Office oh opis….
Hari itu terik matahari memanggang muka bumi.
Panas di Kota Surabaya begitu menyengat menghilangkan semangat untuk bekerja.
Saya duduk di ruangan saya. Sendiri.
Saya perhatikan anak buah saya. Mereka enjoy mengerjakan gambar-gambar kerja.
Kerja memang seharusnya dinikmati. Begitu gumam saya dalam hati.
Pada kesempatan itu, saya teringat kembali impian saya dulu. Impian yang pertama, di awal dunia kerja.
Saya ingin punya kantor sendiri.
Saya sering membayangkan betapa nyamannya mempunyai tim sendiri. Sekelompok manusia-manusia seni yang berkumpul mencurahkan ide dalam kertas. Hitam putih dan Berwarna.
Saya juga membayangkan betapa mantapnya hati kita bila bisa berkata, “Apa nanti kita bertemu di kantor saya saja pak?”. Sementara pada waktu itu saya menggunakan rumah saya untuk menerima tamu, klien maupun supplier yang berkunjung. Kurang tepat menurut saya.
Saya juga membayangkan betapa menyenangkannya bisa mengundang tim-tim konsultan lain untuk datang dan rapat di kantor saya.
Pada waktu itu, hal tersebut hanyalah impian seorang bocah arsitek. Seorang arsitek yang lugu, mengandalkan kenekatannya sendiri untuk maju membabat hutan di depan matanya.
Prinsip saya pada waktu itu,
Bila kita tidak pernah melangkah menyeberangi sungai, kita tidak akan pernah tahu dalamnya sungai itu.
Waktu itu, saya sudah siap untuk tenggelam. Psikologis saya sudah siap. Untungnya Tuhan menghendaki lain. Saya berhasil menyeberangi sungai itu. Perjuangan yang tidak mudah. But still… it worth a lot!
Satu kelemahan saya pada waktu itu adalah :
saya menyeberang sungai seorang diri.
Tidak ada yang mengajari cara agar tidak tenggelam. Entah dengan bantuan batu pijakan, atau menaruh batang pohon. Tentunya cara seperti itu lebih memakan waktu dibandingkan dengan seseorang yang menyeberang dibantu dengan mentornya. Perjuangannya luar biasa beratnya.
Beberapa tahun setelah itu, saya teringat salah satu ucapan senior saya. “Win, ingat kesuksesan yang kamu lihat pada diri saya.. bukanlah instan. Sukses saya yang sekarang ini, adalah hasil keringat dan banting tulang di jaman dulu”. Demikian saya dinasehati olehnya.
Banyak arsitek muda terjebak keinginan instan untuk menjadi maju, terkenal dan kaya. Satu hal yang pasti, tanpa kerja keras, kita tidak akan mencapai apa-apa.
Sekarang saya sudah mempunyai kantor. Tapi impian saya sekarang ini sudah bukan kantor lagi. Saya mencoba menatap masa depan.
Mencoba menggali impian yang lebih dalam lagi..
Tanpa impian, manusia akan berjalan di tempat. Tidak ada yang memacu. Tidak ada motivasi lebih. Hidup menjadi hampa.
Pada akhirnya, manusia boleh merencanakan, tetapi Tuhan yang menentukan.










Terus berjalan my Bro…..
Heheheeee…..
Masih di belakang nih…..
Ngantornya masih di kamar tidur……
Seragam kerja masih pake kaos oblong dan celana kolor……
Bukannya banyak arsitek yang berkantor di rumah pak Erwin..? Seperti misalnya pak Jimmy Priatman (UK Petra), sampai sekarang kantornya juga masih gabung dengan rumah… (kalau saya tidak keliru..hehe…)
Andy :
Tidak menjadi masalah apabila kantor merangkap rumah Andy. Yang penting kantornya tetap representatif. Tidak seperti rumah saya dulu yang benar benar rumah…
Menerima klien dan supplier di ruang tamu rasanya kurang “Afdol”. ^^
Tapi memang hal tersebut murni pendapat saya pribadi kok.
Salam dan terima kasih sudah mampir.^^