7 Days Around Bula
Bula? Dimana itu?
Banyak yang masih tidak mengetahuinya. Memang kota satu ini kurang terkenal bila dibandingkan dengan kota-kota lain di wilayah Timur. Bula adalah pusat kota sementara dari provinsi Seram Bagian Timur hasil pemekaran wilayah baru di Maluku. Wilayah ini terletak pada sisi timur dari pulau Seram. Dahulu, wilayah ini termasuk Maluku Tengah.
Hingga tahun 2008 ini, Bula merupakan ibukota sementara. Nantinya, ibukota Seram Bagian Timur (SBT) akan diposisikan pada dataran Hunimua yang terletak pada sisi selatan dari kota Bula. Kondisi dataran Hunimua sekarang ini masih berupa hutan rimba di pesisir pantai.
Mengapa saya harus ke sana? Saya ke sana hendak membantu teman saya dalam sebuah pekerjaan perencanaan di sana. Yah, kata orang : ‘masih muda cari pengalaman yang banyak’.
Dalam tulisan pendek ini, saya akan mengajak anda berjalan-jalan sambil melihat kondisi teman-teman kita di wilayah ini. Apa yang saya paparkan tentunya dari sudut pandang saya sebagai arsitek dan perencana. Apabila anda sudah membaca tulisan saya “4 Days Around Wanggudu”, maka tulisan ini akan memuat sesuatu yang jauh lebih parah dari itu. Bahkan saya sempat mengalami sendiri banjir, longsor dan Jembatan putus di Ambon secara live.(tertanggal 19 Agt 2008.). Nanti kita akan sampai pada bagian tersebut.
So, let’s our journey begins!
Chapter 1 – Air Travel
Saya berangkat dari Kota Surabaya dengan hati yang agak kecil. Setelah melihat sendiri di televisi akan banjir di Ambon dan jembatan putus. Belum lagi sisa sisa kerusuhan antar agama lalu masih membayangi benak kita semua. Namun dengan hati bulat maka saya tetap berangkat.
Suatu hal yang menguntungkan, karena penerbangan ke Ambon yang saya ikuti adalah flight langsung. Jadi saya tidak transit di Kota Makassar seperti biasanya.
Waktu yang dibutuhkan Surabaya – Ambon adalah sekitar 3 jam.
Tentunya seperti biasa, di pesawat saya tidur pulas.
AMBON MANISE
Mendarat di Kota Ambon adalah sebuah kejutan bagi saya. Sebagai orang yang tidak pernah ke Ambon, bandaranya cukup bagus. Elemen ornament skylightnya menggunakan frame aluminium yang ditata berpola dengan manis. Struktur utama ruang tunggu bandara hampir sama dengan bandara Sukarno – Hatta Jakarta, yaitu menggunakan pipa besi besar dan ….
ada Garbaratanya!
(jembatan penyambung untuk menurunkan penumpang dari pesawat langsung masuk ke dalam bangunan).
Maklum, selama ini yang saya lihat adalah di Makassar, Manokwari, dan Kendari tidak pernah menggunakan jembatan tersebut. Jadi saya cukup terkesan.
Sayangnya, saya tidak bisa berlama-lama di Kota Ambon, karena saya harus mengejar kapal cepat di pelabuhan guna menuju kota Masohi di Pulau Seram. Perjalanan ditempuh sekitar 1 jam. Ketika kami datang, kapal cepat sudah hampir berangkat. Maka kami cepat-cepat makan dan langsung naik kapal tersebut.
Chapter 2 – Sea Travel to Masohi City
Perjalanan dengan menggunakan kapal cepat ternyata cukup nyaman. Waktu yang dibutuhkan dari Ambon – Masohi adalah sekitar 2 jam.
Sebelum adanya kapal cepat ini, untuk menuju kota Masohi, masyarakat harus menyeberang dari Pelabuhan Ambon dengan menggunakan kapal ferry menuju pelabuhan Waipirit di Pulau Seram (sekitar 2 jam), lalu dilanjutkan dengan perjalanan darat ke Kota Masohi selama 5 jam. Total 7 jam. Bayangkan penghematan waktu yang dilakukan oleh kapal cepat ini. 7 jam menjadi 2 jam!
