Pedestrian Ways – sebuah opini
Pedestrian Way atau lebih dikenal dengan Jalur Pejalan Kaki merupakan hal yang telah umum bagi kita. Masyarakat kota menggunakan jalur ini sebagai media transportasi bagi kaki mereka. Sejak 2 tahun terakhir, Pemkot Surabaya telah menyadari pentingnya jalur pejalan kaki tersebut. Hal tersebut nampak dari usaha Pemkot Surabaya untuk terus mengembangkan jalur-jalur pedestrian yang ada ke arah yang lebih baik.
Satu hal yang pasti, usaha tersebut adalah sebuah usaha yang positif dan mendapat respon positif dari masyarakat. Tulisan ini mencoba untuk memberikan wacana, imajinasi dan alternatif-alternatif pengembangan yang dapat digabungkan, disinkronkan dengan pengembangan tersebut.
Bahasan pertama saya lihat dari sudut pandang makro terlebih dahulu. Dari sudut pandang kota. Di kota Surabaya, berjalan kaki bukanlah suatu kebiasaan yang populer. Selain faktor dari diri sendiri (malas, berjalan, waktu, tidak senang berkeringat, kecapaian dsb) hingga faktor eksternal seperti debu, polusi, panas yang luar biasa menyengat, dan kondisi traffic yang tidak mendukung pejalan kaki.
Ok, kita lupakan faktor diri sendiri, karena hal tersebut akan berpulang kepada masing-masing pribadi. Hal tersebut membawa kita kepada faktor eksternal. Bagaimana cara kita mengatasi faktor eksternal? Dengan demikian kita mendapatkan batasan-batasan yang pasti untuk jalur pejalan kaki kita. Secara sederhana seperti :
- Jalur Pedestrian agar terlindung dari panas matahari
- Jalur Pedestrian sebaiknya bisa dilewati oleh penyandang cacat
- Jalur Pedestrian harus mempunyai penerangan yang baik jika malam
- Jalur Pedestrian harus terjamin keamanannya
Poin-poin di atas mencoba menggambarkan bagaimana sebuah pedestrian yang baik. Apakah itu saja cukup?
Belum.
Hal di atas baru 50% saja. Mengapa?
Seperti halnya hukum perdagangan. Ada pembeli, ada penjual. Pada kasus kita ? Bisa dikatakan bahwa nantinya “bakal” ada jalur pejalan kaki, tapi adakah pejalan kakinya?
Pada akhirnya jika kita mau menyukseskan program pedestrian ini, mau tidak mau kita harus memikirkan :
apa yang membuat orang mau berjalan kaki?
Mari saya ajak untuk kembali kepada konsep dahulu.
Pada konsep makro, kita bisa memikirkan untuk sarana transportasi umum massal (Mass Rapid Transit) yang menjangkau posisi-posisi strategis kota Surabaya. Mengapa demikian? Karena bila sarana tersebut mudah didapat, aman, nyaman, tepat waktu tentunya masyarakat akan menggunakannya. Dengan demikian, mereka akan menjadi ” para pejalan kaki” bagi jalur yang telah kita siapkan. Dampak positif lainnya, secara otomatis tingkat penggunaan kendaraan pribadi akan berkurang, tingkat polusi dari asap knalpot kendaraan juga akan berkurang. Membawa hembusan angin surga bagi para pejalan kaki. Lebih nyaman untuk dilalui. Dampak ini akan berputar terus, satu orang menceritakan kepada teman-teman yang lain. Domino effect.
Ok, hal di atas merupakan hal yang BESAR dan memerlukan pertimbangan seksama. Tentunya pihak BAPPEKO Surabaya seharusnya sudah mempunyai pemikiran lebih mendalam akan hal ini.
Lalu…. bagaimana dalam skala yang lebih kecil?
Skala kecil, mari kita pikirkan. Kita bisa mengajukan konsep turisme. Hal tersebut cocok untuk area shopping mall dan hotel. Koridor Pemuda, Koridor Basuki Rachmat – Embong Malang – Tunjungan merupakan sasaran empuk dari konsep ini. Bila kita perhatikan kondisi di lapangan, pernahkan anda berpikir mengapa anda lebih sering menjumpai turis asing di trotoar jalan Pemuda (depan Surabaya Plaza) dari pada di trotoar lainnya di kota Surabaya ini?
Turisme memerlukan konsep sedikit berbeda. Mereka memerlukan “Anchor tenant” sebagai daya tarik. Bentuk dan caranya bisa bermacam-macam. Sebagai contoh kecil : Terdapat Deretan Mall yang terintegrasi saling terhubung ditambah dengan deretan jajan pasar khas jawa timur pada jalur pedestriannya. Well, itu hanyalah salah satu cara pengembangan..
Konsep lain adalah Bussiness District. Seperti yang kita ketahui, kota Surabaya mempunyai jantung kota utama. Jantung tersebut berkembang di sekitar koridor jalan :
Basuki Rachmat – Embong Malang – Blauran – Praban – Tunjungan – Pemuda – Panglima Sudirman.
Belakangan ini telah dikembangkan jalur serat optik kecepatan tinggi pada area jantung tersebut. Untuk apa? untuk mendukung kegiatan bisnis di daerah tersebut. Ok, fasilitas pendukung telah dikembangkan. Apalagi bila didukung dengan jalur pedestrian yang nyaman. Tentunya Jantung Kota Surabaya akan semakin berkembang lagi.
Program Pedestrian Pemkot Surabaya
Pemkot Surabaya telah menyadari konsepsi tersebut dan telah menerapkannya dalam bentuk nyata. Perbaikan trotoar pada beberapa kawasan di pusat kota menunjukkan keseriusan pemkot dalam mensukseskan hal ini. Yang harus kita bantu adalah : Bagaimana agar usaha tersebut dapat lebih berhasil lagi?
Salah satu kendala utama dari keengganan manusia untuk berjalan kaki di Surabaya tidak lain adalah faktor panas yang luar biasa. Saya katakan luar biasa karena saya yang terbiasa tinggal di Surabaya punĀ merasakan panas yang hebat. Panas tersebut harus diatasi!
Ketika rekan-rekan bercerita tentang nyamannya berjalan kaki di Orchard Road – Singapura, atau di Bukit Bintang – Malaysia, saya sedikit heran. Saya berpikir : “Bukankan iklim kita nyaris sama?”. Sehingga dalam pemikiran saya, panas matahari yang kita alami ketika berjalan kaki di Orchard Road ataupun di Bukit Bintang tidak jauh berbeda dengan berjalan kaki di Basuki Rachmat – Surabaya
Rasa penasaran tersebut terjawab ketika saya secara pribadi berada pada lingkungan tersebut. Pribadi personal saya berinteraksi dengan lingkungan buatan di Singapura dan Malaysia menghasilkan sebuah jawaban sederhana. Apakah itu? Deretan Hi-Rise dan Kanopi Pohon!
Orchard Road dan Bukit Bintang Road memiliki kesamaan tipikal :
- Pedestrian yang lebar, nyaman
- Terdapat jalur untuk Orang Cacat, (bahkan terdapat WC khusus orang cacat)
- Mobil merupakan nomor dua. Pejalan kaki adalah yang utama.
- Deretan bangunan tinggi (Hi-Rise) ‘membentengi’ koridor jalan dari panas matahari dari sisi kiri dan kanan jalan.
- Deretan Kanopi pohon menciptakan barrier panas bagi manusia yang berjalan kaki.
- Keamanan yang baik.
ORCHARD ROAD – SINGAPURA

Orchard Road - Dilihat dari Takasimaya. Lihat perbandingan area bayangan pohon dengan sinar matahari
BUKIT BINTANG – MALAYSIA
Setidaknya dengan melihat deretan foto di atas anda dapat memahami bagaimana situasi dan kondisi yang tercipta. Kota Surabaya sudah melangkah maju. Peremajaan Trotoar yang dilakukan oleh Dinas PU Surabaya merupakan awal yang baik. Saya kira jalan masih panjang. Namun janganlah berputus asa. Konsepsikan “alasan orang berjalan kaki” dengan baik, padukan dengan kenyamanan di atas. Niscaya kita akan menciptakan kota pejalan kaki yang sukses.
Just another thought and opinion.
Erwin.
















yaaaa, moga-moga pemda DIY atau pemkotnya lah, paling tidak ,baca blognya Rw ini, biar bisa belajar sesuatu.
Sukses selalu !!
Thx tante. Cuma sekedar uneg-uneg. Mungkin ada yang mendengarkan. Someone.. somewhere…
agree with your point.having chance to be in both places Bukit Bintang and Orchard Road.i’ll may go to Surabaya in the future.hope it can transform to be a pedestrian friendly city.
Thx Mr Jon for stop by…
I just trying to put together plus factor..
Hope that someone with higher authority can make my dream come true. ;P
Thx.
Masalah besar timbul karena masalah yang sepele … oleh karena itu kita harus mengatasi masalah masalah yang kecil kalau tidak ingin masalah itu sendiri menjadi sangat rumit .
Setuju bapak Lurah..
Bila kita terbiasa membiarkan masalah kecil maka lama-kelamaan akan menjadi besar dan kompleks.
Semoga di kemudian hari kita semua dapat lebih baik lagi.
Salam.
Selamat pagi Mas Erwin,
Saya juga sudah lama prihatin dengan hilangnya budaya jalan kaki di Surabaya dan sekitar. Saya pun sempat begitu, sekarang taubat, sehingga kurang gerak. Bobot bada saya kelebihan 10 kg, salah satunya ya gak jalan kaki secara teratur.
Saya juga survei di Aloha, tempat tinggal saya. Ternyata, jarang ada orang yang jalan kaki meskipun di satu RT. Beli air galonan di sebelah rumah, sekitar 100 meter, pun pakai sepeda motor. Motor alias mesin sudah lama menggantikan KAKI.
Maka, menurut saya, walking habit ini yang perlu ditanamkan lagi, di samping bangun pedestrian. Kalau budaya jalan kaki tidak ada, pedestrian sebagus apa pun sia-sia. Salam damai.
Beli air mineral galonan pakai sepeda motor..
di lingkungan saya, doa lingkungan (satu RT) berangkat pakai sepeda motor..
Memang budaya kita yang sekarang berbeda…
tapi bagaimana ya cara yang tepat untuk memulai perubahan?
wah…,kebetulan aq lagi nyari bahan n literatur buat tugas lingkungan visualq…
makasih y…
semoga sukses selalu…
Terimakasih bila tulisan sederhana saya ini bisa berguna untuk anda. Sukses selalu.