Desain Sebuah Gereja dalam Komunitas Umat

2009 Maret 3

Barusan ini, saya menerima pertanyaan sebagai berikut:

Pak Erwin saya juga sementara dalam proses Desain gereja kami di Manado….. Tolong dong di bantu hal2 yang perlu diperhatikan dalam desain sebuah gereja… bagaimana mencoba mengkomunikasikan antara objek dengan jemaat???? dan bgm menangani keinginan jemaat yang begitu banyak????PUsiIIIng…..
TOLONG YAH…. GOD BLESS

Desain sebuah gereja berbeda dengan desain bangunan gedung publik. Pada cerita di atas, nampaknya terjadi kesulitan koordinasi antara bangunan gereja dengan umat melalui perantaraan arsitek.

Sebelum kita berjalan lebih jauh, saya akan mulai dengan konsep dahulu. Apakah yang kita bangun?

Bila jawaban anda adalah gereja, maka yang saya maksud adalah lebih dari itu. Saya mengarah kepada gereja dalam arti kesatuan umat Tuhan. Gereja dalam arti komunitas. Itulah yang kita coba bangun. Suatu kesatuan antar umat. Sangat disayangkan bila kita membangun gereja yang besar dan megah, tapi terjadi percekcokan selama masa pembangunan yang berujung pada perpecahan umat.

Sekarang masalahnya adalah, bagaimana seorang desainer berperan dalam menampung ’sejuta’ keinginan umat dan romo/pendeta? Bukankah semakin banyak umat yang ikut, semakin banyak pula variasi keinginan? Variasi tersebut juga berujung kepada kebingungan si arsitek dalam melakukan desain.

Satu hal yang saya alami, desain gereja pada hakikatnya adalah sebuah desain bersama. Oleh karena itu disarankan untuk membentuk sebuah tim/panitia khusus untuk ini. Ada dewan paroki (katolik)/majelis (kristen), ada tenaga ahli arsitektur, struktur & ME, dan yang paling penting adalah Romo/pendeta. Satu hal yang saya tekankan di sini dan ini penting, sebaiknya yang tergabung pada tim inti ini adalah mereka yang mengerti benar tentang teknis bangunan. Bila dewan paroki atau Majelis merasa tidak sanggup maka mereka berhak untuk menunjuk pihak lain guna mewakili mereka.

Mengapa demikian ?

Ranah desain arsitektur, struktur dan ME pada hakikatnya adalah spesialisasi. Untuk mencapai tujuan, disiplin ilmu yang berbeda ini akan berkerjasama, berkoordinasi dengan dukungan Romo/Pendeta dan Umat (diwakili oleh Dewan Paroki/ Majelis). Tentunya pihak-pihak tersebut harus mengerti dengan benar teknis bangunan . (kecuali Romo/pendeta, yang akan saya jelaskan di bawah nanti).

Dapat dibayangkan bila yang diajak diskusi tidak mengerti teknis, maka akan sulit mencari titik temunya bukan?. Kecenderungan yang terjadi malah debat kusir yang tidak menyelesaikan masalah.

Setelah pihak tim inti terdiri dari mereka yang berbackground teknis, maka kemudian diperlukan peran Romo/Pendeta.

Lho, mereka kan tidak mengerti teknis? Jadi apa gunanya?

Saya tidak bermaksud ke arah sana. Yang ingin saya sampaikan adalah, seringkali di dalam suatu rapat perencanaan gereja, tim ini mengalami kebuntuan. Entah berupa perdebatan, atau sama sama kebingungan menghadapi suatu masalah. Di sini, peran Romo/Pendeta begitu besar. Ia dapat melerai perdebatan, ia dapat memberikan masukan secara global (makro). Pada beberapa tahap desain, (seperti desain altar, podium kotbah dsb) justru romo dapat memberikan masukan yang banyak karena memang bidangnya.

Contoh kecil, Untuk desain Gereja Katolik saya baru menyadari bahwa  meja altar  harus berjarak 2m dari trap tangga terdekat. Mengapa? Karena pada Jumat Agung, ada prosesi dimana Romo diharuskan rebah menyembah salib di depan meja altar . Dan yang mengingatkan saya pada waktu itu adalah Romo itu sendiri. (Arsiteknya saja ndak nyadar. hics.)

Fungsi arsitek di dalam desain komunitas gereja pada intinya adalah sebagai pengayom. Bagaimana dengan metoda desain, desain bangunan itu sendiri, cara penyampaian, dan koordinasi dapat semakin mempererat umat. Semakin membuat mereka menjadi satu dan merasa memiliki.

Saya kira itu sekelumit pemikiran saya tentang desain gereja. Semoga berkenan di hati anda.

Salam. Erwin

7 Tanggapan leave one →
  1. 2009 Maret 5

    heheheee……
    artsitek emang harus serba tahu……
    apalagi gereja katholik tuh sarat dengan prosesi liturgi…..

    jadi ingat saat jadi putera altar pernah jatuhin lonceng kecil pas jemaat lagi hening….
    pas jum’at agung juga…..tempatnya ya di lokasi 2 meter depan altar tuh…..

    heheheeee……

    sharing sedikit…..
    beberapa saat yang lalu ada teman juga mengerjakan raung server…..ternyata ruang tersebut harus kedap api….bahkan standartnya…plafond gipsum harus 4 lapis gipsum tahan api…..bobotnya 54 kg/m2…..

    ga kebayang rangka gipsumnya yah…..?
    lom lagi standart sprinkler yang tidak boleh menggunakan air…..

    yah…..arsitek emang dituntut untuk tahu banyak hal…..

    sukses pak…..

  2. 2009 Maret 5

    Saya kira akan lebih mudah jika kita memahami hakikat dari gereja dulu sebagai persekutuan umat beriman….. Lalu teknis tata cara peribadatan misalnya bahwa pada hari Jum`at Agung ada saat Pastor harus tiarap sebagai tanda kerendahan…… dan lain2. Baru yg berikutnya sisi keindahannya…… Tapi tetap atmosphere persekutuan umat beriman menurutku harus paling kuat terasa. Makanya aku gak begitu suka design gereja jaman dulu yg menempatkan umat cuman kayak penonton aja….. :)

  3. 2009 Maret 5
    erwin4rch permalink

    @Bill : Thx Bill atas sharingnya. Lumayan berbobot nih. :) Sering sering ya..

    @Carlos : Setuju Pak Carlos. Seperti yang saya sampaikan di atas, yang terpenting dan yang terutama adalah Gereja dalam arti ‘umat’ yang harus diutamakan. Karena umat adalah ‘Jiwa’ dari sebuah Bangunan Gereja.

  4. 2009 Maret 13
    mr.nurdiana permalink

    saya ingin membuat gedung gereja di semarang dengan desain minimalis apa bisa bantu

  5. 2009 Maret 14
    erwin4rch permalink

    Hal Pak Nurdiana..
    Salam kenal…
    Mengenai gereja tentu jika masih dalam kapasitas saya pasti akan saya bantu.
    Untuk lebih detailnya bisa dikirimkan ke alamat email saya.
    aloy.zeus@gmail,com
    (untuk koma digantikan titik jadi gmail.com)
    Terima kasih.

  6. 2009 Maret 25

    aq skrang lgi skripsi tentang Gereja, yang harus diketahui dan pling utama kita tau tentang gereja apa aja ya pak?

  7. 2009 Maret 27
    erwin4rch permalink

    Maya, gereja adalah suatu karya arsitektur yang kaya akan simbol dan lambang. Setiap detail dan sudut bangunan dari sebuah gereja mempunyai suatu cerita.
    Bagi saya, itu adalah sesuatu yang sangat menarik.

    Selain itu, hal hal penting lainnya adalah :
    Tata cara ibadah –> ini harus benar2 dipahami terlebih dahulu.
    Konsep dan filosofi –> Sebuah bangunan gereja biasanya menggunakan konsep dan cerita.
    Estetika –> Sebagai elemen pelengkap dan terakhir.

    Semoga dapat membantu ya.
    Terus semangat!
    Sukses selalu.

Tinggalkan Balasan

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS