Berpikir Konstruktif dan Solutif
Pekerjaan yang saya jalani setiap hari, selalu menuntut adanya tatap muka. Kebutuhan untuk melontarkan ide, permasalahan dan penyamaan persepsi sudah menjadi makanan sehari-hari bagi saya.
Rapat, merupakan salah satu perwujudan hal di atas dalam bentuk yang lebih resmi dan formal. Tentunya dengan diadakannya rapat, kita mengharapkan dapat menemukan sebuah titik temu dari berbagai pihak yang hadir.
Dalam sebuah forum rapat, tidak selalu mudah untuk menemukan solusi dari suatu problema. Tentunya setiap isi kepala adalah berbeda yang akan melahirkan pendapat yang berbeda.
Yang saya coba tekankan di sini adalah pola berpikir konstruktif dan solutif. Seringkali saya merasa sedih ketika menghadiri rapat entah itu rapat dinas, pemkot, rapat gereja, atau pun rapat lainnya. di dalam rapat tersebut, terkadang ada yang dengan mudahnya mencari kesalahan orang lain.
Saya kira sangat mudah mencari kesalahan pada orang lain. Saya juga seorang asisten dosen, jadi tahu benar cara mencari kesalahan dan itu sangat mudah. Yang saya sayangkan adalah tidak adanya pemikiran kelanjutan dari hasil ‘menyalahkan’ tersebut.
Saya sampai mempunyai prinsip untuk berkomentar di dalam suatu rapat. “Jangan pernah menyalahkan orang lain hingga anda sendiri mempunyai solusinya, meskipun hanya sebagian kecil.” Memang kelihatannya kolot.
Bandingkan kedua buah kata-kata ini :
“Wah, tidak bisa begitu pak. Berarti apa yang bapak sampaikan ini salah. Tidak sesuai dengan materi. Bagaimana ini pak? Kok bisa sampai begini ini kan keterlaluan? Kita jadi buang buang waktu saja.”
Bandingkan dengan ini,
“Bapak. Menurut saya, apa yang bapak sampaikan itu kurang tepat. Apakah tidak sebaiknya pembahasannya lebih diarahkan kepada topik utama? Sehingga bisa lebih fokus? Sayang waktu yang terbuang Pak.”
See? dua kalimat. Dua-duanya agak “pedas”. Namun kalimat pertama hanya menyalahkan. Kalimat kedua menyalahkan kemudian menawarkan arah/solusi yang jelas.
Seringkali rapat yang saya hadiri tidak berakhir dengan konklusi jelas. Ending menggantung dikarenakan ego manusia dan kurangnya berpikir konstruktif. Sangat disayangkan. Waktu saya sudah terbuang, kemudian nanti pasti akan ada rapat kelanjutan (membuang waktu lagi).
Satu hal lagi yang saya perhatikan, tipe-tipe orang konstruktif ini biasanya dimiliki oleh mereka yang berprofesi sebagai guru (meskipun bukan main job). Ada yang dosen UNESA, ada yang dosen ITS, ada yang staf pengajar kursus dsb. Setiap kali saya menghadiri rapat yang dihadiri dari salah satu dari mereka, rapat tersebut menjadi hidup dan lancar. Setiap kali terbentur masalah, kita diajak mereka “bermanuver” dengan solusi-solusi mereka yang lugas dan dinamis.
Menyalahkan tidaklah menyelesaikan masalah.
Masalah sebaiknya diselesaikan dengan melontarkan solusi.
Salam,
Erwin










yess.
Makasih Rarasati atas kunjungannya..
Senang kita sependapat.