Bula again
“Persahabatan bagai kepompong….”
Demikian suara anak-anak kecil di Bula bermain-main di hadapan saya.
Ya, saya ke Bula lagi. Another trip to isolate village.
Bagi yang belum mengikuti perjalanan saya yang lalu bisa terlebih dahulu membaca link ini.
Perjalanan kali ini saya tempuh non stop. Ketika berangkat, saya “hanya” membutuhkan waktu 29 jam untuk sampai ke Bula. Sebuah rekor baru.
Kronologisnya sebagai berikut :
Jam 07.00 pagi saya berangkat naik pesawat dari Surabaya.
Jam 11.00 saya sampai, perjalanan menuju pelabuhan liong selama kurang lebih 3 jam.
Jam 16.00 Kapal feri saya berangkat meninggalkan pulau Ambon menuju pelabuhan Kairatu di pulau Seram.
Jam 18.00 Tiba di Pelabuhan, diteruskan dengan naik mikrolet setempat menuju Masohi.
(Percaya atau tidak, merk mikroletnya HILUX!).
Jam 21.00 Kami tiba di Masohi. Kami makan malam sejenak, kemudian berangkat menuju pelabuhan Kobisonta untuk mencegat kapal menuju bula.
Kami tidak menggunakan mobil dari Masohi ke Bula seperti cerita saya terdahulu. Hal tersebut dikarenakan akses jalan terputus. Lumpur yang ada telah menjadi hambatan yang tidak dapat dilalui ketika musim hujan mencapai puncaknya. Satu-satunya jalan adalahmeneruskan perjalanan dengan menggunakan kapal laut.
Jam 09.00 pagi, Kami tiba di Pelabuhan Kobisonta. Kapal yang hendak kami tumpangi telah terlihat di kejauhan. Anehnya, meskipun telah terlihat, tapi kok kapalnya tidak sampai-sampai ya? Mungkin karena di laut. Kita bisa memandang sangat jauh tanpa hambatan. Jadi meskipun kapal tersebut masih jauh dapat terlihat oleh kita.
Jam 11.00 waktu setempat kita “boarding” ke kapal tersebut. Butuh waktu 4 jam untuk sampai ke pelabuhan sesar di Bula.
Jam 15.30 kita tiba di Pelabuhan Sesar di Bula. Kami istirahat sejenak. Kebelet pipis di kapal memang tidak enak. Jadi saya langsung mencari kamar kecil.
Jam 16.00 kita berangkat dengan ojek ke desa Bula.
Jam 17.00 sampailah saya di desa Bula tercinta….
(huaaahhh…..what a journey….)
Total perjalanan marathon tersebut adalah 29 jam. Dan sesampainya di tujuan saya langsung
“ngglethak”.
Yah, namanya saja kabupaten baru hasil pemekaran wilayah. Tentunya tidak semudah itu dalam membenahi infrastruktur terutama jalan. Kadang-kadang, ada saja orang “gila” yang nekad pergi ke sana. (Siapa yaaaa?)
Tujuan utama saya ke sana adalah untuk melakukan presentasi atas hasil pekerjaan yang saya lakukan. Namanya presentasi ya harus dilakukan secara langsung, tatap muka. istilah maduranya “face to face”.
Satu hal yang saya paling tidak tahan berada di sana adalah tidak adanya koneksi internet. Karena mobilitas saya, saya telah terbiasa dengan update informasi secara rutin. Saya harus tahu perkembangan situasi terakhir guna melakukan langkah-langkah antisipasi.
Pernah saya coba menggunakan GPRSnya SIMPATI. Terkadang bisa,tetapi sering ngadatnya.Kalaupun tersambung bisa lamaaaaaa sekali menunggunya. Untuk loading Gmail saja bisa menunggu hingga setengah jam!
Imbas lainnya adalah vakumnya blog saya selama satu minggu lebih. Saya yakin selagi saya mengetik artikel ini pasti telah banyak komentar yang menunggu saya. (Saya mengetik artikel ini selagi berada di Bula).
Berbahagialah kita yang tinggal di Indonesia Barat. Perkembangannya cukup pesat. Jauh berbeda dengan Indonesia Timur. Semoga untuk ke depannya Indonesia Timur juga bisa maju setara dengan Barat.
Salam.










wah asik bgt bisa travelling kemana2
Ada gak yg menarik di sana yg gak ada di sini ??? Atau karena perjalanan yg marathon bikin kamu gak bisa ngliat kiri kanan ya…..??? Ha ha ha ha…..
Pengalamanku kalo ke daerah macam gitu jangan ngomongin infrastruktur….. ya gak bakalan ada n cuma bikin stress…… Tapi kekayaan terutama alamnya seringkali membuat saya nyaman dengan diri saya sendiri menikmati alam tanpa perlu bingung dengan koneksi HP atau internet atau segala kemajuan teknologi. Tapi ya sementara aja ya…… Tetep harus balik ke dunia nyata kita yg gak bisa lepas dari HP dan internet he he he he…….
Halo semua.
(Remuknya badanku… hehe)
@jumai : memang kita harus bisa melihat segi positif di tengah-tengah pekerjaan. Enaknya travelling.
@carlos : Memang kok. Selama ini bila saya berpergian ke daerah selalu saya anggap tamasya dan berpetualang. Jadinya hati dan pikiran tidak terlalu terbeban. Hanya saja bila tuntutan pekerjaan sudah memuncak.. memang yang saya cari … adalah internet.
waahh…asiknya jalan-jalan terus euy…mbok ya sekali-kali ajak-ajak klo traveling hehehe… semakin banyak melihat, semakin “gila” heheehe
makasih akang udah mampir. moga-moga dengan saya berbagi kita sama-sama semakin banyak melihat. Sukses terus!
iya nih, udah terbiasa travel ke pelosok, masih aja ngeluh fasilitas…mana jiwa petualangnya bro..??