Alternatif Solusi Bagi Transportasi Publik di Kota Surabaya

2008 April 18

Artikel ini berawal dari keprihatinan akan kondisi saat ini, khususnya di kota Surabaya.

Dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi serta mudahnya proses kredit kendaraan bermotor. Kendaraan mobil dan sepeda motor bertambah cukup pesat. Pemandangan macet menjadi sebuah hal yang biasa bagi kita. Macet dan asap polusi merupakan hal yang umum di kota besar. Demikian gumam sejumlah besar penghuni kota metropolitan Surabaya.

Mari, saya ajak anda sekalian untuk berkelana melihat kondisi global sebelum masuk ke transportasi kota Surabaya.

Krisis Energi Nasional di Indonesia.

Sekarang yang lagi booming di koran maupun di media televisi adalah krisis energi. Krisis energi di Indonesia memaksa pemerintah untuk mengajak masyarakat bersama-sama melakukan penghematan energi. Berawal dari kalkulasi para ahli, dimana mereka menyatakan bahwa sisa cadangan bahan tambang di bawah bumi Indonesia akan memasuki masa kritis pada tahun 2008. Bahan-bahan seperti minyak mentah, batubara dan bahan-bahan tambang lainnya berangsur-angsur habis. Energi fosil yang kita gunakan tidak dapat diperbaharui lagi.

Dampak dari kondisi demikian memaksa kita untuk melakukan penghematan dalam skala nasional. Hal yang paling mudah kita perhatikan adalah pada lampu PJU di jalan raya, ada beberapa titik yang biasanya menyala sekarang dipadamkan. PLN juga memberlakukan batas KWH dalam pemakaian. Bila lebih dari batas tersebut maka akan masuk kepada tarif mahal. Minyak tanah, juga perlahan-lahan digantikan dengan gas alam (elpiji).

Harga Minyak Mentah Dunia Melambung Tinggi

Bagi anda yang tidak mengikuti dunia minyak mentah, pada umumnya harga minyak dunia adalah dibawah USD 90 per barrel. Namun akhir akhir ini, harga pasar dibuka dengan harga USD 100 ke atas. Bahkan Pada tanggal 18 April 2008 saat artikel ini diketik, harga minyak dunia dibuka dengan harga USD 115 per barrel! Sebuah angka yang sangat fantastis. Sampai kapan pemerintah kita kuat untuk melakukan subsidi dengan kenaikan harga seperti itu?

CO2 –> Global Warming

Satu lagi dampak dari pemakaian bahan bakar fosil adalah efek rumah kaca yang pada akhirnya menyebabkan peningkatan suhu bumi. Dampak dari meningkatnya suhu menyebabkan anomali pada bumi, seperti kekeringan, mencairnya es pada kutub, hilangnya pulau-pulau kecil karena muka air laut yang naik dsb. Diprediksikan apabila tidak dilakukan tindakan lebih lanjut terhadap gas buang CO2 ini, maka akan terjadi bencana global pada tahun 2050.

Solusinya ?

Dengan pemaparan latar belakang di atas, tentunya membuka wawasan kita bahwa dunia ini sedang diambang krisis. Selain harga bahan bakar yang tidak tergantikan terus naik, polusi juga bertambah.

Tahun 2050 yang disebutkan di atas tidaklah lama. Tahun tersebut adalah tahunnya anak dan cucu kita. Ya, tiga generasi dari sekarang! Apa yang sebaiknya dilakukan?

Bila saya seorang ilmuwan, maka saya akan berusaha untuk menemukan sebuah inovasi akan sumber energi baru yang dapat digantikan (recycleable). Seperti bahan bakar hidrogen dengan output buangan air murni. (sudah ada dan digunakan di negara eropa) dan hal-hal lain sejenis itu.

Namun saya bukan seorang ilmuwan. Saya seorang arsitek dan perencana kota. Apa yang bisa kita lakukan dalam bidang ini guna mengatasi krisis energi?

Saya mencoba untuk melihat dari sudut pandang berbeda. Saya ajak anda sekalian untuk membayangkan gambar di bawah ini.