Suatu hal yang pasti, bagi mereka yang gampang mabuk sebaiknya minum antimo dulu. Ombaknya lumayan besar dan bisa menggoncang kapal. Cukup untuk membuat perut mual.
Chapter 3 – Ground Travel to Bula
Kami tiba di Pelabuhan Masohi sore hari. Pada saat yang sama, kami telah ditunggu oleh driver untuk menuju Bula. Tidak ada angkutan umum ataupun sejenisnya menuju Bula. Sarana yang ada adalah kendaraan pribadi yang digunakan sebagai sarana angkutan umum ala travel. Harga yang dipatok mereka untuk perjalanan dari Masohi menuju Bula sekitar Rp.250.000,00 – 400.000,00. Cukup mahal, namun setelah melihat medannya nanti, maka harga tersebut cukup wajar. Jarak yang akan kami tempuh adalah sekitar 400km.
Chapter 3 Part 1 – Gunung SS
Kota Masohi berada pada sisi selatan dari Pulau Seram, sedangkan Kota Bula berada pada sisi utara dari Pulau Seram. Maka kita harus menempuh perjalanan menuju utara dahulu baru kemudian membelok ke sisi timur.
Masalahnya, bagian tengah dari pulau Seram adalah pegunungan. Sehingga kita harus naik turun gunung selama perjalanan ke arah utara.
Gunung SS.
Demikian masyarakat sekitar menyebutnya. Saya sendiri tidak tahu nama resminya. Masyarakat setempat mengatakan demikian karena jalannya yang berliku-liku seperti huruf S.
Resiko cukup besar menghadang selama perjalanan ini. Selain gelap karena perjalanan malam hari, hujan terus menerus di wilayah ini membuat tanah sering longsor dan menutupi jalan utama. Setiap jarak sekitar 20-30m pohon-pohon tumbang terlihat menghalangi jalan. Mobil kami ber zig-zag menghindari rintangan tersebut.
Belum separuh jalan, kami terhambat oleh tanah longsor. Seluruh permukaan jalan tertutup oleh tanah yang jatuh dari tebing. Sopir kami dengan ‘special ability’nya mencoba untuk mendaki dan menaiki longsor tersebut. Tentunya dengan hati-hati karena di sisi satunya adalah jurang. Syukurlah kita dapat melalui rintangan tersebut.
Nampaknya hambatan yang saya sebut di atas masih belumlah cukup, ketika sampai di puncak kita dihadang oleh kabut yang cukup tebal. Jarak pandang yang kita miliki hanya sekitar 2m ke depan. Mobil bergerak merambat perlahan secara hati-hati. Pada saat yang bersamaan udara dingin pegunungan mulai menusuk paru-paru. Dingin dan kabut.
Kepayahan kita lumayan sirna setelah sampai di puncak. Terangnya sinar bulan menerangi seluruh dataran pulau seram. Tidak ada kata lain selain cantik! Saya coba mengabadikannya namun kamera saya lemah bila foto di malam hari. (Aduuuh..)
Chapter 3 Part 2 – Tanah Merah
Turun dari gunung, dilanjutkan dengan perjalanan ke arah timur. Selama kita berada di wilayah Maluku tengah jalannya sangat mulus. Aspalnya bagus dan mobil kami dapat melaju cukup kencang. Sekitar 60-90 Km/jam.
Menjelang pagi hari, sampailah kita di Tanah Merah (nama wilayah). Terdapat depot kecil di Tanah Merah. Satu-satunya depot. Depot Anugerah namanya. Depot ini sering dijadikan tempat peristirahatan karena berada pada posisi tengah dari perjalanan menuju Bula. Uniknya, yang punya depot adalah orang dari Jawa. Jadilah kami berbahasa jawa di tanah pulau seram. Hehehe.
