada era 2003 baru mulai nampak? Bukankah sudah dari dahulu komputer sudah dapat menghasilkan gambar rendering arsitektural? Jawabannya adalah : TEKNOLOGI.
Proses pembuatan gambar CGI arsitektural di komputer membutuhkan proses modelling, texturing, lighting dan rendering. Untuk teknologi terdahulu, pengguna terbatas untuk melakukan simulasi cahaya dalam komputer. Dalam teknologi lanjutan, komputer memungkinkan pengguna untuk melakukan sebuah simulasi cahaya yang melibatkan ratusan, bahkan ribuan algoritma perhitungan matematis dikombinasikan dengan elemen 3D yang ada. Perhitungan tersebut membawa pengguna pada suatu hasil rendering yang lebih akurat dan lebih mendekati kenyataan. Bahkan dengan menggunakan algoritma tersebut, tidak jarang pengguna komputer ikut terbengong-bengong atas hasil rendering mereka sendiri! Secara umum, penggunaan algoritma perhitungan di atas dapat disebut sebagai Global Illumination.
Konsepsi Dasar Global Illumination.
Cahaya, merupakan elemen penting di dalam dunia rendering. Di dunia nyata, cahaya yang datang akan selalu memantul dari permukaan satu menuju permukaan lainnya. Cahaya di dunia nyata tidak pernah berhenti memantul hingga berkas tersebut kehabisan energi.
Dunia rendering tanpa Global Illumination (GI) akan menghasilkan efek sinar yang tidak memantul. Ketika berkas sinar dari sumber cahaya mengenai sebuah benda, ia akan berhenti di situ. Tidak ada pantulan lanjutan. Penggunaan GI memungkinkan pantulan-pantulan cahaya di dunia nyata untuk disimulasikan di dalam dunia komputer.
Sebagai ilustrasi, saya mengambil konsepsi penjelasan dari Final Render yang saya anggap cukup mewakili dan dapat menjelaskan secara garis besar prinsip dasar GI.

Saya mempunyai sebuah kotak yang terdiri dari 2 buah ruangan, dipisahkan oleh sekat dengan lubang pada bagian ujung belakang. Pada ruangan sisi kiri, saya letakkan sebuah bola dan pada sisi kanan saya letakkan sebuah senter. Kemudian saya menempatkan kepala saya pada ruangan sisi kiri. Saya mencoba melihat bola yang saya letakkan dengan bantuan penerangan dari senter yang saya tempatkan di ruangan sebelah. (Perlu diketahui bahwa pada bagian ujung belakang sekat berlubang, sehingga memungkinkan cahaya untuk tembus ke ruangan kiri).
Apa yang terjadi bila ruangan tersebut kita render? Tanpa GI, hasilnya akan seperti ini :

Coba kita perhatikan gambar di atas. Tampak bahwa senter yang kita letakkan pada sisi kanan ruangan berhasil tembus hingga ruangan kiri. Namun secara keseluruhan, cahaya yang terjadi sangat tidak sesuai dengan kenyataan. Perhatikan juga warna hitam yang mendominasi gambar di atas. Hal tersebut terjadi karena cahaya yang datang hanya mengenai latar belakang dari kotak dan berhenti. Bagaimana bila hal yang sama kita simulasikan dengan menggunakan GI?

Perhatikan perbedaanya dengan gambar sebelumnya. Warna hitam yang semula mendominasi kini berkurang. Warna-warna dinding mulai keluar. Bahkan bayangan di sekitar bagian bawah bola sudah terlihat. Tone gradasi cahaya juga sudah mulai tercipta. Inilah gambaran sesungguhnya yang mendekati kenyataan. GI meniru perilaku cahaya dengan melakukan kalkulasi terhadap berkas-berkas cahaya yang ada. GI memproses, memantulkan semua berkas-berkas cahaya tersebut sehingga didapatkan perilaku cahaya yang mendekati aslinya. Berbekal prinsip dasar sederhana tersebut, pengguna komputer semakin mudah dalam mencapai sebuah rendering realistik /Photorealistic rendering

Perhatikan meratanya cahaya dalam rendering interior

Bayangan yang tercipta lebih soft dan lebih realistik

Image ini hanya menggunakan 1 sumber cahaya, dari sisi luar (kanan)

