Berpikir Lateral – an Alternative Thinking Method

2008 Agustus 8
by erwin4rch

Memang berpikir merupakan senjata utama seorang Arsitek. Pola pikir desainer dibentuk sedemikian rupa sehingga seolah-olah menjadi ‘template’ di dalam kepala kita. Akan tetapi tulisan ini tidak hanya diperuntukkan untuk arsitek. Tulisan ini lebih membahas tentang desain, hanya saja si penulis mempunyai latar belakang arsitektur.

Diantara template-template di dalam kepala kita, ada yang dinamakan Berpikir Lateral. Bahasa sederhananya adalah  : Mencoba untuk berpikir dari sudut pandang lain, atau mencari solusi dengan hal-hal yang belum terpikirkan sebelumnya. Menggali sesuatu yang baru yang dapat memecahkan masalah yang sedang dihadapi.

Coba kita simak penggalan kisah ini :

Seorang insinyur, mekanik dan arsitek ditantang oleh pemilik gereja. Mereka disuruh untuk mengukur tinggi menara gereja dengan hanya berbekal sebuah alat barometer. (Pengukur tekanan udara). Pertama, si insinyur beraksi. Dia mengukur tekanan udara di bagian bawah gereja, lalu kemudian dia mengukur tekanan udara di puncak menara gereja. Dilanjutkan dengan perhitungan kalkulasi sederhana kemudian dia menyatakan tinggi gereja tersebut.

Si mekanik tidak mau kalah, dengan ilmu yang dimilikinya dia langsung naik ke atas menara dan menjatuhkan barometer tersebut ke bawah. Dia menghitung lama yang dibutuhkan barometer tersebut hingga mencapai permukaan tanah untuk kemudian dikonversikan menjadi tinggi menara.

Tetapi yang dinyatakan sebagai pemenang oleh pemilik adalah si arsitek. Dia melangkah santai ke dalam gereja, ‘menghadiahkan’ barometer di tangannya ke penjaga gereja dan menukarkan barometer tersebut dengan cetak biru bangunan (blueprint) yang dimiliki oleh penjaga gereja.  :D

Terasa konyol bukan?  Cerita di atas hanya mencoba untuk memotivasi kita bahwa kita mempunyai kemampuan besar untuk berpikir.

Another story,… kali ini lebih nyata..

Seorang arsitek dipanggil oleh kliennya. Kali ini diminta tolong untuk merenovasi rumah tinggalnya. Sepengamatan si arsitek, rumah itu sangatlah nyaman. Tatanan letak ruangan dan perabotnya sudah sangat pas. There’s nothing wrong with this house! pikirnya. Apabila rumah ini direnovasi malah akan membawa bencana baru yang lain. Tetapi kliennya tetap mengeluh bahwa rumahnya terasa sumpek, tidak privat dan tidak nyaman. Samar-samar terdengar dari kamar anak di lantai 2, suara musik rock yang lumayan keras dan dalam sekejap intuisinya bekerja. “Sebenarnya klien ini tidak membutuhkan renovasi ataupun rumah baru, dia hanya merasa tidak cocok karena sering terganggu oleh suara-suara keras dari tape anaknya. Dia hanya ingin privasi yang lebih.”Kemudian si arsitek mengatakan kepada kliennya : ” Bapak tidak usah merenovasi rumah bapak, cukup belikan anak anda Headphone!”

Seminggu kemudian si klien tersebut menelpon dan berterima kasih atas masukannya. Dia sangat senang sekarang rumahnya terasa lebih ‘nyaman’. Si arsitek hanya bisa tersenyum dan merelakan kehilangan calon mata pencahariannya. :D (taken from How Designer Think – Bryan Lawson)

Berpikir lateral atau bahasa awamnya ‘berpikir di luar kotak’ merupakan salah satu senjata utama para desainer. Pada intinya, tujuan yang ingin dicapai adalah sama. Akan tetapi cara menuju ke sananya yang berbeda.

Pada umumnya arsitek terkenal dan berpengalaman yang saya ketahui, bergerak lebih berdasarkan intuisi dan nalurinya ketimbang melakukan serangkaian analisis dan sintesis. Uniknya, naluri intuisi tersebut umumnya tepat dan sama dengan perancangan yang didahului dengan serangkaian analisis dan sintesis.