Gambar di atas adalah foto kondisi Jalan Ahmad Yani, Surabaya pada jam puncak. Bayangkan anda berada di sana, sedang membawa mobil kesayangan anda dan terjebak macet. Luar biasa macetnya! Dahulu, yang namanya jalan Ahmad Yani hanyalah 2 jalur paling kiri, pararel dengan rel kereta api. Seiring perkembangan kota, lajur demi lajur bertambah hingga seperti foto di atas. Masih tidak cukup? Ok, di masa depan masih bakal ada lagi penambahan frontage road pada tepi-tepi jalan disertai dengan pelebaran Ahmad Yani ke arah barat. (arah kanan foto).

Yang menjadi masalah adalah bagaimana kalau nantinya tidak cukup lagi? Kita sudah tidak ada lahan lagi untuk penambahan kapasitas jalan. Kita sudah tidak bisa lagi memperlebar jalan, karena sudah berbatasan dengan kavling.

Saya kira jawabannya sudah ada pada gambar di atas. Yup! Pada gambar di atas. Coba anda perhatikan sisi kiri sendiri. Ada apakah disana?

Ada Rel Kereta Api!

Setiap negara maju selalu menggunakan angkutan massal dalam transportasi umum. Subway Train, MRT, apapun sebutannya. Negara maju mempunyai visi untuk menekan jumlah kendaraan pribadi , diarahkan berganti moda menggunakan angkutan umum. Bagaimana dengan kita?

Coba anda bayangkan sejenak, imajinasikan kita mempunyai kereta api dalam kota. Dengan jalur-jalur mengelilingi arteri utama kota Surabaya. Berpusat pada stasiun Gubeng (karena di tengah kota) PT.KAI dapat melakukan penambahan rel mengelilingi kota Surabaya berbentuk seperti cincin dengan plus ditengahnya.

Semacam Ringroad kota surabaya. Outer Ring Road, Western Ring Road, Eastern Ring Road, Middle East Ring Road II-C. Akan tetapi dalam versi kereta api ekonomis. Bayangkan, betapa mudahnya pergerakan kita bila hal tersebut terwujud. Yang lebih penting lagi, bayangkan berapa banyak angkutan pribadi yang akan beralih menggunakan angkutan kereta tersebut! Hal tersebut berarti penghematan sumber energi besar-besaran.

Gambar di atas adalah gambar RTRW Kota Surabaya. Garis biru mewakili rencana jalan Kota Surabaya di masa mendatang. Berupa Ring Road yang mengelilingi kota Surabaya. Lalu saya tambahkan panah hitam putus-putus yang mewakili konsepsi “Ring Road Kereta Api”. Stasiun gubeng sebagai pusat saya wakili dengan bulatan merah pada peta. Berbekal gambar di atas, coba bayangkan mudahnya anda dari Laguna hendak menuju Citraland! Atau dari kemudahan dari Romokalisari menuju Keputih? Kemudahan Dari Pondok Chandra menuju Margomulyo? Atau dari Sepanjang hendak menuju Madura? Karena bisa connect dengan jembatan Suramadu. Cukup dengan naik kereta api dalam kota.

Mengapa penambahan rel?

Dari jaman Belanda, rel kereta api yang dimiliki oleh kota Surabaya ya itu-itu saja. Sama sekali tidak ada perkembangan signifikan. Kalaupun ada anggaran yang turun dari pusat, bisa dipastikan alokasinya lebih diarahkan untuk pembangunan jalan. Dengan bertambahnya jalan, bertambah pula penggunanya. Semakin baik dan mulus jalan yang ada, semakin ramai pula penggunanya. Semakin banyak pula pemakaian energi dan akumulasi polusinya. Semakin rusak tanah air kita.

Sebuah kondisi yang ibarat mencekik leher sendiri.

Setiap kota maju di dunia pasti mempunyai angkutan publik berupa kereta api. Entah dalam bentuk Subway train – MRT, monorail dsb yang terkombinasi dengan kereta api high speed antar kota seperti Maglev (Jerman), Shinkasen (Jepang), TGV (Perancis).