Perhatikan lembutnya gradasi bayangan yang tercipta
Software Utama
Software yang dapat digunakan untuk program rendering diantaranya adalah :
- Autodesk AutoCAD (versi 2007 ke atas dengan MentalRay Built in)
- 3Ds Max (dengan menggunakan Mental Ray & Radiosity Built in)
- Kerkythea 2008 (dengan engine bawaannya Kerkythea)
- dsb










Mas bagaimana dengan intericad 6000 untuk interior ? saya belum coba sih…
Sama nih Mas Datyo.. saya juga belum sempat coba software itu.
Setidaknya mungkin lebih baik bila kita “stick” ke satu atau dua software yang benar-benar cocok untuk kita. Daripada ganti-ganti software nanti tambah bingung sendiri.
(Pengalaman dulu kapok. Habis pakai mental ray, ganti pakai Final render, lalu ganti lagi V-ray. Skill yang dipunyai ya itu-itu saja. Berkembangnya menjadi sulit).
Hehe. Tapi jangan dijadikan halangan untuk mencoba sesuatu yang baru ya..
Salam.
kira2 rendering yang sudah mendekati realistis apa ya mas Erwin!!
Mas Febri, saya kurang memahami apa yang bapak maksudkan.
Apakah yang anda maksudkan adalah :
“Program rendering apa yang dapat menghasilkan output yang realistis?”
Bila pertanyaan anda demikian, maka saya dapat mengatakan bahwa :
kuncinya sebenarnya bukan pada “pisaunya”, melainkan lebih kepada “pemakai/pengguna” pisau tersebut.
Dengan kata lain, terlepas dari software apapun yang digunakan,
bila penggunanya mempunyai feel of art yang tinggi maka ia mempunyai kemungkinan lebih tinggi untuk menghasilkan gambar yang realistis.
oeeee….aloo….
Kerkythea 2008 tuh buat apaan seh….?
blog-nya keren deh….tnyata u orangnya detil ama envy sekitar yah….sampe foto2 busway segala
thx man…
billy arst 99
Haaaii Billy….Senang ada suku 99 yang mampir.
Hehehe.
Kerkythea itu program freeware untuk rendering.
Seperti yang kita ketahui bahwa dengan maraknya sweeping terhadap software illegal memicu perkembangan software ke arah freeware.
Kerkythea ini merupakan program rendering gratis dengan fitur2 lumayan. Memang ada beberapa kesulitan seperti library yang masih harus di download lagi dari situs resminya. Namun overall program ini worthed kok.
Salam Bill.
Hehehe..
woookeee….
thx man buat sharingnya….
tuh freeware program yg berdiri sendiri ato plug-in?
gue seh pakenya v-ray…tp baru belajar aja…
ga pernah nongkrong d indocg?
congrats yah udah merit…
kapan punya momongan?
Kerkythea itu program yang berdiri sendiri. Klo v-ray sih software wajib buat “tukang render”. Jadi udah makanan sehari-hari. Hahaha..
Setiap hari aku “nongkrong” di indocg kok.
Thx yaaa..
Halo mas erwin
Untuk pembelajaran lebih lanjut ttg v-ray dll mas erwin dpt dimana ya?
dan boleh tau spec comp nya?
saya sempat jd pengajar 3D max dan V-ray di jakarta, skrg saya pindah ke sby.
Thx
Bu Santi, salam kenal.
Terima kasih sudah mampir.
Saya mengenal dan belajar v-ray secara otodidak bu. (Belajar sendiri).
Cara yang saya tempuh biasanya melalui internet. Cukup banyak tips, trik dan tutorial yang bisa kita dapatkan dari internet.
Saya juga berdomisili di Surabaya. Semoga bisa bertemu anda di lain kesempatan.
Salam.
hi erwin,
salam kenal..
lansung nih, ente tau cara setting yg optimum untuk render interior scenes ga di kerkythea?
maksudnya,antara waktu dan hasil yg oke..
thx!
Pak Lilo, salam kenal.
Mungkin anda bisa coba di link berikut ini :
http://www.studiorola.com/tutorials/rendering-tutorials/kerkythea-basic-rendering-setup-part-1/
Semoga dapat membantu..