Dunia Kerja dan Dunia Mimpi

2008 September 6

Dunia Kerja oh dunia kerja….

Beberapa dari kita mungkin sempat terpikir seperti itu ketika sudah terjun langsung ke dunia kerja.

Seringkali apa yang kita bayangkan di dalam angan-angan kita tidak cocok dan tidak sesuai dengan harapan kita.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk menampung dan memperbesar keluhan-keluhan yang ada. Tapi justru mencoba untuk mengajak kita berpikir dan bertindak dan menyikapinya.

Dunia kerja, mempunyai kompleksitas yang cukup besar. Seringkali kita dituntut lebih untuk mengatasi kendala-kendala yang ada. Begitu kompleksnya dunia kerja bahkan sampai ada rekan saya yang mengatakan bahwa apa yang dipelajari di dunia pendidikan hanyalah pengantar. Ada juga rekan yang secara ekstrim mengatakan  tidak mendapatkan apa-apa dari dunia pendidikan. Dunia kerja mengajarkan sesuatu yang sangat berbeda.

Dari sudut pandang saya sebagai seorang lulusan sarjana arsitektur, hal diatas pada awalnya memang sangat mengganggu. Tetapi bila kita sudah memahami maka semuanya akan mengalir dengan sendirinya.

Apa yang saya dapatkan? Yang saya pelajari pada prinsipnya dapat disederhanakan menjadi beberapa kata :

KEMAUAN UNTUK BELAJAR

Lho Pak? Kok belajar lagi? Apa hubungannya?

Bila saya jelaskan dari sudut pandang saya adalah kira-kira begini :

Saya lulus sebagai seorang sarjana arsitektur. Saya menguasai keahlian seni bangunan. Hal-hal yang berkaitan dengan teknis seharusnya sudah saya kuasai. Lalu apakah itu sudah cukup? Sudah begitu saja?

Tidak..

Saya masih perlu BELAJAR teknik terapan di lapangan. Apa yang saya pelajari sebagian besar masih di atas kertas. Kenyataan di lapangan tentunya berbeda dari teori yang dipelajari.

Saya masih perlu BELAJAR ilmu komunikasi dan marketing. Tanpa ilmu tersebut, bagaimana saya bisa mendapatkan klien? Bagaimana saya bisa mendapatkan kepercayaan mereka jika cara bicara saya terbata-bata? Bagaimana mereka bisa respect dengan saya jika saya emosi dengan perubahan desain yang diajukan oleh mereka?

Saya masih perlu BELAJAR menghormati rekan sesama profesi. Dalam kerjasama, partnership dua orang atau lebih, tentunya ilmu yang dipunyai oleh masih-masih orang nyaris sama (equal). Di sini dituntut adanya kemampuan untuk menerima kesalahan, bargaining, menangkap maksud pemikiran rekan. Ketidakmampuan akan skill ini berakibat perpecahan yang fatal.

Saya masih perlu BELAJAR untuk menjadi HRD (Human Resource Development) yang baik. Bagaimana cara mencela karyawan yang baik? Bagaimana cara memotivasi karyawan? Bagaimana kita sebagai pimpinan bisa menerima input dari bawahan? Bagaimana cara mengatasi kejenuhan kerja karyawan di kantor? Bagaimana cara mengatur agar beban kerja yang diterima oleh karyawan berimbang?

Saya masih perlu BELAJAR untuk menjadi manajer. Bagaimana cara mengatur 10 pekerjaan dengan tenaga kerja 2 orang saja? Bagaimana mengatur agar sebuah pekerjaan tidak perlu diselesaikan dengan lemburan? Bagaimana agar kantor bisa dapat tetap berjalan selama saya sedang menghadiri rapat? Bagaimana agar karyawan tidak merasa diabaikan (karena atasannya terlalu sibuk sehingga lupa memberi karyawannya pekerjaan. Agak konyol bukan? Saya pernah melakukannya dan sudah kapok.)

Saya masih perlu BELAJAR disiplin ilmu lain. Bila saya mendesain Rumah Sakit, maka saya akan belajar tata cara perpindahan pasien dari kamar ke ruang operasi, tata cara sirkulasi udara rumah sakit dsb. Bila saya mendesain Ruang praktik dokter gigi, maka saya akan belajar seputar dokter gigi. (Mekanisme kursi dokter gigi, kebutuhan lemari obat, kebutuhan ruang tunggu dsb). Bila saya mendesain ruang pertunjukkan, maka saya akan belajar bagaimana sebuah performa ditampilkan. Dimana lampu diletakkan? Bagaimana efek asap dimunculkan. dan lain lain.

Saya masih perlu BELAJAR untuk menjadi lebih dewasa lagi dari sekarang (secara psikologis). Bagaimana cara menghadapi klien yang sedang marah? Apakah saya akan ikut marah juga? Lalu bagaimana cara menghadapi klien yang kurang jujur, pekerjaan sudah selesai tapi dana tidak kunjung turun? Bagaimana menyikapi kesalahan fatal yang baru disadari? Apakah saya akan terus mempertahankan pendapat saya meskipun salah?

Belajar dan belajar..

Itu yang coba saya terapkan hingga kini.. Tidak semua dari yang saya sampaikan di atas sudah saya lewati. Banyak masih saya coba dan terus coba… Sekiranya slogan sederhana di atas dapat memacu motivasi rekan-rekan lain dalam menyikapi dunia kerja.

Salam, Erwin.

3 Tanggapan leave one →
  1. 2008 September 8

    Teringat ucapan seorang Kakek yg sudah berusia 79 tahun. Demikian katanya,” Saya belajar bahwa saya harus selalu mau belajar”.

  2. 2008 Oktober 15
    jumai permalink

    Spt kata Konfusius: Orang yang berhenti belajar akan berhenti tumbuh dan mati pelan-pelan

  3. 2008 Oktober 15
    erwin4rch permalink

    Carlos n Jumai :
    Setuju untuk anda berdua.

    Tidak ada kata akhir untuk belajar.

Tinggalkan Balasan

Note: Anda dapat menggunakan XHTML dasar di komentar Anda. Alamat surel Anda tidak akan pernah dipublikasikan.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS