Arsitek Dalam Dunia Kerja
Beberapa waktu lalu saya bertemu dengan seorang arsitek angkatan atas. Dalam pertemuan tersebut kami sempat berbincang seputar profesi. Banyak hal yang kami bicarakan. Tentunya sebagai arsitek muda saya juga ingin tahu lebih dalam mengenai profesi arsitek secara profesional. Menggali ilmu dari yang lebih senior begitu…
Pada prinsipnya tidak banyak yang berbeda, kecuali jam terbang yang lebih tinggi tentunya.
Namun ada satu hal yang justru menggelitik saya dari perbincangan tersebut. Apakah itu?
Kesan pertama kita ketika masuk dunia kerja!
Lho mengapa kok saya tergelitik?
Coba kita dengar dulu cerita berikut ini.
First impression
Waktu sedang berbincang-bincang dengan arsitek senior angkatan atas, dia menceritakan pengalaman first impressionnya.
Pertama kali dia diterima di tempat kerja, dia diposisikan sebagai tenaga arsitek. Yup! Arsitek. Sesuatu yang kita semua idam-idamkan ketika lulus. Dengan demikian, dia secara otomatis disediakan 2 orang tenaga drafter oleh kantornya. Kelihatannya biasa-biasa saja. Seorang arsitek yang membawahi beberapa orang drafter merupakan sebuah hal yang biasa dan lazim.
Namun menurut dia, dengan posisi kerja pertamanya sebagai arsitek, secara tidak langsung mindsetnya langsung tersetel untuk fokus kepada ranah desain dan estetika. Waktu yang dipunyai, dicurahkan untuk proses penggalian ide dan konsep. Model bentukan, material finishing, survei internet, dsb. Koordinasi dengan owner seputar selera/taste. Beberapa hal yang penting dalam dunia desain.
Pada akhirnya, seiring dengan jam terbang yang semakin tinggi, semakin tinggi pula daya pengolahan idenya.
What about the other side ?
Pada sisi sebaliknya, mereka yang memulai kerjanya sebagai drafter alias ‘tukang batik teknik’ mempunyai kisah yang agak berbeda. Ketika mereka pertama kali bekerja, pada umumnya desain yang ada sudah setengah jadi. Yang perlu mereka lakukan adalah mematangkan desain yang ada dan mewujudkannya dalam bentuk gambar kerja. Mereka lebih fokus kepada detail gambar, teknis sambungan struktur, pembesian dan hal-hal sejenis.
Pada intinya, mereka berusaha keras agar desain konseptual tersebut bisa terkonstruksi dengan baik sehingga dapat terbangun.
Mind Alignment
Bila ditinjau dari pengalaman rekan-rekan di atas, secara tidak langsung apa yg kita lakukan ketika pertama kali di dunia kerja akan ‘mengendap’ di pikiran kita, dan secara tidak langsung akan ikut ‘menyetir’ pikiran kita. (secara sengaja maupun tidak).
Ok, hal tersebut bisa dirubah..
Tetapi hal tersebut sedikit banyak menimbulkan sedikit ‘kuncian’ kepada otak/cara berpikir kita.
Sebagai gambaran untuk membantu membayangkan..
Rekan-rekan teknik sipil dalam membuat bentukan massa, rata-rata dari mereka akan menggambar rumah tersebut dengan bentukan dasar kotak atau kombinasi dari kotak, dengan sistem kolom balok yang menerus satu dengan lainnya. Berpola grid teratur satu dengan lainnya.
Mengapa demikian?
Pendidikan yang ditempuh mereka sedemikian detail dan rumit dalam hal perhitungan struktur. Sehingga mereka tahu benar konsekuensi dari sebuah bentukan lengkung dan kolom-balok yang tidak menerus. Pada intinya, secara ‘naluri’ yang didapat dari pelatihan 4 tahun (S1) mereka berusaha untuk menghindari timbulnya momen-momen yang tidak efisien. Prinsip sejati penyaluran beban : beban harus disalurkan dalam jalur terdekat dan secepat mungkin menuju tanah.
Contoh di atas memaparkan bahwa apa yang kita dapatkan secara terus menerus (kuliah, seminar) akan terpatri di alam bawah sadar kita. Hal tersebut akan berpengaruh terhadap sikap kita terutama dalam mengambil keputusan.
Kesadaran Diri
Saya sendiri memulai karir dari dua buah kacamata di atas. Pertama, saya bekerja ikut orang lain. Dengan demikian saya berposisi sebagai drafter yang bisa berpikir desain. Tugas utama saya adalah mengatur agar desain atasan saya dapat terwujud dengan baik. Transfer dari sketsa tangan yang nyaris tidak berbentuk menjadi sebuah gambar kerja lengkap yang dapat dibangun. Pada tahap ini, dibutuhkan kemampuan teknis tinggi.
Desain sambungan kayu dengan beton, desain pertemuan atap dengan ornamen facade, desain pertemuan atap pergola dengan atap utama dan lain sebagainya. Bagaimana cara mengetahuinya? Mau tidak mau, saya terpaksa turun ke lapangan. Setiap kali melihat proyek konstruksi, saya selalu mampir untuk lihat-lihat. Penasaran dan ingin tahu yang besar. Seperti apa sih kuda-kuda di dunia nyata? Sambungan ring balk dengan kuda-kuda itu bagaimana? Bagaimana cara membuat kaca frameless? Bagaimana sih cara melapis kolom bundar dengan material lain?
Benar-benar kebutuhan yang berbau teknis.
Pada sisi lain, saya juga berposisi sebagai freelancer desain. Adanya tuntutan kemampuan desain yang tinggi, tentunya bertentangan dengan posisi saya di kantor. Akhirnya mau tidak mau ,kembali saya terpaksa berburu bahan ide. Entah ke kampus, lihat ke toko buku, sampai kelilingan lihat lokasi tertentu. Pasang muka tebal dengan bertanya-tanya kepada arsitek senior. Sampai browsing internet semalam suntuk.
Benar-benar kebutuhan yang berbau desain.
Pada waktu itu, saya akhirnya kebingungan sendiri. Masuknya informasi ke kepala saya sedemikian banyak seperti banjir bandang. Perlahan lahan saya mulai memilah dan belajar untuk menangani informasi tersebut.
Jadi ?
Mengapa saya menulis artikel ini? Saya berusaya cuma membuka wawasan kepada rekan-rekan arsitek muda, bahwa jalan di depan anda masih panjang.
Bila posisi anda desainer, kuatkanlah juga sisi teknis anda.
Tidak sedikit arsitek yang mempunyai ide heboh/bagus namun kesulitan dalam penerapan kondisi real. Kekurangan pengetahuan teknis membatasi ide anda sehingga tidak dapat dilaksanakan di lapangan.
Bila anda drafter, kuatkanlah sisi desain anda.
Bila anda terlalu terbenam kepada hal teknis, maka desain anda akan menjadi kaku dan terpola. Jiwa desain menjadi mati dan tak bernyawa.
Demikian setidaknya pemikiran saya. Bagi rekan-rekan teknik sipil, harap pemikiran saya jangan ditanggapi salah. Saya cuma memberikan contoh gambaran saja tanpa maksud negatif apapun.
Salam.
Erwin. Juli 2008










Yup…. like I always said…. Out from the box…. Out from the box….. Kita harus seelastis mungkin kalo mau berhasil dan jgn jadi “manusia satu buku” yg artinya pengetahuannya itu2 aja gak mau ngambil dr disiplin ilmu yg lain dan jgn lupa selalu rendah hati bertanya dgn org lain. Bisa2 aja si arsiteknya kalah pinter ma tukang bangunannya
Hahaha.. sudah terjadi kok Bang Carlos..
Di lapangan.. si mandor justru jadi guru bagi saya. Setidaknya hal-hal positif yang berguna bagi perkembangan pasti kita tampung. Sukses selalu.
Ada pengalaman baru yg saya rasakan sebagai seorang desainer dan 3D creator…
Sering dikejar2 waktu oleh client dan kadang diminta unutk meniru seuah desain bangunan atau interior lain…
Kadang saya merasa bukan sebagai seorang arsitek…tp sedang make-up sebuah bangunan…
Ada yg punya pengalaman yg sama?
Aku bukan arsitek tp mungkin quite understand perasaan anda…… Yah gimana ya, karena bagaimanapun berlaku hukum pelanggan adalah raja(termasuk klien he he he……) Tp yg penting gimana kita bisa menjaga agar api kreatifitas gak hilang karena termakan rutinitas ngerjain gitu2 aja spt make up bangunan or whatever lah…… (maunya sih ngiklanin blogku hua ha ha…..
)
Tulisanku diatas didedikasikan untuk sdr bill 99 (mesti lupa nulis @….. #$%[*&^#*}&^%$#*&^)
Hallo Bill, Carlos…
)
Apa yang saudara Billy alami adalah suatu kenyataan sering kita hadapi.
Pada akhirnya, desain bangunan tersebut adalah “design by owner”, dan bukan desain kita. (meskipun kita yang kerja banting tulang.., tulang kok dibanting ??
Ada 2 sudut pandang dalam melihat masalah tersebut.
Pertama..
