Arsitek dan Sipil Bergandengan Tangan
Sudah menjadi pakem umum, bahwa ilmu arsitektur tentunya mempunyai kaitan erat dengan ilmu teknik sipil. Bila berbicara tentang si orangnya, maka si arsitek dan si sipil seharusnya bahu membahu dalam menciptakan sebuah bangunan yang baik.
Saya di kehidupan sehari-hari bekerja dengan rekan sekantor yang mempunyai latar belakang teknik sipil. Berbeda dengan arsitek-arsitek senior yang saya kenal, karena pada umumnya yang saya perhatikan adalah biasanya arsitek, berpartner dengan seorang arsitek juga.
Pada umumnya di dunia kerja, kedua jurusan (arsitektur dan teknik sipil) ini meskipun satu bidang, tetapi seolah-olah menjadi dua buah kutub magnet yang tidak dapat disatukan. Dalam sudut pandang arsitek, pemikiran struktur bangunan seolah-olah menjadi penghalang bagi arsitek untuk berkarya lebih kreatif. Bagi sipil, bentukan-bentukan yang tidak lazim dibuat oleh arsitek cenderung menyulitkan di dalam pembuatan dan perhitungan struktur. Seringkali pola pandang yang berbeda tersebut berujung kepada crash antar personal. Ribut akan desain, dan tidak ada yang mau mengalah.
Pihak struktur menuntut penggeseran kolom agar struktur yang ada lebih efisien. Pihak arsitek tidak mau, dikarenakan penataan ruang yang ada akan menjadi kacau. Saling semaunya sendiri, dan tidak ada titik temu satu dengan lainnya.
Dapat anda bayangkan di dalam masa kerja. Pola pikir seorang arsitek dan seorang sipil. Apakah bisa nyambung?
Pengalaman saya pribadi juga cukup unik. Namun, saya lebih melihat dari sudut pandang positif.
Secara tidak langsung, dengan mengenal “teknik sipil”, saya semakin mengerti cara berpikir dalam desain struktur bangunan. (Kata orang tak kenal maka tak sayang). Demikian pula sebaliknya. Rekan saya juga semakin memahami estetika dalam bangunan gedung.
Proses demi proses, tahap demi tahap.
Seiring dengan berjalannya waktu, selain memahami “orangnya” saya juga memahami “ilmunya”. Meskipun tidak 100%. Sempat terjadi sesuatu yang unik. Ketika proses koordinasi desain, saya malah mencari pola struktur rangka besi yang “enak”, sedangkan rekan saya justru mengomentari dari sudut pandang estetika. Arsitek berpikir struktur, sipil berpikir arsitek. Sesuatu hal yang sebenarnya lucu.
Apa yang saya coba sampaikan di sini ? Ternyata dengan proses di atas, secara tidak langsung terjadi transfer knowlegde. Baik disadari maupun tidak, setiap kali saya dan rekan saya mengadakan rapat koordinasi desain, terjadi penyampaian secara timbal balik. Baik itu cara berpikir, sudut pandang, dan cara menyelesaikan masalah antara arsitek dan sipil. Hal tersebut secara tidak langsung menambah nilai kita pribadi.
Sebagaimana yang disampaikan oleh orang bijak : Bila ingin maju, jangan berkacamata kuda. Tengoklah kanan dan kiri.
Saya kira ilmu arsitektur sebagai ilmu yang luas pada akhirnya memang harus berkolaborasi dengan ilmu-ilmu lainnya didalam menciptakan sebuah bangunan yang baik untuk masyarakat.
Arsitektur juga tekenal sebagai ilmu terapan dan penelitian. Bila anda sedang mendesain sebuah rumah sakit, tentunya anda akan “belajar” lagi tentang pola kerja rumah sakit kan? Bagaimana prosedur dokter dalam melakukan operasi, ruangan-ruangan apa saja yang dibutuhkan untuk ada, bagaimana prosedur memusnahkan jarum suntik yang telah digunakan dan obat kadaluwarsa. Erat kaitannya dengan penataan ruang.
Pada akhirnya, arsitek didalam melakukan perancangan selalu akan “belajar kembali”. Terutama bila hal tersebut baru bagi mereka. Teknik sipil sebagai sebuah ilmu bukanlah sebuah momok. Tetapi justru harus kita gandeng demi kemajuan kita bersama.
Siapakah yang mau maju? Tentu kita semua.










win..arsitek bukan cuma nggandeng tangane sipil tok..juga
interior, lanskap, lighting, sound system, akustik (dw-2 ini…)
me : mekanikal, hvac, elektrikal, elektronika, plumbing…
juga, klo u dah nangani public commercial bldg, musti nggandeng marketing (jangan kaget, de’e seng nentukan konsep lo – we develop his own), operational management, special operator, legal,…promo…dll..dll
bloom soal amdal, amdalalin, ukl,upl,wez….
instansi…dllajr, tata-2 kota, pln, pam, pn gas, telkom
Ok pak. Yang anda sampaikan itu harus.
Cuma dalam artikel saya, saya khususkan dengan sekelumit cerita kecil saja. Yang mudah dipahami dan dicerna oleh setiap orang.
Saya mencoba menghindari untuk menceritakan semua secara lengkap tetapi tanpa esensi yang jelas.
Btw,
bila saya ceritakan semua, bisa-bisa artikel ini mengalahkan panjangnya novel Lord of The Ring tuh. Hehehe.
Thx sudah mampir.
Hehehe, menarik, lagi mo tulis tentang hal ini, jadinya lg baca2 blog yg da coba tlis masalah ini
Salam kenal
Thx sudah mampir..
Semoga tulisan kecil ini dapat membawa inspirasi buat anda..
Saya tunggu yah tulisannya. ;P
Benar itu org ars ama civil harus bersatu dlm mengubah wajah dunia ini yang awalnya gak ada menjadi ada tp gak cma dua disiplin ilmu ini yang bergandengan tangan semua disiplin ilmu pun pasti ada link satu sama lain.
O ya mas, d mana saya bisa dapatkan tutor-tutor mengenai cara belajar Autocad ? Terima Kasih sebelumnya
Pak Yanes, coba klik link “tentang CAD” di samping kanan dari halaman ini.
atau akses secara manual dengan mengetikkan :
http://www.tentangcad.com
semoga berguna..