JOGJA!
JOGJA!

Stasiun Tugu - Jogjakarta
Bersamaan dengan datangnya liburan akhir tahun, saya memutuskan untuk beristirahat di kota Jogja. Kota yang terkenal dengan gudegnya ini saya datangi dengan naik kereta api.
Berbekal tas punggung, maka para backpackers pun tiba di stasiun kereta api Jogja. (Tampak depannya bagus yach!). Yang saya sukai, stasiun kereta api di Jogja mempunyai jarak pandang yang cukup. Sehingga bentuk bangunannya dapat kita nikmati karena jarak pandangnya pas.
Istilah arsitekturnya “D/H=2″. Distance dibagi Height haruslah 2. (yang ideal) . Bahasa sederhananya, sebuah bangunan dapat dinikmati dengan enak bila jarak pandangnya sejauh 2 kali tinggi bangunan. Dan stasiun Jogja mempunyai hal tersebut.
Sekitar jam 13.00 kami pun langsung berangkat dari Stasiun menuju Gereja Ganjuran di Bantul. Sekalian ziarah rohani. Namun apa yang terjadi? JOGJA PADAT!
Keluar dari stasiun saja kendaraan kami tidak bisa bergerak sama sekali! (Besoknya masuk koran Jawa Pos kalau Jogja macet total). Dengan penuh ketelatenan, dan kesabaran kendaraan kami berhasil menembus kemacetan dan langsung mengarah ke ring road selatan. Menuju Bantul.
Kami disarankan tidak mengambil akses jalan Parangtritis karena takut macet. Jadi kami berusaha menembus lewat jalan potong hingga tiba pada jalur Bantul. Begitu sampai di jalur tersebut maka kami pun lurus ke arah selatan menuju Ganjuran.
GEREJA GANJURAN – SEBUAH INKULTURASI UNIK
Gereja Ganjuran merupakan gereja yang terkenal di kawasan Bantul. Gereja ini mempunyai keunikan karena merupakan gereja yang mempunyai perpaduan budaya lokal dengan agama katolik.
Ketika bencana gempa menimpa Bantul-Jogja, gereja ini turut merasakannya. Bangunan utama gereja ambruk. Kerusakan besar terjadi di sana-sini. Untungnya, candi utama yang terletak di sisi belakang masih utuh.

Candi utama, terletak pada sisi belakang dari gereja

Renovasi Pendopo, tampak tukang sedang memasang keramik lantai

Inkulturasi. Tokoh-tokoh suci digambarkan ala wayang.

Rencana Renovasi Gereja

Re-Building the church
Sebuah hal yang menarik. Karena faktor budaya yang kuat, maka hasil inkulturasinya menjadi unik dan tidak ada duanya. Sebuah pengalaman bagi kita semua.
————————————————————————————–
Setelah selesai dari Ganjuran, kami pun bertolak dari tempat tersebut menuju tujuan lagi. Ada yang mengatakan bahwa di daerah bantul di sekitar area kerajinan kulit, ada yang menjual mi jawa enak. Namanya mbah Mo. Maka proses hunting pun dimulai.
Kendaraan kami berputar-putar hingga akhirnya menemukan lokasi yang dimaksud. Wisata religius dan arsitektural pada hari ini kelihatannya akan diakhiri dengan wisata kuliner. ;P
Ternyata Mbah Mo yang kami incar belum buka. Lha wong masing jam 16.00. Biasanya bukanya jam 17.00. Kemudian grup kita mencoba ‘merayu’ agar bisa dibuka lebih awal. Eh, ternyata boleh.
Waktu menunggu di Mbah Mo lebih lama dari pada depot kebanyakan. Mengapa? Masaknya satu persatu.. lalu masaknya menggunakan kompor arang. Jelas butuh waktu.
Kami pun mencoba pesan minum. Dasar anak muda. Carinya ES. Ternyata di warung Mbah Mo tidak ada minuman es sama sekali. Adanya Kopi hangat, Kopi jahe, Jahe hangat, jeruk jahe hangat. Semuanya hangat. Minuman sehat lagi….. Maka para kaum muda pun harus menahan keinginan ES-nya dan meneguk hangatnya minuman sehat dari Mbah Mo.
Tentunya rasa lapar dan letih tersebut hilang setelah merasakan enaknya mi jawa Mbah Mo. Kata Pak Bondan : “Mak Nyus!”. Mantap man! Tidak dapat dikatakan dengan kata-kata….

Depot Mbah Mo

Suasana di dalam depot

Nah.. ini dia, masaknya menggunakan tungku arang.

Ini Mi Kuahnya. Jangan tertipu penampilannya yang sederhana. Rasanya melebihi penampilannya

Ini Mi Gorengnya. Nyam..Nyam.. Maknyus.

Jeruk Nipis + Jahe (masih terlihat jahenya)
Setelah menikmati hidangan Mi, maka kamipun mengakhiri hari itu. Kami berangkat meninggalkan Bantul untuk kembali ke kota Jogja. Beristirahat. Tentunya tidak lupa jalan-jalan di Malioboro yang legendaris itu.
Well, that’s it for today….
Note : (Sempat terpikirkan di mana ya rumah Tante Kristi?
)










He he he he……
Gak tanya dulu ama orangnya….. Di daerah Pogung sebelahan ama kompleks UGM…….
Btw, UGM itu ternyata punya axis lurus dengan gunung Semeru lho.. Aku baru tahu.
Waktu itu berdiri di depan gerbang UGM, Backgroundnya Gunung Semeru!!!! Persis lurus, dibelakangnya!
Wow. Apik POOOOOL! (Sayang ndak sempat foto…)
Hampir sama dengan balai kota Surabaya kita, mengambil axis lurus ke gunung penanggungan.
(Tapi UGM lebih bagus lagi… hics..)
tyt gimana2 arsitek kalo jalan2 ya tetep aja wisata arsitektur he hehe
Kalo di teras lt 2 di rumah Jogja pas langit lagi bersih kita bisa ngliat gunung Merapi persis di belakang rumah….. Apalagi kalo pas malam hari bertepatan lelehan lavanya keluar……. Booooo….. Sip banget pemandangannya…… Mesti diliat lho…..
Lho.. Alo ke Jogja pas liburan kemarin?
aku jg.. kok ga ketemu ?
Iya wen. Ke Jogja. Wehehe. tahu gitu bisa ketemuan dong.
hai Mr.R, ya gitu itu ke jgj g kabar2, aq kan mo nitip madampie, hehehe, sebetulnya gunung Merapi tarikan garis lurusnya langsung ke Kraton, bahkan langsung ke singgasananya Sultan, tapi lewat UGM dulu dsbnya….kalau liburan atou longweekend aja, jogja udah puol, puadetdet. Terus ada juga tempat religi namanya gunung Sempu, tpi aq jg blom kesana, katanya bagus. maybe next time ya..
Thx advisenya..
Btw, jogja memang muuuacet banget.
yah, namanya liburan. =D
Wow saya tertarik mie-nya Mbah Mo. Imbuh setunggal!!!