Pantat Baja dan Kaki Baja

2008 Oktober 7
by erwin4rch

Setelah capek berkelana terus menerus ke negeri Indonesia Timur, beberapa waktu lalu saya berkesempatan untuk berkunjung ke negara tetangga kita yang mempunyai lambang singa.

Yup! Singapore.

Apa yang saya dapatkan di sana? Saya ibarat seekor katak yang baru saja keluar dari tempurungnya. Bengong-bengong melihat perkembangan di negara terdekat kita.

Adalah sebuah hal yang unik di sana bahwa sarana transportasi umum merupakan sarana utama masyarakat dalam berpergian. Baik menggunakan MRT (Mass Rapid Transit) maupun Bus kesemuanya itu dapat dinikmati dengan mudahnya.

Apa konsekuensinya? Yang paling utama saya rasakan adalah bahwa kita harus berjalan kaki kemanapun. Masyarakat Singapore telah terbiasa akan hal tersebut. Keluar dari apartemen berjalan kaki, sampai di stasiun MRT bila kereta penuh tidak dapat tempat duduk maka mereka akan berdiri hingga sampai tujuan. Ketika tiba, mereka berjalan kaki lagi. Berjalan dan terus berjalan.

Sebuah konsep yang bagus dan terpadu antara “tenaga rawon” dan “mass transport”.

Namun apa efeknya terhadap kita? (Terutama saya yang dari Surabaya?)

Saya tidak terbiasa berjalan kaki, kalaupun berjalan kaki paling jauh cuma 50m. Sisanya dilakukan dengan “duduk”. Maksud saya bisa duduk di mobil, duduk di sepeda motor, duduk di bemo, atau duduk di angkutan umum lainnya.

Bisa ditebak hari pertama di Singapore merupakan sebuah cobaan berat. Bagaimana dengan hari kedua? Nightmare! Pada hari ketiga? kaki saya hampir mati rasa. Berjalan kaki di Orchard Road, berjalan lagi di dalam Mall-nya, berjalan lagi menuju MRT station, belum lagi bila harus transfer kereta di Dhoby Ghout. Jauhnya…. Seperti Outbond tapi di dalam kota.

Namun menginjak hari keempat nampaknya kaki ini sudah mulai terbiasa kok … :D

Masyarakat sana menurut pengamatan saya hampir mirip dengan pola masyarakat jepang. Semuanya berjalan serba cepat. Sebuah kebiasaan yang positif menurut saya. Proyek-proyek pembangunan pun dikerjakan seperti tiada hari esok lagi…

Yahh. Pada akhirnya jadi terpikir, masyarakat di sana seperti mempunyai “kaki dari baja”, sedangkan saya mempunyai “pantat dari baja” karena terlalu banyak duduk. :)

5 Tanggapan leave one →
  1. 2008 Oktober 8

    He he he he he…… :) Kita sih mentalnya masih mental sok tuan besar….. Maunya duduk2 aja trus nyampe kemana-mana

  2. 2008 Oktober 8
    erwin4rch permalink

    Hahaha. Pak Carlos, memang di sini budaya berjalan kaki masih sulit diterapkan. Padahal dampak positifnya banyak sekali.
    Mulai dari berkurangnya polusi, hemat biaya, badan yang sehat.
    Setidaknya harus dimulai dari diri sendiri dan didukung pemerintah dengan membangun sarana-prasarana yang memadai.
    Salam.

  3. 2008 Oktober 8

    Aku pernah punya niat suci jalan sore around the block (kalo pagi gak bisa bangun…. wong jam 12. am aja baru on ngurus ini-itu atau bikin tulisan block) Hasilnya…. tenggorokan sakit krn kebanyakan kena asep kendaraan bermotor. Jadi kalo di sini jalan kaki belum tentu sehat he he he he….. :D

  4. 2008 Oktober 8
    erwin4rch permalink

    Hal tersebut benar untuk sekarang.
    Nanti bila sarana transportasi massal telah berjalan, penggunaan transportasi pribadi secara berangsung-angsur akan berkurang.
    Demikian juga polusinya.
    Pertanyaan klasiknya adalah :
    KAPAN ? :D

  5. 2008 Oktober 9

    Kalo aku sih bikin dulu transportasi masalnya spt Jakarta walaupun gara2 bikin Busway jadi macet, cuek aja….. Bikin dulu kalo udah jadi n termanage well baru bikin peraturan yg membatasi mobil pribadi. Masalahnya cuma satu….. MAU APA GAK !!! Gitu aja kok repot he he he he….. :D

Tinggalkan Balasan

Note: Anda dapat menggunakan XHTML dasar di komentar Anda. Alamat surel Anda tidak akan pernah dipublikasikan.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS