Desainer & Klien – sebuah orkestra
Rekan Kita Saudara Billy pernah sharing kepada saya di forum ini. Begini cuplikannya :
Ada pengalaman baru yg saya rasakan sebagai seorang desainer dan 3D creator…
Sering dikejar2 waktu oleh client dan kadang diminta unutk meniru sebuah desain bangunan atau interior lain…
Kadang saya merasa bukan sebagai seorang arsitek…tp sedang make-up sebuah bangunan…
Ada yg punya pengalaman yg sama?
Sebuah kenyataan yang sering terjadi di dalam dunia desain. Desain apapun itu. (desain grafis, desain bangunan, desain website). Hal-hal demikian kemudian pada akhirnya menimbulkan pertanyaan kepada diri desainer tersebut ” Apakah fungsi saya?” Pertanyaan yang berkembang menjadi sebuah pemikiran berkepanjangan.
Sebelum saya membahas lebih dalam, ada baiknya saya paparkan dahulu 2 buah sudut pandang akan profesi desainer.
SUDUT PANDANG 1 : DESAINER = ‘DEWA’
Yup! Dewa. Analogi yang paling mendekati maksud saya. Pemikiran ini beranggapan bahwa profesi desainer (arsitek, grafis dsb) adalah sebuah profesi yang membutuhkan skill khusus. Pemikiran demikian kemudian berkembang dan menjadikan si desainer adalah sumber informasi dan sumber saran yang sebaiknya dituruti.
Profesi lain yang mendekati maksud dari sudut pandang pertama ini adalah profesi dokter.
Tentunya bila si dokter mendiagnosa kita terkena sakit liver (seumpama), kita tidak akan membantah bukan? Karena kita menganggap si dokter lebih jago. Kecil kemungkinannya kita berkata : “Lho dok, apa tidak salah.. Anda yakin kah? Saya rasa sumber dari rasa sakit saya lebih ke bawah deh.. bukan di area hati..”. Tentunya sebuah argumen yang konyol bagi mereka yang bukan dokter.
Advice pada level ini lebih satu arah.
Pada profesi desainer, umumnya tipe pendekatan seperti ini lebih cocok diterapkan kepada klien yang tidak terlalu ‘personal’ dengan hasil desainnya. Memang ada beberapa feedback balik, akan tetapi masih dalam batas-batas normal. Pada umumnya kita akan dihadapkan kepada decision maker dari perusahaan & merekalah yang memutuskannya. Tetapi desain makro tetap berasal dari si desainer. ‘Jiwa desain’ dipegang oleh desainer seorang. The one and only.
Arsitek-arsitek terkenal banyak yang ‘menganut’ sudut pandang ini. Bahkan jika klien tersebut tidak sepaham dengan ide dari arsitek maka mereka tidak segan-segan untuk menolak pekerjaan tersebut atau mengopernya ke rekan yang lain.
Contoh :
“Saya aliran minimalism, anda mau desain rumah tipe yunani? Coba hubungi si N saja, dia expert kalau style yunani. Jangan saya.”
“Lho menurut saya sebaiknya bangunan ini menghadap barat, didukung dengan jejeran tanaman cemara disampingnya nanti pasti bagus. Bila bapak tidak berkenan ya jangan diteruskan memakai saya..”
Mungkin komentar-komentar di atas mewakili dari sudut pandang pertama.
SUDUT PANDANG 2 : DESAINER = ‘PARTNER’
Partner. Seperti arti aslinya, di sini pihak desainer berusaha menjadi ‘teman’ dari kliennya. Pemikiran ini membawa si desainer dan klien kepada kegiatan brainstorming rutin. Si Klien bebas mengekspresikan imajinasinya.. Si Desainer mencoba menangkap essensi dari imajinasi klien tersebut . Mengkombinasikannya dengan ilmu, dan mewujudkannya dalam visualisasi.
Pendekatan ini cocok untuk desain yang bersifat sangat personal. Dimana pihak owner secara pasti akan menggunakannya secara terus menerus dan mempunyai nilai pribadi yang sangat tinggi.
Tentunya pada sudut pandang ini, pihak desainer harus pandai pandai untuk mengarahkan klien. Terkadang klien mempunyai angan-angan tinggi namun dalam kenyataannya sulit untuk dilaksanakan. Tugas si desainer untuk membantu mengarahkan imajinasi tersebut agar masih masuk dalam batasan-batasan yang wajar.
Pendekatan seperti ini merupakan pendekatan simpatik, desainer berusaha untuk membaca ‘jiwa’ yang diinginkan oleh kliennya. Membuatnya menjadi kenyataan dan menyajikannya secara dramatis. ‘Jiwa desain’ dipegang oleh desainer dan owner bersamaan.
Contoh :
“Oke bapak ingin bagaimana, di atas pintu masuk bapak ingin kanopi panjang sekali biar mencolok?”
“Ok pak itu bisa, nanti saya buat panjang 8m tanpa tiang satupun di bawahnya. Jadi lebih mencolok lagi. Lebih bagus pak.” (Keinginan klien diperkuat dengan pengetahuan desainer)
“Bisa? Bisa kok pak! Tapi saya nantinya akan memberi kabel baja gantung di atas kanopi tersebut.”
“Jadi kanopinya digantung sehingga dibawahnya tidak ada tiang satupun.”
(Proses Imajinasi klien + Imajinasi desainer –> Rasionalisasi desain + Struktur kerangka bangunan => Output win-win solution.
Lalu?
Dua hal diatas merupakan kenyataan yang ada di dunia kerja. Saya tidak akan terjun ke dalam pro-kontra mana yang lebih baik karena menurut saya tidak berguna. Saya hanya berusaha untuk membuka wawasan akan sebuah hubungan desainer – klien di dunia nyata.
Klien sebagaimana manusia pada umumnya adalah unik. Tiap klien adalah berbeda. Tidak ada yang sama. Merupakan tugas dari si desainer untuk terlebih dahulu meneliti ‘tipe’ klien sebelum melaksanakan pendekatan lebih lanjut. Faktor pendekatan psikologis diperlukan di sini. (yang sayangnya tidak diajarkan di kuliah manapun di jurusan teknik..).
Si Desainer harus mencoba untuk memahami karakter klien terlebih dahulu, sebelum lebih lanjut memahami pekerjaan teknisnya.
Mungkin rekan-rekan yang berlatar belakang psikologi bisa membantu kita-kita yang teknik ini akan trik-trik membaca karakter klien yang baik dan benar. Haha. Rata-rata ilmu ‘tatap muka’ yang kita pelajari lebih ke arah praktek langsung. otodidak. Ndak tahu benar atau salah.
Pada akhirnya saya sampai kepada suatu kesimpulan. Bahwa proses desain mirip dengan sebuah orchestra. Dibutuhkan berbagai ‘instrumen musik’ agar musik tersebut dapat terdengar dengan indah. tugas dari dirigen untuk menentukan kapankah sebuah alat musik dibunyikan, kapan dihentikan. Kapan dipadukan, kapan tiba-tiba gegap gempita, kapan tiba-tiba hening dan hanya suara suling yang terdengar. Tujuannya tidak lain untuk menciptakan suatu komposisi suara indah dan enak didengar.
Demikian sharing saya, semoga membawa wawasan baru bagi anda skalian.
Salam. Erwin,










Rasanya kalo aku jadi klien bakal jadi klien yg ngrepoti deh….. he he he…..
Saya akan membagi pengalaman saya……
Ada beberapa jenis klien:
1. Klien yg ikut aja, apa kata designernya pasti setuju
2. klien cerewet tapi gak tau apa2, minta macem2 tapi permintaannya susah atau malah gak bisa diwujudkan
Model klien seperti itu gak masalah menurutku…..
Yang harus berhati-hati adalah klien yg jenis ke-3 yaitu klien yg cerdas…. Mau gak mau designer harus menempatkan mereka sbg partner karena mereka tau apa yg mereka inginkan…… Sebelum mereka mengemukakan ide, mereka sudah mempelajarinya terlebih dulu….. Jangan sekali-kali menganggap anda yg paling tau, atau bakal dicaci maki ama klien yg jenis gini. Mereka pintar, cerdas, berwawasan luas, sangat tau apa yg mereka mau dgn cukup detail sehingga mereka bisa bener2 mengerikan kalo anda tidak bisa menempatkan mereka dgn tepat. Semoga pemahaman akan klien bisa membantu anda semua para designer….. Salam
Hahaha..ngerepotin ataupun tidak itu sudah menjadi tugas kita..
Input yang sangat baik dari rekan Carlos.
Bila kita perhatikan, saya membahas dari ‘kursi’ desainer sedangkan Pak Carlos membahas dari ‘kursi’ klien. Sebuah perpaduan pemikiran yang baik.
Semoga menambah wawasan bagi kita-kita yang membacanya.
Salam.
wow, begitu ya!
saia ga pernah ketemu sama klien lagsg, pak erwin…
cm sembunyi dibalik meja hehehe
masukan yg bagus bgt!
cheers,
rolandowijaya.multiply.com
Salam Rolando.. Thx sudah mampir..
Untuk anda pasti akan ada waktunya kok..
Tinggal tunggu tanggal mainnya.
Bertemu dengan klien merupakan pengalaman yang baik, dengan tidak langsung kita dapat mengasah skill, kecepatan otak (karena harus memikirkan solusi saat itu juga!), mempererat relationship serta belajar membaca situasi.
Kebetulan Pak Carlos di atas mempunyai latar belakang psikologi, maka saya juga turut senang ada masukan dari bidang ilmu yang lain.
Sukses selalu Rolando.
Btw, kata pengantar yang unik di situs anda :
“welcome yang bukan keset”
mnrt aku sich mcm klien:
1. klien yg tau apa yg dimau i dan bisa menjelaskan ke desainernya–ini tipe klien yg plg asik buat di ajak kerja
2. tau yg dimaui tapi gak bisa jelasin–ini butuh desainer yg bisa membaca pikiran dan sabar
3. klien yg gak tau apa yg dimaui tapi mau denger saran org– ini jg klien asik tapi waktu yg dibutuhkan agak panjang dan kreatifitas tinggi.
4. klien yg gak tau apa yg dimaui tp sok tau–ini klien plg mbencekno, ngomelan, gak bisa di senengin, ada aja yg salah, sama klien gini mnrt ku cuman ada 2 solusi suuuuaaabbarrr ngalahin Mother Teresa ato tolak trus kasi ke desainer lain.
Komentar anda yang satu ini mantap bener…
Apalagi klien tipe 4…
Hehehe.
Thx a lot.