4 days Around Wanggudu
Wanggudu adalah sebuah kota kecil. Termasuk dalam wilayah Konawe Utara. Letaknya sekitar 126km di sisi utara Kota Kendari.
Beberapa hari yang lalu saya barusan dari kota tersebut. Lho, apa yang saya lakukan sehingga harus dihukum ke kota kecil tersebut?
Saya cuma membantu senior saya dalam Perencanaan Kota. Namun apesnya, perencanaan kota yang didapat kali ini bukan di kota besar. Melainkan di dusun nan jauh di sana.
Let The Journey Begin
Jadi perjalanan saya dimulai dengan naik pesawat dari Surabaya. Perjalanan pesawat tersebut ditempuh selama 1 jam 10 menit. Setelah transit di kota Makassar selama 1 jam, perjalanan dilanjutkan kembali ke kota Kendari selama 1 jam. Apa yang saya lakukan di pesawat? Tidur.
Setibanya di bandar udara Wolter Monginsidi – Kendari, bau hujan langsung menusuk hidung. Ternyata di sana masih musim hujan! Pada bulan Juli hujan turun dengan derasnya di kota Kendari. Benar-benar suasana yang berbeda dari kota asal keberangkatan (Surabaya) yang panasnya bukan main.
Setibanya di Kota Kendari kami pun beristirahat dan melakukan persiapan untuk perjalanan jauh ke Wanggudu keesokan harinya. Koordinasi dengan dinas terkait terlebih dahulu kami lakukan untuk memudahkan perjalanan kami.
Keesokan hari, kami mulai menempuh perjalanan menuju sisi utara Kota Kendari. Perjalanan sejauh 126km tersebut akan ditempuh dalam waktu kurang lebih 3 jam. Menurut rekan yang menemani kami, kondisi jalan menuju Wanggudu dikabarkan cukup buruk. Banyak aspal yang rusak, dan sejauh kurang lebih 12km merupakan jalan tanah. (oops!) Bila kondisi hujan cukup deras, terdapat kemungkinan longsor dan jalan tertutup, atau jalan tanah terlalu lembek sehingga ban mobil tidak dapat melewatinya. Dan yang membuat saya sumpek…. Tidak ada sinyal HP!! Yup. Tidak ada sinyal.
Awal mula perjalanan kami menempuh bukit terlebih dahulu untuk sampai ke pesisir pantai. Saya yang biasanya tahan banting mulai merasa mual karena kondisi jalan di bukit tersebut. Namun terlepas dari lokasi itu kondisi jalan sudah tidak berliku-liku lagi.
Nampaknya kelegaan saya tidak berlangsung lama. Karena jalan aspal tersebut tidak mulus seperti di kota besar. Namun hampir seluruhnya rusak atau terpotong sebagian, bercampur dengan tanah. Di dalam mobil kami seperti dikocok-kocok dan diaduk-aduk. Mending kalau jalannya lurus saja, ini ditambah naik dan turun bukit lagi. Sepertinya Colin McRae perlu mencoba rally di Sulawesi.
Pasti medannya tidak kalah sulit dengan negara-negara lainnya.
Rencana survei sambil berangkat ditunda dan digantikan ketika waktu pulang nanti. Maka mobil yang kami tumpangi bergegas menuju Pusat Kota Kabupaten Konawe Utara yaitu Wanggudu.
Perjalanan menjadi semakin seru mendekati kota Wanggudu. Hal itu disebabkan medannya yang semakin berbukit. Dikombinasikan dengan faktor jalan tanah yang buruk menjadikan perjalanan ini adalah perjalanan yang tidak terlupakan.
Untung juga mobil yang kami tumpangi adalah Nissan X-Trail. Yang terpenting adalah mobil yang mempunyai ground clearance tinggi serta daya akselerasi yang powerful..
Setelah dag dig dug karena ban mobil sering kali selip, dan ‘njedog’ berkali kali maka sampailah kita di kota Wanggudu. (Akhirnya…)
Setidaknya kelelahan di perjalanan dapat diobati dengan melihat indahnya pemandangan di Konawe Utara. Nampak pada gambar kantor Bupati dengan latar belakang pengunungan. Wow, beautiful isn’t it?
Setelah membereskan beberapa urusan, koordinasi dengan pihak sini dan pihak sana, maka kami mulai mencari makan. Oleh rekan kami diarahkan ke sebuah warung tidak jauh dari kantor Bupati. Menu utamanya adalah sop daging rusa. Lumayan, di Jawa kan ndak ada. Maka kami semua tenggelam dalam kesibukan masing-masing dan berkonsentrasi menghadapi lawan di depan mata. (makanan hehehe..)
Setelah selesai makan, perjalanan pulang pun mulai kami tempuh. Lokasi survei kami datangi satu persatu untuk menambah wawasan kami akan wilayah perencanaan. Selama perjalanan turun, kami semua secara psikologis sudah lebih mantap menghadapi medan yang akan dilalui. (Karena sudah pernah dan sudah tahu). Hal itu menyebabkan secara tidak langsung perjalanan pulang seolah-olah lebih menyenangkan.
Yang menjadi hal lucu, di tengah-tengah perjalanan terdapat Tower TVRI yang juga sekaligus berfungsi sebagai BTS Telkomsel. Jadi penduduk setempat bila ingin berkomunikasi dengan HP mereka harus turun dahulu menuju lokasi di sekitar TVRI sehingga mendapat sinyal. Maka jangan heran bila di sekitar tempat tersebut banyak sepeda motor atau mobil yang parkir. Dan semuanya melakukan aktivitas yang sama, memencet tombol-tombol HP. (Sebuah fenomena teknologi di kota terpencil.)
Selanjutnya, survei kami lanjutkan menuju pantai di sepanjang wilayah perencanaan. Kekayaan Indonesia yang luar biasa tampak pada sepanjang pantai yang kami amati. Penduduk setempat memproduksi perahu kayu, ganggang laut, mutiara, dan penangkap ikan.
Setelah capek survei, kami kembali ke hotel. mengistirahatkan punggung yang pegal dan mau patah.. Perjalanan yang cukup melelahkan dan menantang. Namun kami masih harus 2 kali lagi kembali ke kota tersebut. Yah.. dinikmati saja kata rekan-rekan yang lain.
Ketika malam tiba, kami pun berangkat untuk mencari makanan khas Kendari. Ikan!
Ikan di kota Kendari berbeda dengan di Jawa. Kata orang sana kalau ikan di Pulau Jawa sudah mati 3x. Mati ketika ditangkap, mati lagi ketika di freezer dan mati lagi ketika di goreng. (ada-ada aja..). Maksud mereka, ikan di kota Kendari fresh. Benar-benar fresh dan segar. Setelah memilih ikan mana yang disenangi, (saya memilih ikan putih) lalu kami pun duduk selagi menunggu ikan tersebut dibakar.
Hal unik lainnya adalah ikan tersebut dimakan dengan bumbu kacang. Kita bebas untuk menambahkan tomat, bawang merah, bawang putih, cabe rawit ke dalam bumbu kacang yang telah disediakan. Nyam.. pengalaman kuliner yang tidak terlupakan..
Yah.. begitulah sekilas cerita mengenai perjalanan di Kota Kendari dan Wanggudu. Semoga dapat memberikan wawasan dan tambahan cerita bagi rekan-rekan lain.
Salam.
Erwin
Juli 2008.





























Itulah Indonesia…. (diucapkan dgn gaya lagu dari sabang sampai merauke he he he…..) Aku yg udah puter2 kemana-mana (tp sayangnya blm ke konawe) ngrasain bgt kesenjangan di negara kita, antara kota spt Jkt, Sby, Bdg dll dibandingin kota spt Wanggudu itu tp yg asyik ke daerah2 gitu adalah nyobain makanan yg gak bakal kita temuin di kota kita ya kan bro…? Dan pemandangan asyik plus seru….. Serta pengalaman yg selalu memperkaya wawasan hati, jiwa dan pikiran kita
Setuju kaka Carlos..
Untuk hal demikian mendingan kita lihat dari kacamata positif saja. Karena banyak hal yang bisa kita dapat dari sebuah pengalaman.
Salam.
wah pasti jadi pengalaman yang menarik buat mas,
kebetulan saya dari kendari ya mahasiswa urban ugm menurut mas pontensi yang ada baiknnya arahan RTBL dan perkembannya itu gimana
Halo Mas Hakim.
Senang anda bisa mampir ke tempat ini.
Kendari merupakan sebuah kota unik yang mempunyai potensi.
Penataan pola-pola grid pada area perkotaannya sangat rapi dan baik.
Ditunjang dengan penataan kompleks pemerintahan – tugu pancasila – Menara Persatuan yang merupakan satu garis lurus menciptakan axis kuat ke arah barat-timur.
Akses jalan dari bandara menuju Kota Kendari sudah mempunyai icon-icon. Bundaran Lepo-pepo – Bundaran Baruga – Bundaran Stainless – Tugu KB. Merupakan tetenger kota yang baik dan dapat dijadikan acuan masyarakat.