Kapankah giliran kita?

Sebagai penutup, tulisan ini ditulis sebagai wacana tambahan bagi dunia transportasi khususnya Surabaya yang semakin lama kemacetannya semakin merajalela tak terkendali. Mungkin sumbangsih konsepsi dan ide ini masih jauh dari sempurna. Tapi setidaknya harus ada yang mengawali. Harus ada yang meng-”gong” kan agar kita mulai berpikir untuk berpindah menggunakan angkutan publik.

Salam.

3 Tanggapan leave one →
  1. 2008 Oktober 21
    Permadi permalink

    saya sangat sependapat dengan mas erwin.
    program” lalu lintas yg diadakan jajaran polres belakangan ini,menurut saya,hanya omong kosong saja.kalo mau lebih manjur, ya diperbaiki saja sistem transportasi umum kita!
    masalah BBM juga kan awalnya dari makin banyaknya dan makin mudahnya masyarakat untuk memiliki kendaraan pribadi.
    di kota saya, Malang,masalah BBM berimbas pada sopir dan pemilik angkot.mereka merasa terbebani dg harga BBM,apalagi kalo BBMnya langka!secara langsung atau tidak langsung,hal ini berdampak pada kualitas pelayanan mereka terhadap penumpang maupun tabiat sopirnya di jalanan,makin hari makin negatif. melihat hali ini,tentu saja masyarakat juga terpengaruh.akhirnya banyak yg lebih memilih memiliki kendaraan pribadi daripada berurusan dengan sopir angkot yang ujung”nya sakit hati.
    Program” seperti Smart Riding dan semacamnya,menurut saya,malah makin menyemangati masyarakat untuk memiliki kendaraan pribadi.

  2. 2008 Oktober 21
    erwin4rch permalink

    Bung Permadi, semangat anda memang tidak ada duanya. :D
    Mungkin yang dilakukan polisi akhir-akhir ini tidaklah sepenuhnya salah.
    Adanya suatu upaya untuk mengatasi suatu masalah perlu kita acungkan jempol.

    Namun, seperti halnya orang yang sakit batuk dan pilek bersamaan, maka seharusnya yang
    diutamakan adalah menyembuhkan penyakit pileknya dahulu. Dengan demikian lendir yang ada akan berkurang dan membantu meringankan batuk. Bahkan batuk tersebut bisa jadi sembuh dengan sendirinya.

    Lalu lintas kita juga demikian. Dengan mengatasi masalah langsung di sumbernya (transportasi umum), maka secara tidak langsung masalah-masalah lain (sopir angkot yang ngawur, becak di tengah jalan, mengemudikan kendaraan secara ugal-ugalan dsb) secara berangsur-angsur akan berkurang.

    Sekali lagi sudut pandang yang saya utarakan di sini adalah sudut pandang makro. Adanya keinginan untuk berbagi ide dalam mengupayakan sebuah kota yang lebih baik.

    Semoga percakapan kita dapat diambil makna positifnya untuk kepentingan bersama.
    Salam.

  3. 2009 April 16
    jajak permalink

    Mas Erwin saya mungkin menjadi bagian dari salah satu warga surabaya yang sangat peduli dengan keadaan transportasi di kota Surabaya saat sekarang, sebenar masalah transportasi disetiap kota besar khususnya di Surabaya adalah merupakan akumulasi dari kebijakan pemerintah kota yang tidak profesional sejak orde baru, terutama masalah kepemilikan kendaraan pribadi yang lebih dari satu jenis dan masalah pemberian ijin trayek yang tanpa melalui kajian kelyakan sehingga terjadi kepadatan kendaraan dijalan karena jumlah kendaraan dengan kebutuhan masyarakat tidak sesuai
    disamping itu pertumbuhan prasarana jalan juga tidak sebanding dengan pertumbuhan jumlah kendaraan, hal ini terjadi semata-mata hanya berorientasi pada kepentingan bisnis.

Tinggalkan Balasan

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS