Perspektif Rendering Jelek = Salah Desain atau Salah Rendering ?
Bagi mereka yang berkecimpung dalam bidang desain, apapun itu baik desain arsitektural, desain interior tentunya pernah mengalami judul di atas. Hasil yang telah kita pikirkan secara matang, penuh pertimbangan, ternyata tidak sesuai dengan perspektif konsepsi yang dihasilkan. Angan-angan di dalam pikiran yang begitu indah, ternyata tidak cocok dengan output yang dihasilkan.
Pada akhirnya hal di atas akan memicu pertanyaan bagi si designer… Yang salah ini desainnya? atau renderingnya yang kurang maksimal ?
Berbeda dengan seseorang yang berkecimpung murni di dalam bidang visualisasi (3D visualisator dsb). Dalam hal ini, tantangan yang dihadapi adalah : Bagaimana cara menyajikan desain yang sudah ada dengan baik dan menarik. Bahkan secara ekstrim, dapat dikatakan biar desain yang masuk jelek sekalipun, tugas dari visualisator untuk membuatnya menjadi menarik. Entah dengan permainan lighting, penataan vegetasi, permainan warna dan material tambahan dan lain sebagainya.
Saya kembali kepada profesi designer. Akan menjadi lain ceritanya, apabila yang melakukan rendering/visualisasi adalah seorang designer (arsitek/desain interior/desain produk dsb). Apabila seorang designer melakukan proses rendering/visualisasi, maka akan terjadi sebuah proses feedback bagi mereka dalam hal estetika desain dan estetika rendering sekaligus! Feedback akan 2 hal tersebut menyebabkan timbulnya sebuah dilema baru. Khususnya apabila output / gambar hasil rendering yang dihasilkan tidak maksimal dan butuh koreksi.
Pada tahap koreksi, lantas si designer mungkin akan termenung sesaat dan memikirkan. Apa yang salah? Desainnya? Atau rendernya?
Saya pribadi sering juga mengalami keadaan seperti di atas. Saya berangkat dari background arsitektur, namun pada awal kerja memilih jalur visualisator 3D. Ketika suatu saat saya menerima tawaran desain bangunan, hal tersebut seringkali mengganggu. Di satu sisi, saya ingin menyajikan sebuah desain yang baik. Pada sisi lainnya, saya juga ingin menampilkan sebuah rendering yang wah. (dasar visualisator…).
Bagaimana solusinya?
Sementara ini, saya mengatasinya dengan menggunakan software non-rendering (SketchUp) dan saya kombinasikan dengan sketsa tangan.
Menurut saya, desain dengan menggunakan cara di atas membuat pikiran saya lebih terfokus pada desain yang sedang saya hadapi. Saya lebih fokus untuk berpikir mengenai desain bangunan entah bagaimana permainan massanya, materialnya, permainan model jendela, penempatan posisi pintu dan ornamen bangunan hingga pada tone warna pada dinding. Pikiran saya tidak dipenuhi lagi dengan pikiran untuk melakukan rendering. Keinginan untuk menyajikan sebuah “output gambar kelas wahid” untuk disajikan kepada klien pun dapat ditekan.
Desain/ide merupakan senjata utama dari arsitek. Apabila hal ini dirasa telah dicapai maksimal. Barulah saya bergerak untuk membuat 3Dnya. Lho kan makan waktu? Yup! Memang makan waktu cukup lama. Tapi saya melihat dari sudut pandang lain dimana pikiran kita dapat lebih jernih dalam berpikir desain dan tidak direpotkan oleh “prosesi rendering” yang rumit.
Ok….. Sekarang saya BALIK pemikiran kalian……! hehe
Bagaimana di dunia nyata ?
Ternyata respon klien terhadap output Sketch-Up/shading model tidak sebaik yang saya bayangkan. Lebih dari satu kali saya dipandang remeh oleh klien karena output “kartun” saya.
Baik itu sketch-Up, Shaded model ArchiCAD/AutoCAD dsb mereka tidak mau tahu dan langsung menjustifkasi bahwa saya adalah arsitek kelas teri. (Dilihat dari outputnya yang tidak bonafid menurut mereka).
Lucunya, hal yang saya anggap sebagai solusi dalam paragraf di atas ternyata mendapat “tentangan” dari para klien-klien. Apa yang harus saya lakukan?
Yang terpikir adalah :
Bila memungkinkan, pecah jadi 2. Desain oleh anda, rendering oleh orang lain. Dengan demikian anda bisa fokus ke desain.
Alternatif lain,
Temukan formula “rendering baik dan cepat” (bukan rendering TERBAIK, tapi rendering BAIK dan CEPAT). Sehingga rendering berjalan seperti mesin otomatis. (Meskipun anda tetap melakukannya, tapi sudah tidak terlalu berat. Pikiran bisa difokuskan kepada desain )
Demikian sekilas uneg-uneg saya. Semoga dapat membantu anda-anda yang juga mengalami masalah yang sama.
Salam.










Setuju sekali mas Erwin, saya juga ngalamin yang demikian. Salam kenal
Senang juga ada yang “senasib”..
hehehe… Salam kenal juga Mas Datyo.
Pak, saya salah satu murid bapak di UK Petra. Saya melihat adanya perkembangan top and down construction (gramedia, gedung wismilak) di Surabaya ini. Nah, tiba2 timbul gagasan apakah konstruksi ini bisa diterapkan pada bangunan tinggi (10lt) atau bangunan bentang lebar? stelah dipikir2 berhari2 kok g nemu apa2 y. mungkin bapak punya saran untuk masukan. thx
Hai Sherry.
Topik ini saya pindah ke : Guestbook
Silahkan di klik.
Thx ya.
serba susah hehe, kalo suka visualisasi 3d tapi juga suka desain gmana ya.
jalan tengah mungkin y yg harus diambil