Cagar Budaya, Sampah atau Heritage?
Kita semua sadar jika kota Surabaya mempunyai beberapa tempat yang dikategorikan sebagai cagar budaya. Cagar budaya adalah suatu tempat atau bangunan yang dipertahankan kondisi dan suasananya karena mengandung unsur sejarah. (Menurutku sih.)
Menurut Pak Hariwardono salah satu anggota dari Tim Cagar Budaya Surabaya, hal-hal yang menentukan masuknya sesuatu tempat atau bangunan ke dalam cagar budaya ditentukan berdasarkan nilai sejarah, nilai-nilai kepahlawanan, ketertataan umur lingkungan, keaslian dan kelangkaan serta landmark.
Sebagai gambarannya, hotel Oranje atau yang sekarang dikenal dengan Hotel Majapahit, dahulu di tempat tersebut terjadi peristiwa perobekan bendera belanda. Karena peristiwa bersejarah tersebut, maka hotel Majapahit dikategorikan ke dalam Cagar Budaya.
Contoh lainnya, rumah di kawasan Semut. Keaslian dan ketertataan lingkungan pecinan kuno sangat mendominasi di koridor jalan tersebut. Maka dapat dipastikan rumah-rumah tersebut masuk ke dalam kategori cagar budaya.
Tim Cagar Budaya Pemkot Surabaya mempunyai tugas untuk memantau dan melindungi aset-aset tersebut. Nilai nilai bersejarah identitas bangsa yang patut dilestarikan.
Sebagian orang memiliki pandangan berbeda. Namanya manusia tentunya tidak sama bukan? Bagi pemilik rumah atau situs yang dikategorikan sebagai cagar budaya, hal tersebut terkadang justru menjadi beban. Coba anda bayangkan, anda mempunyai “rumah bobrok” yang dikategorikan sebagai cagar budaya. “Rumah bobrok” anda tersebut berlokasi pada jantung kota yang pasti mempunyai nilai jual tinggi. Investor datang kepada anda dan menawarkan kepentingan mereka yang menarik bagi anda.
Pemikiran seperti demikian menyebabkan timbulnya alih fungsi. Sebagai contoh, timbulnya alih fungsi dalam rupa pembongkaran dan pembangunan cagar budaya. Diantaranya Stasiun Semut, RS Mardi Santoso, Toko Sarinah, PN Gas dan sejumlah bangunan di Jl. Kayun dan Jl. Pemuda Surabaya.
Salah seorang dosen Petra yang saya kenal dahulu lahir di RS Mardi Santoso. Ketika RS tersebut dialihfungsikan, beliau sempat kaget. Hal – hal demikian secara tidak langsung berdampak psikologis bagi beliau. Apa yang menjadi jujugan atau kenangan dalam memorinya pudar termakan pesatnya perkembangan kota.
Setelah paparan di atas, kita menemukan dua buah sudut pandang. Yang satu berorientasi kepada preservasi, dan yang lain berorientasi kepada pengembangan kota (tanpa mempedulikan nilai heritage).
Saya cuma mencoba berpikir jalan tengah dari masalah tersebut. Sebuah kota pasti akan berkembang. Sebuah kota ibarat baju yang kita gunakan. Pertama kali kita memakai baju baru, baju tersebut pas di badan kita. Seiring kita tumbuh baju tersebut mungkin tidak cukup lagi di badan kita. Baju tersebut tentunya harus kita permak. Kita perlebar, kita tambal agar sesuai dengan ukuran badan kita yang sekarang.
Singkat kata, perkembangan kota adalah sesuatu yang tidak dapat kita hindari.
Namun bagaimana agar perkembangan kota tersebut tidak “memakan” identitas kita sendiri? Ada beberapa ide. Pertama saya menuju ke akar permasalahan dahulu. Bagaimana cara agar pemilik cagar budaya dapat tetap menikmati nilai dari bangunannya? Bangunan tersebut tidak dapat dibongkar dan secara ekstrim didirikan tower setinggi 20 lantai bukan? Secara tidak langsung banyak cagar budaya yang beralih fungsi dikarenakan motivasi ini. —>Bisnis.
Pertama, dengan insentif. Pemkot Surabaya dapat memberikan keringanan dalam PBB, serta pemberian dana maintenance bangunan. Dengan demikian beban si pemilik menjadi berkurang. Dengan berkurangnya beban pemilik maka keinginan untuk menjual atau memodifikasi menjadi berkurang.
Kedua, cagar budaya adalah suatu wadah yang sangat potensial untuk dikembangkan dalam sektor pariwisata! Bila kita dapat mengolah dengan tepat maka pemilik justru akan mempertahankan keaslian dan keunikan bangunan cagar budaya tersebut. Pulau Penang di Malaysia merupakan contoh baik untuk pengembangan cagar budaya sebagai unggulan pariwisata. (akan saya bahas dalam tulisan lain).
Mungkin apa yang saya ungkapkan masih mentah, tapi setidaknya saya berharap dapat menjadi jembatan untuk masalah yang ada. Tentunya kita tidak ingin tumbuh menjadi bangsa tanpa identitas bukan? Masa kalah sama Jepang yang berkembang justru bersama-sama dengan budayanya?
Salam.

Gedung Pers Surabaya - Sumber : Pak Putu

Gedung Pojok, Jl. Tunjungan. Sumber : Pak Putu

Hotel Majapahit di masa lampau. Bendera yang terpasang masih bendera Belanda. Nampak ada jalur trem di Jalan Tunjungan. Sumber : Wikipedia

Hotel Majapahit di masa sekarang. Image courtesy : Pak Hubert

Tugu Pahlawan & Viaduk Kereta Api. Image courtesy : Pak Hubert
Tahukah anda?
Bahwa Belanda dahulu sudah memikirkan bahwa lintasan kereta api tidak boleh sebidang dengan jalan. Mereka membangun viaduk secara kontinyu. Viaduk Pahlawan, Viaduk Kertajaya. Sayang ketika viaduk Ngaglik sedang dibangun Jepang keburu datang dan Belanda menyerah. Jadi rencana overpass tersebut tidak dapat terselesaikan dengan baik. Sehingga viaduk Ngaglik tidak jadi diteruskan hingga ke Sidotopo. Sayang sekali.
Bagaimana dengan sekarang?
Beberapa sumber :
Foto-foto cagar budaya di Surabaya :
Pak Putu – Foto Bangunan Cagar Budaya
Budaya yang mempunyai potensi :
Hongky Zein – Bangunan Tionghoa Kuno Keluarga HAN di jalan Karet.
Hongky Zein – Bangunan Tionghoa Kuno Keluarga THE










Betul……cagar budaya n bisnis bisa berjalan bareng, misal di Shang Hai, ada daerah gak jauh dr Shang Hai Bund dulu tmp org2 asing tinggal dan mereka tinggal nya ngeblok, kalo org inggris ya 1 jl full cuman org inggris, bahkan kdg mendtgkan barang2 n pohon2 khas dr inggris, skr rumah2 itu ama pemerintah China di jadiin cagar budaya dimana org2 boleh tinggal n renovasi tp gak boleh merubah gaya n pondasi asli rumahnya, akhirnya malah daerah itu jd salah satu perumahan termahal di dunia.
@jumai :
Wow.. sebuah cerita yang unik dan menarik…
Thx for sharing with us.
Kalo aku, ya anda pasti tau sendirilah pendapatku gimana….. he he he he…….
hmmmmmm…
hmmmm…
mencoba membaca pikiran….
tut tut tut..
“pikiran yang anda tuju sedang sibuk..
Cobalah beberapa saat lagi…”
Haha.. aku coba membaca pikiran bung Carlos tapi nampaknya terlalu “tebal” untuk ditembus.
yang membuat jadi sampah ya cara pelestariaannya yang setengah2….
Kalo boleh jujur nih….rasanya rata2 kita mempertahankan cagar budaya tuh semata-mata karena supaya jangan diomongin jelek ama orang lain…..supaya dianggap tidak merusak….
Apa memang benar kita serius mempertahankan eksistensinya….?
rasa2nya pemerintah aja ga gitu deh…..
So..aku rasa itu cuma masalah keseriusan aja….
menurut pengalaman…..bbrp saat yg lalu ada teman masukin proposal untuk renovasi interior sebuah bangunan cagar budaya di jl cokelat….
hasilnya….Over budget….
memadukan cagar budaya dan komunitas modern emang mahal….karena semua pengerjaannya tidak hanya membutuhkan tenaga ahli bangunan saja….tapi juga seni…..bagaimana old n new bisa bersinergi…..
@Erwin: Ha ha ha ha……
Kalo baca tulisan di blogku ttg Museum pasti tau lah pendapatku ttg tulisanmu ini…….
Haha..
Saya juga ada pengalaman berhadapan langsung dengan tim cagar budaya. Mungkin akan saya ceritakan di artikel lain. Tapi secara prinsip memang niat dan itikad baik harus diutamakan.
salam mas erwin…. Saya Amed
Memang kadang – kadang bangunan tua yang tak terawat merusak pemandangan kota, dengan adanya pembangunan itu salah satu keuntungan bagi kaum civil engineering seperti saya “proyek lagi…” heheheh. Tapi bukan berarti aku setuju lo mas…. menurut saya bangunan yang usang dan tak terawat (cagar budaya) “kebanyakan terjadi di kota kita surabaya” tentunya butuh sentuhan tangan architec seperti Mas Erwin… Kalo sudah bagus kan jadi indah lagi dan tak harus dibongkar kan…! menurut saya sayang juga…. sic
Saya tergolong manusia yang hobi terhadap sesuatu berbau “jambi” jaman biyen, mulai motor yang saya gunakan sehari2, sepeda, semua itu dibuat sebelum saya lahir… apalagi bangunan tua,..!
jadi saya sangat menyayangkan kalo gedung – gedung lawas dibongkar….!
tapi itulah kondisi kota kita mau gimana lagi..!
salam mas erwin
Yg paling nelangsa itu liat Stasiun Semut yg tinggal puing2……sedih…
@Jumai: Padahal stasiun Semut adalah Stasiun yg pertama di Surabaya
Stasiun Semut juga dahulu merupakan satu satunya stasiun di Surabaya yang mempunyai pemutar lokomotif.
Lokomotif jaman dahulu tidak bisa bergerak mundur seperti sekarang ini. Karena itu di stasiun semut ada platform berbentuk lingkaran dengan satu strip rel melintang di tengahnya. Si lokomotif cukup masuk ke dalam lingkaran itu dan platform itu akan diputar 180 derajat. Jadi istilahnya putar balik utawa turn around. hehehe..
Tetapi ketika stasiun tersebut dibongkar, platform tersebut turut musnah…