selera owner vs arsitek. Sebuah dilema.

2009 April 6
by erwin4rch

Minimalis…
Dalam dunia arsitektur, kata minimalis berarti sebuah langgam atau style. Style tersebut secara garis besar menggunakan elemen sederhana, simple dan clean untuk mencapai elemen estetika yang baik.

Seringkali kata minimalis ini mengalami distorsi dalam dunia nyata. Hal hal yang saya alami, klien sering meminta desain minimalis, padahal sebetulnya bukan kata minimalis yang dia inginkan.

Klien pertama saya, setelah desain makro jadi dan selesai, ia menambahkan ornamen dan detail2 yang sangat jauh dari kesan minimalis. Hal ini membuat saya bertanya tanya.. Salah siapa?

Pernah juga saya mendesainkan rumah. Tipe minimalis. Ketika saya menawarkan desain railing pagar yang sederhana dan simple, hal tersebut ditolak dengan alasan terlalu sederhana dan tidak ada model. Bahkan saya sempat dicurigai ‘malas’ mendesain. Sehingga bentukan yang keluar ‘terlalu biasa’ menurut dia. Atau mungkin dia merasa sudah bayar, kok cuma outputnya cuma begini doang?

Pada tahap ini, saya mencoba berkontemplasi.. Sampai sejauh mana kekuatan seorang arsitek dalam menentukan sebuah desain? Memang yang tinggal di bangunan itu nanti bukan si arsiteknya, tetapi owner. Dan sah sah saja bila si owner menata menurut aliran ’semau gue’.. Lalu dimanakah unsur estetika dari si arsitek itu?

Sebuah rumah minimalis, dengan railing mbulet. Hilang sudah nilai keindahan keheningan yang hendak diciptakan..
Ketika ke lapangan saya memandang lama ke arah railing aneh tersebut.. Termenung. Mencoba bertanya kepadanya.

Saya, seorang arsitek yang hanya bisa mendesain railing yang “terlalu biasa..” nampaknya masih harus berkubang pengalaman lebih lama lagi…

12 Tanggapan leave one →
  1. 2009 April 8

    iya ya pak ..
    saya juga baru kpikiran,, sehebat2nya arsitek merancang segala sesuatunya, ttp aja yang meninggali bangunan itu bukan kita (except rumah kita sndiri). lalu .. bgmna caranya kita bisa mnyampaikan mksd design kita tnpa disalah artikan ama owner ya ??
    intinya, gmn caranya kita mengkolaborasikan 2 pemikiran tsb demi satu tujuan yg sama ? hehe

  2. 2009 April 9
    erwin4rch permalink

    halo.. salam kenal..
    Barusan saya juga mampir blog anda..
    Very nice.. Saya merasa nyaman di sana..

    Terus terang saja, mengenai permasalahan yang saya tulis.. saya juga belum menemukan solusi yang tepat..
    Saya rasa kunci nya di sudut pandang kita…
    namun kembali lagi…
    Saya masih meraba raba..

    Salam kenal dan thanks sudah mampir. ^^

  3. 2009 April 11

    Pelanggan adalah raja titik. Terserah dia lah maunya apa….. He he he he he kok skeptis gitu ya…..

  4. 2009 April 11

    wah .. blog saya sih blog sampah pak, segala macam ada . hehehe.

    tp btw senang juga berkenalan dg anda pak. itung2 menambah link dan bs tuker pengalaman , he.
    mohon bantuannya ya pak .. =)

  5. 2009 April 12
    erwin4rch permalink

    Mencoba menulis adalah suatu awal dari sukses. Banyak arsitek bagus tapi mereka tak bisa menuliskannya di atas kertas.
    Sukses slalu.. ^^

  6. 2009 April 12
    erwin4rch permalink

    Bagi saya tidak skeptis kok Pak Carlos.
    Justru di sini saya mendapat masukkan dari kacamata orang awam. Dan itu yang saya butuhkan.
    Seringkali bila saya sharing dengan sesama arsitek, jawaban yang saya dapatkan adalah itu itu saja… :(
    Padahal yang namanya klien kan banyak macam.. Hahaha..
    Salam.

  7. 2009 April 13

    Ternyata butuh kerendahan hati lho untuk mau mengikuti keinginan klien yg mungkin berbeda dengan konsep kita…… :)

  8. 2009 April 13

    Ikut nimbrung yah…..
    Sebelumnya….sorry Alo…Minimalis tuh baru style…lom bisa dikatakan langgam….
    Sebenarnya selera aneh pada klien itu juga seni tersendiri….

    Seni sebenarnya tidak harus bisa dinikmati semua orang….(aku sendiri paling heran lukisan2 surealis….koq ga bisa lihat bagusnya dimana…..heheheeee…….)

    tul kata bro Carlos….butuh kerendahan hati untuk menerimanya….toh itu kita gunakan untuk belajar seni ‘aliran lain’……..

  9. 2009 April 29
    kristi permalink

    ya memang, pelanggan adalah raja, KECUALI dia bayar dengan cek kosong, ya lain lagi ceritanya, kita carokan aja, mudah2an mr.R bakalan dapet pelanggan yang mau nurut advis anda ya….. peace man!!

  10. 2009 Mei 10
    willy permalink

    saya jg sempat ngalamin hal yg mirip sprt itu, pak….

    saya lulusan arsitek petra, tp,saya sempet jadi desainer interior khusus kamar mandi….

    waktu itu ada klien yg mintanya desain minimalis (pokoknya harus minimalis banget… katanya) tapi keramik yg rencananya mau dipake kental dgn ornamen klasik yunani… trus produk sanitairnya, wastafelnya agak2 berbau klasik, trus..

    udah dijelasin, tp tetep ngotot aja dgn pediriannya, jd bingung deh..

  11. 2009 Juli 15
    robi permalink

    salam arsitek
    salam kenal..

    dilematis sebagai seorang arsitek menjembatani antara client dan konseptual yang kita miliki.disitulah nilai chalenge nya, sebenarnya kita bisa mengarahkan pemikiran seseorang(client) kearah yang kita sebut “sesuai” dengan cara membuat berbagai alternatif dan menggiring client untuk dapat memilih seperti yang kita harapkan. ini mungkin yang saya katakan dengan “SINKRONISASI”.

  12. 2009 September 14
    Tresno Sukisno permalink

    Mengkomunikasikan style desain yang kita tawarkan kepada owner dengan penjelasan yang mudah dimengerti. Pengetahuan tentang style desain dari fihak owner lah yang mendatangkan konflik hasil desain, dan kwajiban seorang arsitek adalah memberikan pengertian kalo bisa sampai ngerti, jangan malah sang arsitek yang terpengaruh…
    salam

Tinggalkan Balasan

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS