Arsitek & Perubahan Tingkah Laku
Perubahan Tingkah Laku.
Setelah menempuh pendidikan formal selama 4 tahun pada jurusan arsitektur beserta suka dukanya, saya secara tidak sadar mengalami ‘mind shift’.
Sesuatu yang dahulu bagi saya tidak menarik, justru menjadi sebuah obyek perhatian yang harus dieksplorasi. Bahkan terkadang menarik bagi saya, tapi justru aneh di mata orang lain.
Ada beberapa cerita lucu dan konyol yang saya ingat.
Pada waktu itu, saya sedang berjalan jalan di sebuah mall bersama teman-teman. Kami bercanda riang seperti layaknya anak muda pada masa itu. Berjalan bersama-sama berkelompok. Masa masa indah.
Hal lucu yang terjadi, adalah ketika kita makan bersama-sama di sebuah food court. Teman teman saya ramai dan gembira merasakan suasana foodcourt. Sementara itu apa yang saya lakukan? Saya melihat ke atas. Ya, saya melihat ke atas.
Apa yang saya lihat?
Konyolnya saya memperhatikan rangka atap baja eksposed yang tidak pernah saya perhatikan sebelumnya. Sesuatu yang dulu tidak pernah saya amati, sekarang justru menjadi sesuatu yang menarik. Padahal saya sudah berkali kali pergi ke mall itu. Tentunya teman teman saya tertawa, pergi ke mall hendak refreshing, kok malah lihat rangka baja di foodcourt. Konyol banget ya?. Saya hanya tertawa kecil sambil tersipu malu.
Pernah juga ketika berjalan bersama mantan pacar (sekarang sudah jadi istri). Ketika itu kita menuju ke sebuah mall baru di Surabaya. Sesampinya di sana, saya melihat bahwa tekstur dinding di salah satu mall itu menarik. Apa yang saya lakukan? Saya berjalan sambil menggeserkan tangan saya di dinding. Sembari berjalan, mata saya terpaku pada dinding itu seolah olah dinding itu adalah wanita tercantik di dunia.. Tentunya saya langsung dihentikan oleh ‘mantan pacar’ saya. Karena beberapa orang sudah mulai memperhatikan. Mereka terheran heran dengan tingkah laku seorang laki laki, berjalan sambil ‘mengelus-elus’ dinding dengan mata berbinar binar.. Apa orang ini gila?
Mind Shift terjadi pada arsitek baru secara alami. Arsitek baru, membutuhkan banyak informasi sebagai bahan dasar untuk melakukan proses desain. Dan untungnya, seorang arsitek bisa banyak belajar dari lingkungannya. Lingkungan adalah salah satu guru bagi arsitek. Kedalaman informasinya tak terhingga. Semua itu berpulang kembali kepada si arsitek, apakah ingin belajar atau tidak.
Anda butuh ingin melihat spaceframe secara langsung? datang saja ke Bandara, atau mall mall pada bagian foyer utama.
Anda ingin melihat lantai parket? Cobalah pergi ke cafe-cafe.
Anda ingin melihat beton garuk? Beberapa restoran sudah menggunakannya.
Lingkungan adalah guru anda. Manfaatkanlah keuntungan itu sebagai media pembelajaran informal. Selalu siapkan media ponsel berkamera. Anda tidak akan tahu kapan anda akan menemukan objek menarik.
Tapi berhati hatilah ketika mengamati, jangan sampai dipikir orang gila seperti saya.










Sama….. sebelas duabelas dengan saya. Bedanya kalo aku melakukan hal itu pas lagi ngliat makanan atau bahan2 makanan…….
@ bro Carlos: Asal pas ngliat makanan n bahannya ga sambil ngiler aja yah…..
ntra dikira laper……hahahaaa…..juss kidding…..
Ha haha… ^^
@Bill 99: Gak sih….. Yg kejadian selalu langsung mikir artikel baru atau mikir bikin kreasi resep masakan baru…….
yang pasti kita jadi lebih tanggap tentang arsitektur di sekitar kita, termasuk rumah sendiri
tul…..saat Honda ditanya apa yang paling penting dalam perkembangan perusahaannya…..
dia jawab….Inovasi…..
asal jgn digigit aja tuh materialnya …bisa dikira gila mas hahaha..
sama sih sy juga jd suka perhatiin detil2 arsitektur yg menarik hehe