Orang Udik Pergi ke Jakarta & ber-Busway Ria
Yah.. siapa lagi kalau bukan saya orang udiknya…
Barusan ini saya ke Jakarta. Tepatnya tanggal 29 April 2008. Untuk keperluan pekerjaan sih. Pada kepergian kali ini baru saya sedikit merasakan Jakarta. Lho, Pak Erwin belum pernah ke Jakarta?
Sebelumnya saya sudah pernah ke Jakarta. Tapi tidak terasa ke Jakarta. Lho? Kok? (Bingung). Saya sudah sekitar 6 kali ke Jakarta. Tetapi saya terkungkung di dalam rutinitas demikian :
Datang di bandara Sukarno-Hatta, – naik Airport Bus, – turun di Masjid Al Ashar, – Ke Direktorat Jendral Penataan Ruang (Ditjentaru) dan Departemen Pekerjaan Umum (PU), makan siang di kantin PU, rapat lagi sampai sore, lalu lari-lari cegat airport Bus di tengah-tengah jalan (yang ini jangan ditiru deh, tidak baik
), sampai di bandara sore lalu langsung kembali ke Surabaya.
Jadi meskipun saya sudah di Jakarta, tapi tidak terasa di “Jakarta”, karena kesibukan jadwal yang begitu padat.
Nah, kepergian saya yang terakhir ini tidak terlalu terikat dengan waktu. Maka jadilah saya berkelana di Jakarta. Yang pertama saya “cicipi” adalah Busway alias Bus Transjakarta. Moda angkutan yang satu ini belum ada di Surabaya maka saya penasaran seperti apa rasanya.
Pertama saya menaiki jembatan untuk menuju ke halte Busway. Adanya fasilitas ramp ternyata cukup membantu, terutama bagi penyandang cacat. Desain yang sangat memperhatikan pengguna batinku. (Beberapa waktu kemudian saya menyadari bahwa di beberapa tempat ada yang tidak ada rampnya! Seperti pada halte MPR, sekitar Bundaran HI dsb). “Tanya kenapa?”
Fasilitas Ramp dalam JPO Busway
Dalam perjalanan “Mendaki” ramp, karena yang mendaki berprofesi sebagai arsitek alias “tukang batik teknik” maka yang diamati lebih lanjut adalah konstruksinya. Untuk main brigde, JPO tersebut menggunakan bahan baja. Balok bentang tersebut nampak disambung karena bentang yang ada lumayan panjang.
Sambungan pada Balok Utama
Kaki penyangga main brigde ternyata menggunakan baja WF yang cukup besar. Saya tidak sempat mengukur, namun sekitar WF 700an. Tiap modul penyangga terdiri dari 2 buah kolom WF. Terdapat bracing/pengaku silang pada bagian bawah dari Jembatan guna stabilitas struktur.
Tiang Penyangga JPO Busway
Kaki JPO Busway
Untuk bagian ramp-nya sendiri, disokong oleh sebuah tiang besi silinder. Sedangkan bracing silang sebagai stabilitas tetap ada.
Tiang penyangga bagian ramp JPO Busway
Secara keseluruhan, kesan yang dihasilkan adalah jembatan tersebut terkesan “ringan”. Sebuah desain yang praktis mengingat jumlah JPO yang dibutuhkan tidak sedikit. Praktis dan “ringan”.
Penutup atap terbuat dari bahan polycarbonate juga menambah kesan ringan yang ada. Rangka kuda-kuda terbuat dari pipa besi dengan finishing galvanis (pada beberapa tempat ada yang finishing cat putih).
Penutup atap Polycarbonate berserta rangka kuda-kudanya
Tampak pada gambar di atas, instalasi kabel listrik untuk lampu sekedar dimasukkan ke pipa PVC, lalu diikutkan dengan jalur gording pipa yang ada. Pipa PVC tersebut ditalikan ke gording pipa. Solusi praktis.
Ok, lalu bagaimana dengan haltenya sendiri? Haltenya sendiri juga terdiri dari bahan-bahan praktis (aluminium, seng, besi finish galvanis dan sejenisnya) yang dirangkai bersama. Lumayan sebagai sarana transit.
Halte Busway – Bus Transjakarta
Ternyata di luar dugaan, Busway tersebut ramai luar biasa. Apalagi pada jam kerja dan jam padat. Dengan bermodal Rp.3.500,00 saya sudah bisa menggunakan fasilitas publik tersebut.
Pertama kali naik, kesannya : Wow, bersih. Meskipun lantai busnya sedikit basah karena hujan dadakan, tapi bisa terlihat bahwa bus tersebut terawat. Ada Air Conditioner alias AC. Dan yang terpenting ada penjaga pintunya di tiap bus! Ketika pintu terbuka, maka yang didahulukan adalah mereka yang keluar dari bus. Setelah itu baru mereka yang masuk. Semua itu dibantu oleh bapak/ibu yang menjaga pintu bus tersebut. Dan, sopirnya tidak hanya laki-laki. Pada bus-bus tertentu, kaum hawa juga ikut andil dalam menyetir “kadal raksasa” sepanjang sekitar 12m ini. Bukti keberhasilan RA. Kartini dalam “ngeblog” di masa lampau.
Interior Busway
View dari dalam busway, nampak bahwa jalan pada sisi kiri mengalami kemacetan.
Transportasi publik merupakan suatu kebutuhan di dalam kota maju. Kota maju identik dengan sarana transportasi publiknya yang memadai. Saya harap Busway – transjakarta adalah sebuah awal dan bukan sebuah akhir. Dengan berpindahnya masyarakat dari kendaraan pribadi ke fasilitas angkutan publik, maka energi yang dikonsumsi oleh kita juga akan berkurang. emisi Co2 berkurang. Bumi kita tercinta juga lebih nyaman kan?
Kapan Surabaya?
Saya kira tidak harus busway bila kajiannya tidak memungkinkan. Konsepsinya bisa beda. Tapi jiwanya tetap Transportasi Publik.
salam.




















Wah bagus mas Erwin, anda sudah memikirkannya. Kelihatannya yang merencana itu orang sipil doang, yang penting kuat dan kaku.
Kalau sudah masuk kenyamanan khan tugas arsitek ya. Foto halte yang dimaksud ada di tempatku, disini : http://wiryanto.wordpress.com/2008/05/07/jakarta-hanya-bagi-yang-mampu-saja/
Bagi saya, busway cukup membantu dari sisi transportasi.. walau kadang sampai berdesak-desakan.. tetapi cukup cepat dan relatif murah..
Jika naik sebelum pukul 07:00 Pagi, tarifnya hanya 2000 Rupiah.
Sayang, sang designer halte, khususnya koridor 1 sampai 3 tidak membuat 2 pintu. Yang jadi sangat kacau saat jam-jam sibuk.
Untuk koridor berikutnya telah belajar dari pengalaman dengan membuat 2 pintu dan bus-busnya juga memiliki 2 pintu, di tengah dan di belakang.
Satu kekurangannya, busway masih belum terintegrasi dengan moda yang lain, yaitu KRL yang setiap hari konon membawa lebih dari 500.000 orang keluar masuk Jakarta.
Salam kenal
Naik busway enak lho, apalagi kalau lagi pas macet…kita bisa melenggang di Jakarta…..
Bisa lihat tulisan saya di http://edratna.wordpress.com/2007/01/04/
menikmati-liburan-dengan-naik-busway/
Sebetulnya hidup di Jakarta enak, kalau bisa menyiasati, melihat waktu saat mau bepergian (biar tahu situasi macet tidaknya), rute jalan yang ditempuh. Pacar anakku awalnya juga kagok di Jakarta, sekarang malah suka bersepeda motor dengan pacarnya, keliling Jakarta, melihat kesibukan..dari Jakarta Barat-Utara-Timur-Pusat….kalau Jakarta Selatan memang lokasi kost dan kantornya.
Makasih Pak Wir, Hedwig dan Bu edratna atas kunjungannya. Semoga fasilitas umum yang kita punyai semakin berkembang dengan baik.
Salam.
Hallo Aloy…
wah tertarik nich baca ttg busway…
soalnya aku adalah pemakai busway jg, terutama wkt mau berangkat n pulang kerja…
Karena brgktnya pagi, biasanya sblm jam 7, harganya cuma 2000 doang, ttp krn aku berangkat dari koridor 3 Jembatan Baru ke Senen, jam-jam segitu wayahnya orang berangkat kerja, jadi padet…det…det.. sampe desak2an…
(entah kenapa, kalo koridor 3 orang2nya pada ga tertib, pada nyerobot, pintu sering diganjel dg tubuh, jadi agak was-was jg waktu berdiri di barisan paling depan, sering didesak dari belakang, pdhl kan berbahaya !! bisa jatuh ke jalan)
Belumlagi begitu masuk busnya, orang di dlm bus sering berdiri di bag tengah, apes kalo berbaur dengan banyak cowok, ada banyak bau nyampur jd 1, jg takut kecopetan…
Pernah sekali wkt krn ga dapet bus yg selalu penuh, aku bela-belain ke halte Kali deres (pusatnya). kupikir krn di pusat, pasti cepet n dapet duduk… eh tnyt malah lebih parah… antrinya pannnjjaaaaanggggg~~~
Banyak pemakai Jakcard tp parahnya, mereka ga mau antri, jadi langsung serobot gitu…
Yah.. itulah sedikit pengalamanku. Memang penumpang di Indonesia masih belum bisa tertib.
Usulku sih kalo bisa jumlah bus ditambah deh, jg kalo bisa diadakan busway khusus wanita… karena pengguna angkutan umum 60%-70% adalah wanita. Dan menghindarkan dari hal2 yg ga diinginkan, terutama saat kecepit di tengah2 para lelaki…. hehe
Wah… kalo pakai ramp memang bagus sih, ttp sering kali justru dipakai oleh pengendara motor untuk nyeberang….
Untuk ke depannya, saya berharap pemerintah kota Jakarta lebih memperhatikan dan memperbaiki sarana transportasi busway ini… karena buatku, busway itu bagus untuk jangka ke depan, begitu praktis mau kemana-mana gampang, berAC, dan bebas polusi !!
Haloooo Wen..
Ternyata pemakai Busway juga..
Iya, memang bila aku perhatikan cukup banyak pengguna Busway dari kaum hawa.
Problemnya ialah tingkat kenyamanan yang berkurang (apabila jumlah pengguna meningkat hingga berdesak-desakkan).
Bus khusus wanita merupakan salah satu solusi, solusi lainnya adalah menambah jumlah armada.
Tentang ramp. Ramp untuk pejalan kaki digunakan untuk pengendara sepeda motor? Wow!
Memang hebat ya?
Kreatif puool…
(Aduuh…)
Sebaiknya pihak pemerintah mulai menertibkannya deh. Bila dibiarkan akan semakin menjadi nantinya.
Salut. Sampai jumpa lagi Wen!
Thanx Pak Erwin, gambar samb wf”a terpakai untuk tugas kul saya, soal ramp yg digunakan untk pengendara spd mtr, alasan’a krn putaran /u turn terlalu jauh ditambah kalau lg macet & panas. ( tp tetap aja slh sih ) ,thanx.