Hal-hal yang menurut saya harus diperhatikan untuk pengembangan lebih lanjut adalah penataan pada kawasan sekitar pantai, jalan poros utama jalan Kendari menuju Bandara, serta perumahan-perumahan liar di lereng bukit.
Banyak investor masuk ke kendari dan mulai membangun. Hal ini positif. Tetapi apabila tidak dikontrol lebih lanjut akan menjadi bencana kelak.
Ruko-ruko sekarang sudah menjamur di Kendari. (Kendari = kota ruko? Harus kita benahi image tersebut).
Sungai Wanggu yang melewati sisi timur kota melewati daerah terminal juga berpotensi sebagai alternatif jalur transportasi dan salah satu potensi wisata air.
Demikian sepenggal pemikiran dari saya. Mungkin belum sempurna namun kita tetap saling mengisi satu dengan lainnya kan? Semoga kota kendari semakin maju.
Salam.
Sebuah perjalanan yang melelahkan tetapi sangat menakjubkan ….
Perlu sekali-kali dilakukan untuk mengatasi kejenuhan di Jakarta yang penuh hiruk-pikuk
Halo Wenny..!
Lama tak berjumpa..
Memang perjalanan tersebut melelahkan banget!
Tapi anggap saja lagi jalan-jalan. Hehehe.
Biasanya semakin dipikir-pikir (bahwa itu pekerjaan) maka hati semakin sumpek.
Maka itu sejak awal keberangkatan saya sudah berusaha untuk ‘menghipnotis’ otak saya dengan kata-kata : “Nanti mau pergi jalan-jalan lho..” Berulang-ulang kali…
Kaya dukun aja ya? Hehe. Salam ya buat teman-teman yang ada di Jakarta. Aloy
waaah keren bgt tu mas… btw saya mau ditempatin di konawe utara. buat di KPU daerah. sy msh cari info tentang geografis ‘n demografis, juga culture social life orang2 di sana sebelum saya “perang”. kasi bocoran lagi dong mas biar ngga buta2 amat soalnya sy asli jakarta.. biar ngga jadi alien di sana.. tks bfore,
kirim ke e-mail saya juga ok mas..!
Terima kasih sudah mampir Pak Adi.
Senang ada rekan yang masih peduli dan mau untuk dikirim ke daerah tertinggal.
Satu hal yang pasti, banyak penduduk di Wanggudu yang bukan asli penduduk sana. Kebanyakan staff pemerintahan berasal atau berdomisili di Kendari atau Konawe Selatan.
Konawe Utara karena merupakan wilayah baru hasil dari pemekaran, menyebabkan sistem pemerintahannya masih sementara. (Ketika kami datang pada waktu itu).
Terima kasih sudah mampir Pak Adi. Salam dan sukses selalu.
halo, saya asli dari kendari (lahir di kdi ), dan sejak kecil sdh sering ke konawe utara tepatnya ASERA, kalau ke wanggudu pasti lewat asera( desa EMAPU ), memang konawe utara adalah kabupaten pemekaran dari kab. Konawe ( UNAAHA ), disini sy hanya ingin menambahkan kalau ke KONUT bisa juga di lalui dengan transportasi laut, tapi sayang saat ini transportasi laut yang ada kurang memadai, mungkin karena sekarang ini sdh bisa di lalui lewat jalur darat yang waktu tempuhnya lebih cepat, buat teman2 yang baru pertama kali ke KONUT dan gemar berburu, disana teman2 bisa berburu jonga (rusa), ada juga kerang sungai yaitu pokea…….
SALAM
Sudah hampir 6 bulan saya bertugas di Konawe Utara. Sejauh ini saya masih sangat menikmati keindahan panorama alam dan kultur masyarakat asli asera/wanggudu..! mengingat perambahan pemukiman mulai gencar di bangun infrastruktur mulai terlihat, pertumbuhan masyarakat urban kian meningkat yang tanpa disadari kian menyebabkan degradasi budaya, hingga makin tersudutnya masyarakat asli. Terlepas dari kendala komunikasi dan listrik saya mencoba untuk tetap mensyukuri petualangan saya di wanggudu.
Saya amati (karena saya di KPU) tensi politik masyarakat di sini terbilang amat tinggi ..! jadi jangan heran kalo banyak demonstrasi yang demo orangnya itu itu juga, padahal agenda demonstrasinya beda…! tapi biar gimanapun saya tetap mendoakan semoga tanah ini senantiasa di berkati dan dirahmati Allah SWT,