Mengintip Negeri Tetangga – Singapura
Pada kesempatan lain, setelah puas berkeliling di dunia Indonesia Timur, saya berkesempatan untuk melihat negara tetangga terdekat kita : Singapura. Well seperti kata orang, kita ini adalah makhluk yang selalu belajar, maka saya mencoba membagikan pengalaman saya di sana. Semoga dapat berguna bagi anda sekalian.
Departures
Saya mencoba berangkat melalu Batam. Kata orang-orang bila melalu Batam biaya fiskalnya tidak terlalu mahal. Jadi dari Kota Surabaya saya naik pesawat menuju Batam, dari sana saya bertolak dengan kapal cepat menuju pelabuhan Harbour Front di Singapura.
Ternyata… kapal cepat yang digunakan untuk menuju Singapura mempunyai tipe yang sama dengan kapal cepat dari Ambon menuju Masohi. Cuma label kapalnya saja yang berbeda.
(Hics.. jadi teringat masa-masa sulit di Pulau Seram…)
Sesampainya di negeri tetangga, setelah tengok sana tengok sini sebentar, saya lalu mencoba naik Mass Rapid Transit (MRT) guna menuju tempat menginap saya. Dasar orang udik, pertama kali mencoba bingung ga karuan. Bagaimana prosedurnya, bagaimana mendapatkan tiket MRTnya, bagaimana cara masuk dan keluar MRTnya? (Supaya tidak nyasar). Untunglah ada yang membantu saya.
Lho pak bicaranya pakai bahasa apa? So pasti bahasa Inggris. Saya tidak menemukan kesulitan untuk berbahasa inggris, namun konyolnya… saya kesulitan dalam “mendengarkan” pembicaraan dalam bahasa inggris. “Listening” saya harus dilatih lagi nampaknya.. Logat inggris di Singapura bukan logat inggris asli, penduduk setempat lebih menyebutnya sebagai sing-lish. Makanya saya agak “ndeso” dalam berbicara di sana.
MRT di Singapura mempunyai 2 jenis platform, platform upperground dan underground. Pada Foto di atas dapat dilihat untuk platform upperground (di atas tanah). Sebenarnya antara upperground dan underground jalurnya saling terkoneksi. Pada daerah kota (Orchard dkk), kereta MRT dilewatkan pada bawah tanah, namun setelah stasiun Bishan, perlahan-lahan rel tersebut menanjak naik menuju Upperground. Konsep ini kurang lebih sama dengan yang akan diterapkan di kota Jakarta. MRT dari arah Lebak Bulus akan diposisikan di atas tanah, sedangkan ketika melewati depan senayan, MRT tersebut secara perlahan-lahan akan terbenam dan masuk ke dalam tanah. (Kapan Surabaya…?
)
Coba perhatikan pada foto MRT jalur bawah, mereka sangat memperhatikan jalur orang buta. Strip-strip stainless pada lantai (foto di atas) merupakan jalur khusus untuk orang buta. Memang di sana pejalan kaki adalah nomor satu. Bila ada terjadi papasan antara mobil dengan pejalan kaki, yang menang adalah pejalan kaki. Bandingkan dengan di Surabaya, mau menyeberang di lampu merah saja, zebracrossnya sudah di-occupied sama sepeda motor yang berjubel padat.
MRT itu sendiri tidak jauh berbeda dengan kereta api di Indonesia. Hanya saja sumber tenaganya berasal dari listrik. Kalau di Indonesia kan dari Solar + mesin diesel. Perbedaan lain yang paling mencolok adalah tingkat kebersihannya serta maintenancenya. Luar biasa “kinclong”. Padahal umur kereta yang saya naikin sudah sekitar 3 tahun. Bandingkan dengan Komuter Sidoarjo – Surabaya kita yang baru 1 tahun sudah terlihat ” tua renta”? (Tanya kenapa? )
Kembali ke perjalanan saya menuju tempat menginap. Sembari membawa koper, koper saya ada rodanya jadi saya tarik. Selama menarik koper, saya tidak perlu mengangkat koper tersebut sama sekali. Bila trotoar tersebut berpotongan dengan jalan, maka trotoar tersebut akan melandai turun lalu kemudian naik lagi. (Istilah arsitekturnya adalah RAMP.) Semua perpotongan jalan dan trotoar diberikan ramp. Wow, tentunya pengguna wheelchair sangat berbahagia di negara ini.