Arsitek yang desainnya sesuai dengan taste/selera nya sendiri (yang diakui sendiri bagus..) tentunya bersifat relatif. Maksud saya, bagusnya si Arsitek tentunya tidak sama dengan bagusnya si Owner.
Hal tersebut mungkin yang memacu si owner untuk mengambil jalan pintas, dan meminta si Arsitek untuk mencontoh bangunan lain. Tujuannya simple, biar cepat.
Bila kita lihat sisi positifnya : Arsitek yang baik harus bisa mewujudkan ‘bagus/indah’ dari sudut pandang klien, bukan dari sudut pandang dia.
Sudut pandang kedua :
Si Arsitek tentunya sudah paham betul mana yang baik dan mana yang kurang baik. Seharusnya si klien menyerahkan pemilihan model, bentuk dan material kepada arsitek. Mengapa? Karena si Arsitek tahu yang terbaik. Dengan pengalaman dan jam terbang mereka yang sedemikian lama, sudah tentu mereka paham betul bagaimana cara mendesain bangunan. Bila klien ikut campur terlalu dalam, maka akan merusak jiwa desain secara keseluruhan.
Got it? Ada dua kubu, ada dua cara berpikir. Saya tidak menyarankan untuk memilih yang mana. Hanya sekadar menceritakan saja.
pengalaman yang saya alami.
Dua kubu di atas seperti dua buah ‘agama’ yang berbeda, dan agak sulit digabungkan. Aliran ‘klien’ dan aliran ‘kreatifitas’.
Yang pasti, dengan menyadari adanya hal seperti itu kita sudah selangkah lebih maju. tinggal bagaimana kita menyikapi dalam dunia kerja.
Salam Bill n Carlos..
Kedatangan kalian kunanti lagi.
Salam kenal buat Pak Carlos….
Thanks buat masukannya…
Awalnya kadang bete juga menghadapi masalah tersebut….
tapi setelah dipikir2…maklum juga kalo pelanggan jadi cerewet….karena mereka akan mengeluarkan uang yg tidak sedikit (biaya bangunnya kan ga murah….moga2 biaya desainnya juga ga murah….hehehe…)
mereka butuh kepastian agar hasilnya tidak mengecewakan….
Menurut YB Mangunwijaya, profesi arsitek memang belum diakui penuh…
lain dengan profesi seorang dokter yang pasiennya tidak akan mendikte dalam penulisan resep….
Ya itung2…para arsitek masih dalam tahap “tabib” sebelum jadi dokter
Design by owner….??? Menarik….. karena aku baru mengalami hal yg rada sama. Aku punya designer grafis yg mengklaim bahwa karya2 yg dihasilkan selama ini adalah karyanya….. Padahal kenyataannya dia hanya mewujudkan ide yg ada di pikiranku hanya karena aku bukan designer grafis jd aku serahin ke dia…… Tp semua ide dan konsep dari aku. So…..???
@Carlos:
apa yang anda alami adalah persis seperti yang saya ceritakan di atas. pada sudut pandang pertama.
ranah desain memang sangat luas, tetapi permasalahan yg timbul hampir serupa.
pada gilirannya, pihak desainer harus memahami situasi yg terjadi dan berusaha “memutasi” metode pendekatan dgn kliennya.
bahasa sederhananya, yang kita cari adalah win-win solution. pihak owner senang karena merasa ikut desain, kita sendiri juga senang karena berhasil mengakomodir keinginan klien tersebut tanpa merusak desain makronya.
Kalo gitu sesungguhnya yang jadi “owner” dari sebuah rancangan siapa ? Pemesan yg punya ide dan konsep asli sampe ke detil2nya atau sang designer yg mewujudkan ide itu menjadi sebuah benda yg real
Abang Carlos, saya sudah membuatkan tulisan seputar topik yang berkembang ini. Silahkan kunjungi link berikut :
http://erwin4rch.wordpress.com/2008/09/22/desainer-klien/
hi! boleh nanya gak? kamu belajar architecture juga ya?
em… aku belajar architecture,tapi aku kuliah di taiwan jadi gak gitu tau di indonesia sama taiwan pelajarannya beda jauh gak..
em..kalo kamu ada waktu,boleh ngobrol2 gak? lewat msn?
kalo ok mail me ok?
thank you!
Hai Lala. Salam kenal..
Senang dapat bertemu dengan teman seprofesi…
Monggo YM saya.. bisa di aloy_zeus@yaho.com (untuk yaho tambahkan dengan ‘o’ lagi jadi ‘yahoo’). Maaf agak saya samarkan. Untuk mencegah spammers.
Sukses selalu untuk Lala. Jalan kita masih panjang. ^_^