Kebiasaan pola pikir yang terus dilatih pada akhirnya akan menimbulkan naluri dan intuisi yang tajam akan desain. Itu tidak di dapat dalam waktu sekejap. Itu adalah ‘practice make perfect‘.

Sebelum saya tutup, saya coba beri pancingan untuk berpikir out of box.

Seorang klien hendak membuat cafe. Dia ingin tampak muka cafenya full kaca. Maksudnya biar aktivitas di dalamnya terlihat dan mengundang pengunjung untuk mendatangi cafenya.  (terutama bila malam hari lampu di cafe akan bersinar dan terlihat dari luar -bagus sekali). Akan tetapi, cafe tersebut menghadap ke arah timur. Sehingga bila pagi sinar matahari akan masuk dan akan menimbulkan apa yang kita sebut green house effect.

Bagaimanakah solusinya? Semakin besar kacanya semakin besar pula panas yang masuk. Semakin kecil kacanya semakin tidak terlihat suasana kafenya.

Selamat berlatih untuk berpikir. :D Erwin

13 Tanggapan leave one →
  1. 2008 Agustus 9

    Bah……. kau kasih quis pula di blogmu…… Maunya aku mikir cari jawabannya tapi lebih baik mikir topik baru buat blogku saja lah….. Ha ha ha…… :D Makin mantab aja ni blog, siiiipp…… Coba aku renungkan siapa tau dapet jawaban utk quismu

  2. 2008 Agustus 9
    erwin4rch permalink

    Cuma pancingan saja Bung Carlos.. Biar tambah ramai. Olahraga otak kan sehat? :D
    Salam.

  3. 2008 Agustus 9
    Benny permalink

    Pak Erwin, cafenya ndak usah ada jendela aja.. masuknya dari samping.. hehehe..
    Pemikiran yang menarik. Salam kenal juga.

  4. 2008 Agustus 9

    Makanya itu….. tambah sip aja. Gak jalan2 ke SF nih….? Eh setelah aku mikir cari jawaban quismu kok malah pengen jalan2 n makan2 nih ha ha ha… :D

  5. 2008 Agustus 10
    Yudi permalink

    Salam kenal Pak,
    Sebuah wawasan yang menarik.
    Untuk cafenya pindah tempat aja pak. :p
    Cari tanah lain yang menghadap utara atau selatan.
    Katanya di suruh berpikir out of box kan? Hehe.

  6. 2008 Agustus 10

    Semoga membawa manfaat positif untuk kalian. Senang bisa berbagi. Thx

  7. 2008 Agustus 10
    Yudi permalink

    Salam kenal pak.
    Sebuah wawasan yang bagus untuk diresapi.
    Untuk cafenya dipindah saja pak, cari tanah lain yang menghadap utara atau selatan.
    Kan, katanya disuruh berpikir out of the box? Hehehe.

  8. 2008 Agustus 15
    Bill permalink

    Kasih tempat makan outdoor di depan cafe…kasih payung2 ato gazebo2 kecil…meminimalkan sinar matahari pagi masuk dan menambah suasana cafe pada tampak bangunan

  9. 2008 Agustus 22

    Bang…… Apa pula jawabannya bang…???

  10. 2008 Agustus 23

    Waduh…. aku udah mencoba berpikir lateral di Blogku. Bikin tulisan ttg PK5 dan Satpol PP. Maunya nunjukin semangat spt para PK5 yg pantang nyerah tapi 2 temenku malah ngributin soal Pk5 n Satpol PPnya bukan inti masalah dari yg aku tulis….. Cape’ dee….. Atau aku yg salah ya he he he he…. :D

  11. 2008 Agustus 27
    erwin4rch permalink

    Thx Bill.. that will do…
    Bila kita cari-cari, opsi untuk mensolusikan problem tersebut cukup variatif.

    Bang Carlos, thx juga inputnya. akhirnya terpengaruh juga ya dengan tulisan ini. :D

    Salam

  12. 2008 September 30
    life1ssimple permalink

    Dejavu lagi deh….baru bbrp hari baca buku nya Lateral Thinking

  13. 2008 September 30
    erwin4rch permalink

    @life1ssimple:
    thx udah mampir ya.. Buku Lateral thinking ada banyak versinya. tapi secara keseluruhan membahas hal mendasar yang sama. salam.

Tinggalkan Balasan

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS