Belalang Tempur vs Hujan
Tik tik tik… bunyi hujan di atas genteng…
Demikian penggalan lagu anak-anak yang terkenal.
Sekarang ini Kota Surabaya sedang memasuki musim penghujan. Hujan seringkali datang tanpa diundang.
Bagi para petani, musim penghujan merupakan suatu berkah tersendiri. Sebuah karunia dari Tuhan. Bagi Dinas Pertamanan Kota Surabaya musim penghujan juga lumayan membantu biaya oprasional setiap harinya.
Bagaimana dengan saya? Bagi saya yang kesehariannya naik belalang tempur alias sepeda motor.. ?
Bisa dikatakan musim hujan sama dengan bencana. X(
Seringkali jadwal kelilingan saya terpaksa harus diatur kembali atau bahkan ditunda hanya dikarenakan turunnya hujan.
Team ahli saya yang seharusnya datang sore kemarin, tiba-tiba menelpon saya dan mengabari bahwa dia tidak bisa hadir karena sedang hujan. Rapat terpaksa saya batalkan, saya atur kembali waktu dan tempatnya.
Saya sendiri punya pengalaman lucu dalam musim hujan. Ketika itu saya sedang mengejar rapat. Sepeda motor saya pacu. Kebetulan jalur yang saya lewati merupakan kawasan yang benar-benar berbeda. Daerah rungkut menuju daerah pemkot (pusat kota).
Daerah rungkut tiba-tiba mendung. Awan yang menggantung tidak dapat menahan lagi berat airnya. Maka.. hujan pun turun dengan lebatnya!
Sepeda motor saya pacu sembari mengenakan jas hujan berwarna biru cerah. Tapi namanya jas hujan.. tetap ada celah bolongnya.. air hujan tetap masuk. Terutama pada bagian kerah hingga ke dada. Celana panjang pada bagian tumit hingga ke lutut juga jadi korban.
Setelah berlagak Valentino Rossi di tengah guyuran hujan sampailah saya di pemkot. Di sana, kering kerontang. Bahkan matahari pun bersinar dengan gagahnya!!!
Mata semua orang tertuju pada saya. Mereka melihat pemandangan tak lazim. Seorang konsultan seperti habis kecemplung sumur. Basah kuyup. Air pun masih menetes dari rambut saya. Sedangkan matahari bersinar dengan kencangnya di luar sana.
“Bapak habis dari mana?” tanya mereka. Saya kehabisan kata-kata untuk menjelaskan..
Ada satu lagi pengalaman yang berbeda. Ketika itu saya sedang berada di wilayah barat. Tepatnya di perumahan Citraland. Hujan turun dengan derasnya di daerah kota. Begitu derasnya dan lama sehingga terjadi banjir dan kemacetan dimana-mana. Saya sendiri tidak terkena hujan sama sekali, dan saya belum tahu jika pusat kota sedang “tenggelam”. Setelah semua urusan selesai, saya pun berjalan pulang mengarah ke Mayjend Sungkono. dan… BANJIRR…
Lucu ya.. ndak hujan kok banjir.. begitu pikir saya dengan lugunya.
Jadi saya tidak kebagian hujan, tapi basah kena banjir.. konyol.
Jika sudah terjadi banjir, maka multiplier effect yang terjadi biasanya adalah… macet. Bila kondisi sudah macet biasanya saya jalani saya. Wong macet, mau diapakan lagi. Cuma terkadang rada senewen bila berhadapan dengan mobil yang seenaknya tancap gas, airnya nyiprat kemana-mana. Shower gratis di tengah jalan bagi pengguna sepeda motor.
Yah begitulah.. jika naik belalang tempur dan terjadi hujan memang akan ada konsekuensinya. Tapi tetap nikmat kok. ada seninya. hehehe…










Jd inget jaman kuliah di Tenggilis….udah dikit banjir…….stl bbrp kali masuk kelas dgn celana n sepatu basah kena banjir, akhirnya kalo mau brkt kuliah udah turun ujan, saya lgs ganti cln 3/4 + sendal jepit, cln panjang n sepatu masuk tas ransel. Begitu smp kampus, cari toilet plg deket ama parkiran cuci kaki, ganti celana n pake sepatu……
hahahaha, jadi inget waktu saya sama anak saya , lagi lewat di-banjir2 tau2 dari kiri ada vespa butut melaju airnya kemana-mana termasuk kemuka saya, saya marah bgt, tapi kami terbahak-bahak ,trs saya kejar, saya pepet saya bilang semoga motormu mogok!, eh maju dikit dia mogok beneran….
Hahaha…..
Tante lucu bener pengalamannya..
Benar-benar tidak terlupakan.
Unforgetable..!