Seni Berbicara Sebagai Sebuah Keajaiban..
Berbicara..
Siapa yang tidak dapat melakukan hal ini? Dari kecil kita telah melakukannya. Mulai dari berbicara ala kampung dengan rekan-rekan hingga berbicara dengan unggah-ungguh terhadap orang yang lebih tua.
Namun berbeda halnya dengan berbicara di depan umum. Yup! Public speaking.
Mengapa saya membahas ini? Karena menurut saya efeknya sangat besar dalam dunia kerja. Di dunia arsitektur, kita juga diharuskan untuk melakukan presentasi terhadap hasil kerja kita kan? Tulisan ini tidak terfokus pada dunia arsitektur saja. (bukankah presentasi dibutuhkan di tiap bidang?)
Sebagai awal dari tulisan ini, pernahkah anda menghadiri acara motivasinya James Gwee? Atau mendengarkan AA Gym?
Untuk para arsitek.. pernahkah anda mendengarkan Arsitek Ridwan Kamil mempresentasikan karyanya? (terkadang juga memberikan materi kuliah sebagai dosen tamu).
Terlepas dari materi yang disampaikan, yang ingin saya sorot justru adalah cara penyampaian itu sendiri. Ternyata presentasi bukanlah sekadar membaca apa yang tertulis di layar saja. Di situ terlibat emosi penonton. Kita adalah seorang sutradara yang sedang mengatur sebuah film. Kita yang menentukan opening dari film tersebut seperti apa. Kita yang menentukan saat tegang di mana, kapan saat tertawa. Kita yang menentukan kapan klimaks dari penyampaian kita dan akhirnya ditutup dengan ending yang memukau.
Butuh skill tersendiri untuk bisa menyampaikan hal tersebut. Memang ada beberapa kawan kita yang mempunyai bakat. Mereka secara otomatis tanpa dipikirkan akan dengan mudahnya mengatur situasi dan kondisi penonton. Bagi mereka yang ‘tidak berbakat’ bukan berarti tidak bisa.
Saya sendiri juga sampai sekarang masih belajar. Mengapa saya belajar? Saya terinspirasi oleh rekan-rekan yang lebih senior. Terkadang materi yang disampaikan adalah sama. Tetapi bila dibawakan oleh mereka, perhatian penonton yang tersedot menjadi sebuah keajaiban tersendiri.
Pada tahap awal tentunya kita harus mengalahkan diri kita sendiri. Lho kok? Ya, diri kita sendiri. Musuh utama pada tahap awal adalah kurang rasa percaya diri. Bagaimana presentasi kita bisa sukses bila kita minder duluan? Membangun rasa percaya diri adalah modal mutlak bagi public speaker.
Tahap berikutnya masih berkutat di diri sendiri. Apakah itu? Jawabannya adalah Ego. Terkadang apabila topik yang kita sampaikan ditolak atau dimentahkan, kita secara otomatis segera memasang tembok pertahanan setinggi mungkin dan setebal mungkin. Kata-kata kita terkadang menjadi tidak terarah, membentengi seluruh hasil presentasi kita.
Hal tersebut lumrah sebagai manusia. Tapi dari yang saya alami justru hal tersebut tidak membawa kita kemana-mana. Belajar ‘bermain layangan’ kata mereka yang lebih senior. Kapan kita harus ‘menarik benang’, kapan kita harus’ mengulur benang’. Maksudnya kapan kita boleh menyerang, kapan kita menahan diri dan mencoba mengakomodasi dari masukan-masukkan yang ada.
Jam terbang. Semuanya adalah jam terbang. Saya kira dengan dilatih terus kepekaan ini akan muncul dengan sendirinya. Sisanya adalah skill yang relatif lebih mudah dibandingkan mengalahkan ‘diri sendiri’ di atas. Intonasi penyampaian (kapan disampaikan secaraberapi-api, kapan disampaikan secara tenang dsb), aktif melibatkan penonton, joke-joke segar, penyampaian yang digabungkan dengan berita terkini (headline koran). Masih banyak lagi.
Sekedar uneg-uneg saja. Moga-moga berguna bagi anda semua.
Salam. Erwin.










Belajar, belajar, belajar, belajar…….. Tapi kalo boleh aku tambahkan…… akan sangat membantu jika kita bener2 yakin akan apa yg kita buat alias PD. PD ini yg gak bisa belajar tp muncul dari sejauh mana anda menghargai diri anda sendiri
Keyakinan bisa muncul jika kita benar2 menguasai bidang kita. Makanya sulit kalo sejak sekolah udah sering nyontek, ujian beli soal terus pas TA gak buat sendiri ya jadinya gitu deh……
Memang percaya diri adalah kunci awal..
Banyak hal-hal lain yang positif, berawal dari percaya diri ini.
Saya kira tulisan ini tidak hanya kepada public speaker saja, tapi kepada setiap orang yang membutuhkan ‘keahlian berbicara’ terhadap klien.
Yang perlu diingat adalah :
Practice make perfect.
Salam Kak Carlos.
Facta non Verba. Walaupun kita pinter ngomong tapi kalo kita ternyata gak menguasai pekerjaan kita ya orang juga gak bakal percaya…… Karya nyata bukan hanya sekedar kata2
Sedihnya yang saya alami justru sangat terbalik dengan yang anda sampaikan..
Kita mempunyai kemampuan namun justru diremehkan..
Penampilan tidak meyakinkan, umur yang terlalu muda bagi mereka, lingkungan pergaulan yang berbeda dsb merupakan beberapa faktor yang menyebabkan orang melakukan justifikasi sebelum mengenal orang.
Tentunya dengan presentasi yang baik, diharapkan dapat membantu mendongkrak ‘nilai’ kita di mata mereka.
Salam.
Yah paling baik ya dua2nya tapi kalo anda harus pilih, pilih pinter ngomong gak bisa kerja atau ngomongnya biasa2 tapi karyanya dahsyat….. Atau mungkin karena aku terlalu banyak ngliat tong kosong nyaring bunyinya jadinya aku gak pernah respek kalo cuman masih omongan he he he he…..
Karya harus OK dulu donk…biar PD nyampe’in-nya…
N didukung penyampaiannya…
Jgn lupa…kesamaan dari JF Kennedy, Mother Teressa, Hittler, Pres Soekarno dll adalah…
Mereka punya pemikiran hebat dan
bisa MENGKOMUNIKASIKAN ke banyak orang…
Bandingkan dengan Van Gogh yang tdk bisa menjual karyanya selama dia hidup
Pemikiran yang mantab Bill..
Kesimpulannya..
Skill digembleng hingga mantab..
Sementara sambil jalan kita belajar Ilmu Komunikasi..
Dua-duanya saling mendukung..
Ying dan Yang..
Semoga tidak ada lagi para ‘Van Gogh’ lain di luar sana.. Hehehe.
Sukses selalu Bill.
I agree…semua hal bisa di jual dan di jelasin yg penting adalah cara jualnya alias cara nyampein infonya…..spt kalimat klise…a great salesman is a salesman that can convince eskimos to buy ice…
Wow, saya baru dengar.. (maklum rada udik..)
Asik juga tuh, :
A great salesman is a salesman that can convince eskimos to buy ice.
Nice phrase.