Setelah sampai tujuan, saya beristirahat dan menikmati malam pertama di negara tetangga ini.
Keesokan paginya, saya mencoba untuk naik bus. (Di Surabaya saya hampir tidak pernah naik Bus umum, pernah hampir kecopetan). Ternyata naik bus di Singapura benar-benar menyenangkan. Jauh dari kesan kumuh. Bersihnya minta ampun, keamanan terjamin dan yang pasti…. tidak ada asap rokok! Naik bus jadi terasa bertamasya. Baru kali ini saya menjumpai bus seperti ini. Sistem pembayarannya bisa menggunakan uang tunai atau kartu berlangganan yang dapat diisi ulang.
Bagi mereka yang berdomisili jauh dari akses MRT atau bus, biasanya mereka naik sepeda pada awal kerja. Kemudian sepeda tersebut mereka kunci pada tiang halte Bus. (Lihat gambar di atas, banyak sepeda yang parkir). Setelah itu mereka pun berangkat kerja dengan menggunakan MRT atau Bus. Sepulang kerja mereka cukup menuju halte semula dan pulang dengan mengendarai sepeda mereka. (Bila di Surabaya dalam waktu 5 menit sepeda mereka pasti sudah amblas.. hics..)
Perjalanan kemudian saya lanjutkan kembali dengan berjalan kaki. Setelah berjalan kaki cukup lama (merupakan penderitaan tiada tara bagi seorang manusia yang tidak pernah jarang berjalan kaki..) sampailah saya pada kawasan Novena. Nampaknya tipikal penghijauan di Singapura hampir sama. Pohonnya besar-besar. Rimbun dan teduh. Kebanyakan merupakan jenis pohon trembesi. ciri khasnya pohon ini berupa ranting dan dahan pada bagian bawah, namun rimbun penuh daun pada bagian atasnya. Bagaimana jembatan penyeberangannya? Wow asri nan indah.
Satu hal yang saya tidak temui adalah …. Reklame. Di Surabaya, reklame merupakan sebuah lahan pendapatan tersendiri. Hal tersebut menyebabkan kota yang indah dijejali beragam model papan iklan, spanduk, dan banner. Penataan antar reklame semrawut saling tumpang tindih antar satu dengan lainnya. Pohon pun dikepras demi reklame. Ouch!
Pada JPO yang saya amati, terdapat tanaman perdu pada bagian tepi kiri-kanan dari jembatan. Pada JPO lainnya lagi, “kaki”nya diberikan tanaman bersulur yang tumbuh subur. Asri sekali. Bila disingkat secara kata-kata mungkin seperti : Citraland-Graha Famili dengan luas sebesar kota/negara.
Pada prinsipnya, saya kira setiap orang pasti mau berjalan kaki bila setiap pedestriannya seperti ini :
Sarana transportasi umum massal atau Mass Rapid Transit merupakan ciri khas dari sebuah negara maju. Apapun bentuknya (Bus, MRT, LRT, Monorail, Aeromovel dsb). Dengan adanya sarana tersebut, penggunaan kendaraan pribadi dapat kita ditekan, otomatis polusi lebih berkurang kan? Dan semakin banyak orang yang berjalan kaki. Semakin sehatlah bangsa kita. Semoga kita dapat menelurkan bangsa kaki baja daripada pantat baja. (Tulisan sebelumnya : Kaki Baja dan Pantat Baja).
Salam.