Biasanya supir-supir menunggu pagi hari untuk melanjutkan perjalanan di depot ini. Hal tersebut disebabkan ½ perjalanan berikutnya akan sangat-sangat melelahkan dan sebaiknya dilewati ketika terang (siang hari).
Kita makan pagi di depot ini. Oleh Pak Supir diperingatkan agar makan sebanyak mungkin karena perjalanan berikutnya akan melelahkan dan tidak ada depot lagi.
Mungkin anda sudah bertanya-tanya ada apa sih di perjalanan berikutnya? Agar tidak penasaran saya lanjutkan ke cerita berikutnya.
Chapter 3 Part 2 – Dunia Lumpur
Lumpur.
Yup! Yang menjadi masalah adalah lumpur.
Mobil-mobil seringkali ‘kandas’ selama perjalanan dari Tanah Merah – Bula. Lumpur tersebut tidak hanya pada satu atau dua titik saja. Tapi tersebar merata dan menghambat perjalanan. Roda mobil bila terkena lumpur akan sulit berputar. Lumpur cenderung bersifat lengket dan menghambat ban untuk berputar. Kalaupun toh berputar, biasanya malah membuat mobil semakin terbenam lebih dalam. Butuh teknik dan kemampuan lebih untuk melewati medan ini. Melewati satu buah perangkap lumpur saja sudah setengah mati, apalagi lumpur sepanjang 200km?
Nam To
Nam To adalah wilayah awal dari dunia lumpur. Wilayah ini dihuni oleh para transmigran dari Pulau Jawa. Jalan di wilayah ini merupakan jalan sirtu dan bukan jalan aspal. Kondisi tanah yang cenderung bergerak ditambah dengan posisi jalan yang kurang tinggi menyebabkan jalan sering rusak tergerus oleh arus air.
Baru 100m memasuki area berlumpur mobil kami sudah berbunyi. Segera kita menepi dan mengecek mesin. Ternyata laker dynamo ampere goyang akibat terhantam lumpur. Jadilah kami menunggu proses perbaikan. Selesai perbaikan, perjalanan kami lanjutkan. Ternyata terdapat 2 bh titik krusial dimana lumpur tersebut sudah sangat dalam. Masyarakat trans setempat membantu dengan membuatkan jembatan kayu sementara.
Selama perjalanan mobil kami tidak henti-hentinya terbanting kiri-kanan. Pantat sakit semua, hati juga tidak tenang melihat kondisi medan seperti itu. Berkali-kali kita ‘terbenam’ namun berhasil keluar lagi. Rahasianya adalah permainan di pedal kopling dan gas, begitu kata supirnya.
Karena sering terbanting dan selip di lumpur, akhirnya ban belakang sebelah kiri belakang mobil kami KO juga. Jadilah kita mengganti ban di lumpur.
Friendship – Setia kawan
Apabila kita melalui medan demikian, maka faktor bantuan sangatlah penting. Terutama bila mobil kita kandas dan sudah tidak bisa keluar lagi meskipun di gas dengan kekuatan maksimal. Satu hal yang saya perhatikan, yaitu persahabatan antar supir yang sangat baik.
Bila selama perjalanan mereka menemui mobil yang kandas, maka mereka tidak segan untuk turun dan membantu menarik mobil tersebut. Dalam kondisi apapun! Siapapun mereka. Hal tersebut sudah menjadi semacam etika tidak tertulis. Meskipun mereka dalam kondisi terburu-buru, tapi tetap meluangkan waktu untuk membantu sesama yang lain.
Nature Beauty – Daya tarik alam yang indah.
Mencari sesuatu yang positif di dalam kondisi yang tidak mendukung. Itulah yang saya coba lakukan selama ‘penyiksaan’ oleh lumpur. Ada suatu saat ketika kita menyeberang sungai, dalam arti harafiah alias benar-benar menyeberangi sungai. View di sungai Bobi sangatlah menakjubkan! Pada sungai besar ini kita beristirahat sebentar sembari membetulkan mobil.

View di Sungai Bobi
Kata Pak Supir, jika sedang musim hujan sungai ini tidak bisa dilewati. Mungkin hampir sama dengan pengalaman Pak Adhie di websitenya. (link). Mobil yang beliau hampir tumpangi hampir saja terseret arus air di Kali Bobi ini.. hics..
Chapter 4 – Arrive at Bula
Bula! Selamat datang di kota ujung timur dari pulau Seram. Bula dalam bahasa setempat berarti tidur. Entah apa ada hubungannya dengan nama kota tersebut. Yang pasti kota tersebut kaya akan minyak. Terletak di pinggir pantai, Bula mempunyai banyak potensi yang belum tergali.
Setelah beristirahat sehari penuh. Kami pun mempersiapkan pertemuan dengan pihak-pihak terkait sehubungan dengan tujuan kedatangan kami di kota tersebut. Derasnya hujan pada kota itu menyebabkan koordinasi kami agak terganggu. Tapi syukurlah semuanya dapat berjalan dengan lancar.
Chapter 5 – Goin’ Home

Pulang dari Bula bukanlah hal yang mudah. Supir mengharuskan total orang yang ikut adalah 6 orang. Bila tidak tercapai maka mobil tidak berangkat. Akan tetapi masalah tersebut sudah teratasi.
Setelah semua selesai, kami pun berangkat pulang. Bertolak dari Bula pada hari Senin, 18 Agustus 2008. Kami berangkat sekitar pukul 9 waktu setempat.
Sesuai dengan rencana awal, kami menyusuri arah balik dari jalur keberangkatan kami. Kami kembali melalui lautan lumpur. Terbanting-banting, terkocok-kocok dan diaduk jadi satu di dalam mobil adalah ’sudah biasa’ dalam perjalanan tersebut.
Lepas dari Lautan Lumpur, kami pun memasuki gunung SS saat senja. Kabut serta pohon tumbang kembali menghadang. Namun hati sudah lebih tegar (karena sudah pernah mengalami
).
Pagi hari kami sampai Kembali di kota Masohi. Dengan hati yang sangat senang karena sebentar lagi pulang.
Namun …
Apa yang kita harapkan sama sekali berbeda dengan kenyataan. Kapal cepat yang melayani rute Masohi – Ambon ternyata tidak boleh berlayar! Hal tersebut disebabkan karena kondisi cuaca yang tidak mendukung. Memang Ambon dan sekitarnya sering sekali diguyur oleh hujan berkepanjangan. Banjir serta jembatan putus sering diberitakan di televisi.
Karena hati sudah sangat ingin pulang, maka kami mencoba menempuh rute baru yang belum pernah kami tempuh sebelumnya. (Sebuah rute yang ternyata membawa diri kita ke tengah-tengah bencana alam yang melanda Seram).
Chapter 6 – Live! Siaran langsung dari lokasi bencana alam

Keinginan menggebu-gebu untuk pulang memaksa kami mencoba menempuh rute baru. Kami bakal bergerak menyusuri pantai selatan Pulau Seram. Dari Kota Masohi hingga pelabuhan kapal ferry – Waipirit. Dari pelabuhan tersebut, kami akan naik kapal ferry menuju Pulau Ambon selama 2 jam.
Perjalanan kami tempuh dengan menggunakan mobil carteran. Bentuknya seperti mikrolet. Mampu menampung maksimum 10 penumpang. Hati sudah agak lega, meskipun sempat mendongkol karena kapal cepatnya tidak berlayar.
Jalan yang kita tempuh ini menyusuri tepi pantai, maka kita akan melewati banyak sekali sungai & jembatan (sekitar 30 buah crossing jembatan). Hal tersebut disebabkan topografi pulau Seram yang mempunyai gunung pada bagian tengah pulau. Aliran air akan turun dan ‘memotong’ jalur jalan kita. Berakibat banjir bandang yang datang dari dataran tinggi. Akibat lain adalah banyaknya jembatan yang anjlok karena tergerus arus air. Bila yang lain melihat bencana banjir dan jembatan putus di televisi, saya mengalaminya langsung..

Banjir, dilihat dari mobil

Air sudah hampir masuk. Mesin mobil sudah hampir berhenti..

Rumah Rakyat yang kena bencana

Jembatan Putus yang diganti dengan Batang Pohon Kelapa

Truk Terguling Ketika berusaha melewati Jembatan darurat. Macet yang terjadi cukup panjang
Sekitar 30 Jembatan yang kami lalui selama perjalanan tersebut. dan separuh diantaranya putus. Foto di atas hanyalah satu dari sekian banyak jembatan yang rubuh akibat arus air.
Terlepas dari semua itu, tampaklah kapal ferry yang kita tunggu – tunggu. (Akhirnyaaa!) Tidak jauh beda dengan kapal ferry Surabaya – Madura atau Ketapang – Gilimanuk. Kami pun naik kapal tersebut dan mulai menuju ‘peradaban’ lain. Tentunya sembari bersyukur kepada Tuhan setelah apa yang kita lalui. (Sudah kepingin mandi air panas sambil istirahat….. capeknya bukan main…)

Kapal Feri. 'Pintu Sorga' bagi kami saat itu..
Demikian sekilas cerita dari negeri seberang..
63 tahun kita merdeka.. namun kondisi rekan-rekan kita di Seram Timur masih seperti itu. Semoga kita semua bisa lebih maju lagi.
“Beta sudah dulu e…., nanti kita baku ketemu lagi…” (diucapkan dengan logat Maluku)
Salam.
























Huih….. adikku yg satu ini puter2 Indonesia. Komentar sih gak ada….. maksutnya kalo aku komen ya gak bakal beda jauh ama komen yg ttg kota di Konawe itu…… (soalnya keadaan di Ind terutama di luar Jawa ya kayak gitu itu…..) Hanya sekarang kota2 yg pada gila2an mbangun moga2 bukan ajang kesempatan korupsi uang proyek pembangunan gila2an juga…….
‘Kaka Carlos..

moga-moga tulisan ini dapat membawa wawasan kepada kita semua.
Terutama terhadap saudara-saudara kita yang berada di Indonesia bagian Timur.
Semoga kemajuan dalam berbagai bidang dapat dirasakan pula oleh mereka.
Sehubungan dengan suasana 17 Agustus maka saya tutup dengan kata : Merdeka !
wow….. cita cita dibalik pengembangan daerah ini pastinya sangat mulia … dimulai dengan adanya program transmigrasi jaman 80an dulu….. hanya saja… program itu kemudian dinilai sebagai kolonialisasi jawa….. mungkin dengan cara baru ini (membuat ibukota baru) akan dengan sendirinya menarik perekonomian ke wilayah ini….
korupsi memang penyakit kronis…. dia selalu menempel dan mencari kesempatan (dalam kesempitan sekalipun) …. tapi banyak cara melakukan kontra korupsi… salah satunya dengan ikut menyebar cerita seperti ini….
Win…. cerita kamu ini membuat aku semakin bangga dan cinta pada indonesia… serius
Halooo Bu Altreeeee…..
Senangnya Ibu bisa mampir di gubuk maya saya.
Saya merasa terhormat sekali.
Trims ya komen nya..
Sukses selalu. ^^a”
masohi indah loh
Stuju Mbak Miah..
Masohi SAAANGAT INDAH!
Semoga kerukunan umat beragama semakin terjalin di sana..
Jangan lah ada kerusuhan lagi..
Mari bersatu. Kita kan INDONESIA.