Pentingnya Camera dalam Rendering Arsitektur
Mungkin sebagian dari kita menganggap hal di atas bukanlah yang utama. Mungkin juga ada yang berpendapat bahwa lebih baik memikirkan lighting, karena efek yang dihasilkan lebih mengena. Ada juga yang berpendapat material adalah yang utama yang menyebabkan hasil rendering seperti nyata.
Hal-hal yang dipaparkan di atas adalah benar adanya. Tiap bagian dari proses rendering turut mempunyai peranan dalam menciptakan sebuah output rendering yang baik. Mulai dari concepting, modelling, texturing, lighting, rendering hingga post-production di program lain.
Yang saya coba tekankan disini, adalah banyak dari kita, cenderung menganggap remeh proses penempatan sebuah kamera di dalam sebuah proses rendering. Waktu kita lebih banyak tersita untuk hal-hal lain seperti lighting, texturing dsb. Dalam benak kita, itu hanyalah sebuah kamera. Pokoknya ditaruh, hadapkan ke bangunan yg akan dirender – selesai. Mendingan waktu yang ada digunakan untuk proses yang lain.
Camera = Vista mata
Seperti mata adalah jendela hati, begitu pula posisi kamera adalah jiwa dalam sebuah rendering. Kamera adalah mata virtual kita. Dengan kamera, kita dapat menunjukkan kepada klien apa yang mereka harus lihat dan perhatikan.
Lebih dalam lagi, penempatan sebuah kamera yang tepat akan membawa nilai estetis tambahan, disamping nilai estetis bangunan itu sendiri.
.
Komposisi kamera = lukisan kanvas
Kamera, mengkonversikan lingkungan 3 dimensi ke dalam sebuah bidang datar 2 dimensi. Bidang 2 dimensi yang tercipta sangat mirip dengan bidang kanvas pelukis.
Seorang pelukis dalam berkarya tentunya memperhatikan komposisi di dalam lukisannya. Bila ia menggambar sebuah pot bunga dengan bunga mawar sebagai fokus, tentunya ia akan membuat bunga mawar tersebut menjadi fokus perhatian. Entah diletakkan ditengah-tengah, digambar dengan background yang blur, diberi spot light dsb. Sang pelukis tentunya tidak akan menyandingkan bunga tersebut dengan lukisan bunga lainnya yang sama besar, disandingkan bersebelahah sehingga memicu dualisme.
Komposisi secara 2 dimensi.
Hal inilah yang saya coba sampaikan. Kamera di dalam prakteknya, memiliki segi artistik tersendiri yang dapat dieksplorasi lebih jauh.
- Posisi Kamera
Sebagai contoh, coba tengok gambar berikut ini.
Image Courtesy : The Gateway – MIR (VM Masters)
Gambar tersebut diambil dari situs resmi Autodesk. Bila anda amati baik-baik, mungkin selain anda kagum akan indahnya rendering tersebut, anda juga akan kagum dengan posisi penempatan kameranya.
Overhang pada teras menjadi “bingkai” dalam rendering. Sebuah komposisi yang indah di dalam sebuah output 2D. Kumpulan obyek 3D menjadi semakin menarik ketika diproyeksikan ke dalam ranah 2D beserta komposisi pendukungnya. Sebuah gambar hasil rendering manjadi lebih bernyawa dengan penempatan posisi kamera yang tepat. Posisi kamera yang tepat dapat mendukung image yang dihasilkan.
- Camera Tilting/Banking
Mungkin bagi pencinta fotografi sudah paham yang saya maksud. Seringkali sebuah view yang biasa, menjadi lebih menarik hanya dengan memainkan kemiringan kamera. Teknik sederhana ini membawa dampak yang lumayan berarti di dalam sebuah rendering.
Image Courtesy : Stephanus Adrianta (link)
Image Courtesy : Rio Laksana (link)
Untuk contoh gambar di atas, coba perhatikanlah kemiringan yang sengaja dibuat.
Coba anda bayangkan seandainya gambar di atas di render dengan kamera yang tidak dimiringkan. Tentunya kesan yang didapatkan sangat berbeda.
Terdapat sebuah nilai artistik tersendiri dalam sebuah kamera yang diatur dengan gaya di atas. Saya kira ilmu fotografi dan rendering bisa digabungkan bersama guna menghasilkan sebuah output yang baik.
It’s nice view isn’t it? For both pictures above.
- Camera focus.
Terkadang, bila fokus kamera kita mainkan, efek blurring yang ada cukup membantu mendramatisir output rendering kita. Tipe permainan kamera ini, cocok diterapkan apabila kita mempunyai sebuah objek yang bagus dan ingin kita ekspos tanpa mengabaikan sekelilingnya. Tipe permainan kamera ini tidak cocok apabila digunakan untuk menceritakan view ruangan secara keseluruhan. (Namanya saja camera focus, ya fokus ke sebuah detail tertentu /suasana tertentu.)
Image Courtesy : Rio Laksana (link)
Image Courtesy : Osho international – 3seventh (VM Masters)
Image Courtesy : Aspekt – Furniture – Michal Surdel (VM Masters)
istilah untuk ini dikenal dengan nama Depth of Field (DOF). Untuk software-software rendering sudah banyak yang disertai fasilitas ini. Tinggal bagaimana kita menggunakannya saja.
- Lens Cam Distortion
Untuk yang satu ini, seringkali digunakan pada ruangan yang cukup sempit. Hal tersebut memacu kita untuk mengecilkan lensa kamera dibawah ukuran normal (35mm). Namun apabila sudut yang kita ambil tepat, hasilnya bisa jadi lebih baik daripada di-shot dengan lensa ukuran normal.
Image Courtesy : Lionel Ferlinden (VM Masters)
Image Courtesy : Music library – Mauricio Santos (VM Masters)
Image Courtesy : commercial Mall – IE3D (VM Masters)
Image Courtesy : Nadeem Bhatti (VM Masters)
Lensa kamera, semakin kecil nilai mm-nya semakin tinggi distorsinya, namun dengan sedikit pengaturan posisi dan angle. Dampak negatif tersebut justru berbalik menjadi nilai plus bagi kita.
- Shutter effect
Lama bukaan shutter dapat digunakan dalam rendering. Pada umumnya efek artistik yang didapatkan adalah adanya kesan “movement“. Adanya kesan bahwa image tersebut bergerak. Sehingga gambar yang dihasilkan lebih hidup.
Image Courtesy : Ridwan Kamil – Urbane
Image Courtesy : Erwin – Myself
Kesan pergerakan seperti gambar-gambar di atas dapat dibuat langsung pada program 3D, atau dapat juga di edit pasca rendering.
Demikian sekilas pemaparan pemikiran saya mengenai pentingnya kamera dalam rendering. Tidak banyak memang, namun harapan saya semoga dapat menjadi inspirasi positif bagi rekan-rekan yang memang berkecimpung di bidang ini. Salam. Erwin.






















wahh..wahh…betul-betul tajam analisa pak dosen satu ini….
setuju rek, sudah seharusnya kita memperlakukan fungsi camera pada suatu software gambar bener-bener seperti ketika kita hendak memfoto suatu obyek
bahkan camera pada suatu software (plugin render) mempunyai kelengkapan fitur/fasilitas seperti kamera aslinya (mis. ISO, shutter speed, diafragma/F-stop, dll)
cuma memang “sedikit lebih” menambah waktu render kalo kita pake fungsi tersebut
Walah pak Zie, ini cuma usaha untuk membantu rekan-rekan yang lain kok.
Berawal dari rekan2 yang baru merender. Namun akhirnya terkesan agar kaku. Terutama dalam mengambil view kamera.
Saya hanya mencoba menjembatani mereka.
yah, moga-moga bermanfaat lah.
Sukses pak Zie.
wah artikelnya keren…
mau minta izin dicopy nih….
visit–> http://www.konsultan-arsitektur.com/
nice2 hehe