Emang mata seorng arsitek dan seorang shopaholic itu beda….soalnya kalo saya mah terkagum ama asiknya blanja di Changi ato blanja di HK he hehe
Semuanya asyik kok. Baik belanja maupun belajar. Setidaknya satu sudut pandang bisa melengkapi sudut pandang lainnya kan.
Sehingga melihatnya bisa utuh.
Thx
waduh pak Erwin ini memang hebat bisa dgn sabar menyikapi semua komen…….btw pak erwin kalo ada waktu n dana coba ke HK disana byk gedung yg asik2 kyk HSBC tower, yg kabarnya bisa di pindah tanpa merusak satu baut pun dalam waktu 24 jam. Ato liat HK park, taman di tengah2 lautan pencakar langit yg jd oasis bagi bagi penduduk HK….mumpung ada promo Cathay Pasific 550 USD pp(8 hari) sby-Hk.
Hehehe..
Kepingin sih.. kepingin…
Ngumpulin dana dulu ah…
Kelihatannya HK negara yang asik tuh.
Sebenarnya dengan berpergian ke luar negeri dapat membuka cakrawala kita. Tidak seperti katak dalam tempurung. Dunia kita itu-itu saja.
Dengan demikian diharapkan kita dapat menyerap nilai-nilai positif yang ada untuk dikembangkan kembali.
Thx Jumai.
Dulu kok aku pengen banget ke luar negeri…… Tapi sekarang gak terlalu pengen lagi ya…… Selama ini aku jg berpikir ke luar negeri akan memperluas cakrawala tp ada satu peristiwa yg bener2 nyadarin bahwa muter2 ke luar negeri gak ada hubungannya dengan keluasan cakrawala. Keluasan cakrawala aku temukan lewat bagaimana aku bisa memperluas hatiku……. Hingga seluruh dunia bisa ada di dalamku…..
Arsitektur adalah sebuah puisi..
Puisi tentang hubungan antar ruang
Puisi tentang hubungan manusia dan ruang
Seperti ruangan yang anda tempati
terbentuk dari plafond
terbentuk dari dinding
terbentuk dari lantai
Bagaimana lantai mempengaruhi anda,
Bagaimana plafond dan dinding saling berbicara
Bagaimana jendela muncul dengan irama dan nada yang indah.
Itulah puisi arsitektur.
Seperti halnya puisi yang dinikmati dengan dibacakan
Seperti halnya musik yang dinikmati dengan didengarkan
Arsitektur dinikmati dengan berada di dalamnya.
Kita merasakan panas matahari
Kita merasakan sejuknya berteduh dibawah pohon
Kita merasakan pedestrian yang nyaman
Mata segar memandang warna hijau
Udara bebas polusi
Semua itu adalah kenikmatan.
Kenikmatan berpuisi dalam arsitektur.
Dan hal tersebut merupakan pengalaman yang indah.
Pengalaman indah yang harus dialami dahulu agar dapat diresapi.
Walah jadi melow….. hi hi hi hi……
Mars”mellow” memang enak.. apalagi bila dipanggang di api unggun malam-malam…
(ndak nyambung deh..)
Thx sdh mampir.
hahah….i can’t understand all ur words.but i know what u’re trying to say.btw,singapore MRT is really superb.i’m really impressed with the MRT,how they manage and all sort of thing.here in KL we also have almost the same type of rapid transit called LRT,but still can’t compete with those in Singapore.
oh,i heard that HK has the best mass transit in the world.most efficient,even better with LondonUnderground.great,i hope that i can have opportunity to experience by myself.
I’ve been there. Both of them. MRT – Singapore and Monorail+LRT – KL. Awesome. Because we don’t have anything like it in Surabaya.
Here, people only care about private vehicle. Motorcycle and car. Public transportation is something that people don’t care about..
Of cource LRT in KL cannot be compared with Singapore’s MRT. But still the effort are worthy. Modern city eventually will move to public transportation, where they want to or not.. (in time of course..) and KL is one step ahead.
Cheers!